
Kampiunnews | Jakarta – Prinsip hidup dalam bekerja mengandung filosofi. Ada pemaknaan yang tersirat di dalamnya. Prinsip yang kokoh mengantarkan seseorang pada singgasana kesuksesan. Tak akan pernah goyah sekalipun diterpa derasnya angin kehidupan.
Filosofi ini melekat erat dalam diri Orias Petrus Moedak. Pria kelahiran Kupang 26 Agustus 1967 ini seakan ditakdirkan untuk bekerja pada posisi yang berhubungan dengan uang. Dalam perjalanan kariernya jebolan FE Universitas Padjajaran Bandung ini dipercaya menjadi top leader di sejumlah BUMN. Mulai dari direktur keuangan hingga direktur utama. Mulai dari PT Pelindo, PT Bukit Asam, Wadirut PT Freeport Indonesia hingga Dirut PT Inalum (MIND ID).
Di temui di sebuah lokasi elit di ibukota Jakarta, Orias berbagi litani perjalanan hidupnya untuk crew kampiunnews. Orias merelakan waktunya untuk berbagi kendati dipepet waktu untuk kegiatan lain.
Mengupas kisi-kisi hidup tamatan SDK Donbosco 3 Kupang ini kita seperti mengoyak pasir. Tidak akan pernah habis. Menarik dan mengalir begitu saja. Setiap kata yang meluncur dari bibir pria berkulit sawo matang ini bertuah. Mengandung prinsip dan filosofi penuh makna. Tengok saja kata-kata berikut ini :
“Selama saya bekerja di posisi-posisi top management, ya saya itu melihat diri saya seperti Kura-kura di atas pagar. Tidak mungkin Kura-kura naik di atas pagar. Pasti ada yang tempatkan. Dan bagi saya itu Tuhan yang tempatkan,” ucapnya dengan mimik yang terukur seakan sedang ber kontemplasi dengan Tuhannya.
Pernyataan ini bukanlah sebuah hipotesis atau eksperimen belaka. Orias yang sempat mengenyam pendidikan SMA di Garut, Jawa Barat ini menyatakan pandangannya dengan ekspresi serius.
Karena itu ia tidak akan pernah mengeluh jika menghadapi masalah. Sesuai namanya Orias Petrus. Sosok yang dikisahkan dalam kitab suci. Prinsip hidup yang kuat dan tidak mudah goyah. seperti karang yang tetap kokoh dihantam ombak. Ia kemudian mengisahkan ketika akan diberhentikan dari jabatannya di sebuah perusahaan plat merah, ia merasa legowo. Legah. Tidak punya niat untuk berusaha untuk tidak diganti. “Jadi waktu saya mau diberhentikan itu saya legah. Tidak mau berusaha untuk tidak diganti. Biasa saja,” tandasnya.
Baca juga: Tak Ingin Disusupi Motif Politik, Bantuan Sumur Direm
Menurutnya ritme dalam bekerja harus tegas, keras dan pasti. Orias menganalogikan pekerjaan itu peris tukang parkir. Tukang parkir itu harus berteriak keras. Tapi dia harus jujur.
Hendaknya setiap orang memiliki karakter seperti tukang parkir. Tegas, keras dan jujur. Tiga pilar ini seperti batu tungku. Saling menopang menjaga keseimbangan.
Setiap orang pesan Orias, harus jujur seperti tukang parkir. “Kalau dia bilang kiri harus kiri. Dia bilang stop harus stop. Dia berteriak pukul mobil bisa. “Tapi benar yang dia atau situkang parkir omong,” jelasnya.
Selama ini lanjutnya masalah itu ada pada kejujuran. Padahal menurutnya kejuruan itu laksana mata uang yang berlaku di mana-mana. You kalau jujur you dipakai di mana-mana. Tapi kalau tidak dipakai karena you jujur itu tidak apa-apa,” pungkas Orias menyelinabkan pesan moral. Baginya kejujuran itu telah ditanamkan sejak kecil. Itu kuncinya.
Ia bergerak dalam lini masa sambil menjadikan para seniornya sebagai motivator. Deretan nama seperti Adrianus Moi, pak Nelu hingga Frans Seda adalah dedengkot di bidang keuangan. Mereka bisa bertahan di eranya karena dipercaya. “Jika tidak dipercaya itu problem. Kerja itu ibadah,” tutup Orias mengakhiri.
Waktu di luar sana terus berotasi. Senja yang masih bertahan di antara gedung pencakar langit di kota Jakarta seakan memberi pesan. Waktu telah habis. Pesan semesta ini mendesak Orias Petrus Moedak bergegas pergi bersama koleganya Fary Djemi Francis.
Mobil menderu. Meliuk mengaspal di jalanan yang disesaki kendaraan lain. Kemacetan kota Jakarta ternyata tak pernah berubah. Melegenda bersama kisah orang orang yang berjuang tanpa kenal kompromi. (Yos N &Frans W)






