Kampiunnews|Jakarta – Peringatan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day yang jatuh setiap 8 Maret menjadi momentum global untuk merayakan pencapaian perempuan di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik, sekaligus memperkuat komitmen terhadap kesetaraan gender.
Memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2026, Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) menegaskan kembali pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan.
Kemajuan perempuan di Indonesia, menurut KKK, tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan perempuan di berbagai daerah yang sejak lama memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan, baik dalam pendidikan, kesempatan berusaha, maupun partisipasi di bidang politik.
Dalam rangka memperingati momentum tersebut, para Wakil Ketua Umum (Waketum) Perempuan Dewan Pimpinan Pusat KKK menggelar diskusi kecil pada Minggu (8/3/2026). Diskusi ini dihadiri antara lain oleh Nova Rumondor selaku Waketum Klaster Pancasila dan Advokasi Hukum, Lisa Malonda sebagai Waketum Klaster Pariwisata, Industri Kreatif dan Kepemudaan, serta Teichi Kolopita yang menjabat Waketum Klaster Kerohanian dan Pakakaan.
Wakil Ketua Umum KKK Klaster Kebudayaan dan Pemberdayaan Perempuan, Vonny Pangemanan, mengatakan organisasi tersebut juga tengah menyiapkan kegiatan khusus untuk memperingati jasa para tokoh perempuan Indonesia.
Menurutnya, KKK berencana menggelar kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Selain itu, kegiatan tersebut juga akan mengangkat sosok pahlawan perempuan asal Sulawesi Utara, Maria Walanda Maramis, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perjuangan pendidikan bagi perempuan Indonesia.
“Kami menghargai dan menghormati para pahlawan perempuan Indonesia yang telah memulai perjuangan bagi kesetaraan perempuan. Ke depan, perempuan Indonesia diharapkan semakin berperan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, dan politik, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional,” ujar Lana Togas, Waketum Klaster Hub International dan Humas KKK.
Sejalan dengan tema global Hari Perempuan Internasional tahun ini, yakni “Rights. Justice. Action. For All Women and Girls”, KKK juga berkomitmen untuk terus menyuarakan hak-hak perempuan melalui berbagai aksi nyata dan program berkelanjutan.
Ketua Umum KKK, Angelica Tengker menegaskan bahwa perjuangan untuk mewujudkan hak, keadilan, dan perlindungan bagi perempuan serta anak perempuan masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Utara.
Menurutnya, sejumlah isu penting yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain peningkatan akses pendampingan hukum bagi korban kekerasan, penguatan implementasi undang-undang terkait perlindungan perempuan seperti Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, serta penyediaan rumah aman bagi korban agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik.
Selain itu, KKK juga menyoroti pentingnya upaya memutus rantai perdagangan manusia (human trafficking) melalui peningkatan edukasi masyarakat, khususnya terkait modus penipuan pekerjaan di luar negeri yang kerap menyasar perempuan.
KKK menilai upaya pemberdayaan perempuan di Sulawesi Utara memerlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, organisasi sipil, serta tokoh agama. Tidak hanya sebatas melindungi, namun juga mendorong perempuan agar semakin berdaya dan memiliki kesempatan yang setara dalam berbagai aspek kehidupan.






