Kampiunnews|Jakarta โ Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat. Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (PP Gekira), Charles Lumban Gaol, menyampaikan pandangannya terkait faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan Rupiah.
Menurut Charles, tekanan terhadap Rupiah tidak semata-mata disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi dalam negeri. Ia menilai terdapat tekanan eksternal yang tidak sejalan dengan arah kebijakan strategis pemerintah, khususnya dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
“Pelemahan Rupiah hari ini tidak bisa dilihat hanya sebagai angka semata. Ada indikasi tekanan dari pihak luar yang kurang nyaman dengan kebijakan Presiden yang pro-rakyat dan berorientasi pada kemandirian ekonomi,” ujar Charles disela-sela Retret PP Gekira di Cikoko, Bogor, Sabtu (6/6/2026).
Charles mengungkapkan sedikitnya terdapat tiga faktor yang berpotensi menjadi penyebab tekanan terhadap Rupiah.
- Tekanan Kebijakan, Bukan Fundamental Ekonomi
Menurut Charles, kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang relatif kuat. Inflasi tetap terkendali, cadangan devisa berada di atas USD140 miliar, serta pertumbuhan ekonomi masih mampu bertahan di atas 5 persen.
“Kalau Rupiah melemah, tidak berarti fundamental ekonomi kita lemah. Yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan tekanan eksternal terhadap berbagai kebijakan strategis pemerintah,” katanya.
Ia menilai sejumlah program seperti hilirisasi industri, subsidi energi, ketahanan pangan, serta penguatan industri nasional telah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara lain.
“Hilirisasi nikel, pengembangan industri pengolahan dalam negeri, dan pengurangan ekspor bahan mentah merupakan langkah yang selama ini mengurangi keuntungan pihak-pihak yang terbiasa menikmati sumber daya Indonesia tanpa nilai tambah,” jelasnya.
- Ujian Kemandirian Ekonomi Bangsa
Charles melihat pelemahan Rupiah sebagai ujian bagi konsistensi Indonesia dalam membangun kedaulatan ekonomi nasional.
Menurutnya, setiap kebijakan yang bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi, mulai dari hilirisasi, larangan ekspor bahan mentah, hingga penguatan UMKM, selalu menghadapi tantangan dan tekanan.
“Kalau kita mudah goyah karena tekanan pasar, berarti kita belum sepenuhnya merdeka secara ekonomi. Pemerintah harus tetap konsisten, tetapi juga mampu menjelaskan arah kebijakan secara baik kepada pelaku pasar dan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa komunikasi publik yang efektif sangat diperlukan untuk mencegah kepanikan yang dapat memperburuk sentimen pasar.
- Rakyat Jangan Jadi Korban Spekulasi
Charles mengingatkan agar kondisi pelemahan Rupiah tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan kepanikan atau melakukan spekulasi yang merugikan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak terganggu akibat fluktuasi nilai tukar.
“Yang terpenting adalah menjaga rakyat agar tidak menjadi korban kepanikan pasar. Negara harus hadir memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga dan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Charles optimistis Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai tekanan ekonomi global selama pemerintah tetap konsisten menjalankan agenda pembangunan nasional dan menjaga kepercayaan publik.
“Indonesia memiliki sumber daya, pasar yang besar, dan fondasi ekonomi yang cukup kuat. Dengan kepemimpinan yang konsisten serta dukungan masyarakat, tekanan terhadap Rupiah dapat dilalui dengan baik,” pungkasnya.






