Oleh : Hendrika LW
Kuliah kerja nyata di desa terpencil membuat sebagian mahasiswa ciut nyali. Bayangan malam tanpa listrik, tidak ada WiFi, jalanan makadam dan berlumpur. Ah, tapi tidak denganku. Gadis desa yang sejak kecil sudah terbiasa bermain di sawah.
Kami berlima beda fakultas. Aku, Rany, Febi, Viko dan Rahmi. Selasa siang itu tiba di desa Oebela, kabupaten Timor Tengah Selatan dengan kendaraan oto, semacam truk barang.
“Selamat datang di kampung kami.” Kepala desa menyambut hangat.
Kami tinggal di rumah pak Kornel, karena rumah pak Kades sedang dalam perbaikan. Kami mulai membiasakan tidur di ranjang dengan kasur tipis, yang sudah kecoklatan. Kondisi di rumah ini tentu bisa melatih rasa empati.
Keramahan dan kehangatan di sini membuat kami betah untuk tinggal lebih lama. Terlebih, dukungan warga pada setiap kegiatan, yang membuat kami lebih semangat.
Sekalipun untuk pergi ke desa lain, kami harus beradu dengan lumpur coklat dan licin.
Siang itu, di atas roda yang terbenam lumpur jalanan, pikiranku menerawang jauh ke kota. Aspal yang mulus, tapi masih di bongkar-bongkar pula, dengan alasan yang tak kumengerti. Serta pendar lampu-lampu yang bersaing dengan cahaya bulan. Sehingga kunang-kunang pun mengaku kalah, dan terhalau pergi, entah kemana.






