Mahasiswi termuda Jatinangor itu dulu bercita-cita jadi dokter, nasib menghantarnya sekolah dinas Praja Muda.
Kata orang, hidup tak selamanya berbanding lurus atau linear dengan apa yang dicita-citakan. Kelak seseorang akan menjadi apa, hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya bisa berkelana, Tuhan jualah yang menentukan arahnya.
Begitu pula dengan jalan hidup yang dilalui Andi Reskyah Nurhidayah Abbas. Remaja putri kelahiran kota Watampone, 24 Juni 2006, sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Cita- cita pasangan Andi Abbas dan Hj. Nuraliah Ramly ini didukung dengan jurusan IPA waktu masih duduk di bangku SMA Alazhar Makassar yang ia selesaikan hanya dalam tempo dua tahun.
Gadis bersodiak Leo ini termasuk cerdas. Hampir semua nilai yang tertera dalam rapor semester akhir, hasilnya di atas rata-rata. Dari 15 mata pelajaran yang diuji, hanya tiga mata pelajaran yang nilainya 84 yakni Fisika, Biologi dan Bahasa Inggris. Selebihnya diatas angka 90. Bahkan bahasa Arab nilainya 97. Nyaris sempurna.
“Jatuh cinta” pada IPDN
Prestasi yang diperolehnya memudahkan bungsu dari empat bersaudara ini bisa mewujudkan mimpinya menjadi dokter. Namun apa lajur nasib membawanya ke IPDN. Pada kampus kepamongprajaan ini Reskyah merasa tertarik dan akhirnya jatuh cinta. Hal ini ia ungkapkan saat ditemui di Bandung belum lama ini sebelum memasuki kampus ipdn Karena waktunya padat, wawancara pun tak berlangsung lama.
Awalnya ia tidak pernah membayangkan suatu saat bisa kuliah di IPDN. Namun lantaran hasratnya begitu kuat pada nuansa baru, ia mencoba berselancar pada dunia maya (internet). Dari sini ia mendapat gambaran secara terang benderang betapa indahnya bila kuliah di IPDN. Hal yang membuatnya makin tertarik adalah out put dari kampus ini, masa depan terpampang sangat jelas tanpa harus bertarung dengan nasib.
Selain itu dorongan orangtua merupakan arah mata angin terpenting memasuki dunia pendidikan yang ditempuhnya saat ini. Reskiah sejatinya boleh dibilang masih belia dan belum matang untuk ukuran anak remaja pada umumnya. Penampilannya polos namun gaya bicaranya lugas. Tegas dalam menjelaskan sesuatu hal. Misalnya ketika ditanya tentang apa yang mendorongnya masuk IPDN. Dengan jujur, menyampaikan bahwa ada kepastian masa depan. Bila tamat tidak perlu mencari pekerjaan.
“Kalau masuk IPDN dan sudah menjadi praja pekerjaannya sudah jelas. Tidak perlu lamar pekerjaan lagi,” ungkapnya.
Setelah diterima di IPDN praktis membuat dirinya harus merelakan dunia remajanya tergerus oleh pendidikan yang sangat disiplin. Ia pun tak seperti remaja kebanyakan yang umumnya menikmatinya dengan hura-hura atau bersenang senang. Tentu hal yang positif. Masa remajanya terhempas di tempat yang sungguh amat menyenangkan.
Reskyah pun siap menyumbangkan kemampuan yang dimiliki untuk bangsa dan negara serta berjanji akan selalu menjaga reputasi almamater yang telah menerimanya untuk menimba ilmu.
“Kedepan saya ingin memberikan seluruh kemampuan saya untuk bangsa dan negara,” ujarnya.
Restu orangtua
Hasratnya untuk masuk IPDN ibarat virus yang sulit dikendalikan. Pendaftaran secara online dilakukan di saat kegiatan sekolah. Kesibukan di antara membagi waktu antara sekolah dan seleksi masuk IPDN dilakoni tanpa hambatan. Ia terus mengikuti semua fase dari titik awal pemberkasan administrasi, hingga tahapan akhir. Restu orangtua merupakan arah mata angin terpenting. Kini ia telah dinobatkan sebagai
Calon praja muda. Sebuah pencapaian yang tidak mudah.
Reskyah telah membuktikan sebuah perjuangan. Setidaknya bisa menginspirasi generasi berikutnya.






