Kampiunnews|Jakarta – Dua gol dari Ismaila Sarr dan Eddie Nketiah memaksa Liverpool menelan kekalahan pertama musim ini. Bertanding di Selhurst Park, Sabtu (27/9) malam, The Reds dipaksa menyerah 1-2 dari Crystal Palace.
Kedua gol Palace lahir dari situasi bola mati. Setelah tertinggal di babak pertama, Liverpool sempat menyamakan kedudukan lewat Federico Chiesa di menit-menit akhir. Namun, Eddie Nketiah memastikan kemenangan Palace dengan gol dramatis di menit ke-97 melalui skema lemparan jauh.
Kemenangan ini membuat skuad asuhan Oliver Glasner menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan di Premier League musim 2025/26.
Manajer Liverpool, Arne Slot, mengakui kelemahan timnya dalam menghadapi bola mati.
“Babak pertama sulit, mereka memang layak unggul. Kami beruntung hanya tertinggal satu gol. Babak kedua kami lebih baik, menyamakan kedudukan, tapi kembali kebobolan dari set piece,” ujar Slot kepada BBC Sport.
Slot menegaskan bahwa timnya harus segera memperbaiki pertahanan bola mati agar tetap bersaing di papan atas klasemen.
Gol Nketiah yang tercipta tujuh menit setelah waktu tambahan enam menit sempat memicu protes, namun Slot menolak menyalahkan wasit.
“Tidak ideal kebobolan di masa injury time tambahan. Tapi ada pergantian pemain, jadi tambahan waktu sedikit lebih lama wajar. Yang penting adalah memperbaiki cara bertahan di situasi seperti itu,” jelasnya.
Kekalahan ini menjadi peringatan bagi Liverpool. Sebelum laga melawan Palace, The Reds meraih lima kemenangan beruntun di liga serta tampil impresif di Liga Champions dan Carabao Cup.
Slot kini dituntut segera mengembalikan soliditas pertahanan agar Liverpool bisa bangkit di pertandingan selanjutnya.
Manchester United Terus Inkonsisten, Amorim di Bawah Tekanan
Manchester United kembali menelan hasil buruk setelah kalah 1-3 dari Brentford di Premier League akhir pekan lalu. Kekalahan ini memperpanjang tren negatif pasukan Ruben Amorim, yang belum juga mampu meraih dua kemenangan beruntun sejak ditunjuk sebagai pelatih pada November 2024.
Dalam 33 laga di bawah asuhan Amorim, United hanya mengoleksi sembilan kemenangan. Pola yang sama terus berulang: kemenangan impresif seperti saat melawan Chelsea pekan lalu, diikuti kekalahan menyakitkan di laga berikutnya. Formasi 3-4-3 yang diandalkan Amorim pun mulai dipertanyakan karena belum menghasilkan konsistensi yang diharapkan di Old Trafford.
Bertanding di Brentford Community Stadium, tuan rumah unggul cepat lewat dua gol Igor Thiago dalam 20 menit pertama. Benjamin Sesko sempat memperkecil ketertinggalan, namun kegagalan Bruno Fernandes mengeksekusi penalti dan gol Mathias Jensen di menit akhir memastikan kekalahan ke-17 bagi United di era Amorim.
Usai laga, Amorim tetap tenang meski tekanan dari suporter dan media semakin besar.
“Saya selalu nyaman dengan pekerjaan ini. Saya tidak khawatir karena itu bukan keputusan saya. Saya hanya melakukan yang terbaik selama saya di sini,” ujarnya kepada Daily Mail.
Pelatih asal Portugal itu menegaskan rasa percaya dirinya tidak berubah meski hasil belum memuaskan.
“Kami harus bermain lebih baik dan konsisten. Sepak bola penuh naik turun. Setelah menang, kami merasa punya momentum. Saat kalah, kami harus bangkit lagi,” ucapnya.
Amorim menyebut Manchester United masih dalam proses membangun kembali identitas tim. Dengan jadwal padat di depan mata, termasuk laga kandang melawan Sunderland, ia berharap satu kemenangan bisa menjadi pemicu kebangkitan.
Meski posisinya mulai terancam, manajemen United disebut belum mengambil keputusan drastis. Namun, tanpa perbaikan cepat, masa depan Amorim di Old Trafford bisa semakin sulit dipertahankan.






