Kampiunnews|Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian menunjukkan manfaat nyata, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga dalam membantu kehidupan anak-anak dari keluarga rentan secara sosial dan ekonomi. Bagi banyak keluarga, khususnya dari kelompok menengah ke bawah, program ini menjadi penopang penting agar anak tetap mendapatkan asupan makanan sehat, teratur, dan layak di tengah tekanan biaya hidup yang masih dirasakan.
Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga rentan, kehadiran MBG bukan sekadar soal makanan di sekolah, melainkan juga soal kepastian bahwa mereka dapat belajar dalam kondisi yang lebih siap, sehat, dan fokus. Program ini turut mengurangi risiko anak datang ke sekolah dalam keadaan lapar atau tanpa sarapan, yang selama ini menjadi tantangan nyata di banyak rumah tangga.
Berdasarkan hasil riset Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) dan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), program MBG terbukti memberikan manfaat lebih luas daripada sekadar pemenuhan gizi. Selain membantu siswa mengakses makanan sehat secara rutin, program ini juga dinilai mampu meringankan beban ekonomi keluarga.
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menegaskan bahwa penerimaan masyarakat terhadap program ini sangat positif.
“MBG membantu meringankan beban ekonomi keluarga dan menghemat uang jajan anak. Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis untuk memastikan anak tetap mendapat makanan bergizi di sekolah,” ujarnya.
Riset yang dirilis pada Februari dan Maret 2026 itu juga memperlihatkan bahwa program ini menjawab persoalan dasar yang selama ini kerap dihadapi keluarga rentan. Hampir separuh siswa, yakni 48,5 persen, tercatat jarang atau bahkan tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan adanya MBG, 85,8 persen siswa dilaporkan selalu menghabiskan makanan yang disediakan.
Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menyebut dukungan terhadap program ini sangat kuat, terutama dari kelompok rumah tangga yang paling membutuhkan.
“Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan mendukung keberlanjutan MBG. Dukungan ini tidak hanya terkait penghematan biaya, tetapi juga memberikan rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka memperoleh gizi yang cukup selama berada di sekolah,” jelasnya.
Selain itu, riset juga menunjukkan adanya perubahan pola makan anak ke arah yang lebih sehat. Sebanyak 72 persen orang tua menyatakan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55 persen menyebut anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.
Dampak positif MBG juga dirasakan dalam aspek non-gizi. Anak-anak dinilai lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar, lebih siap menerima pelajaran, dan memiliki kondisi fisik serta mental yang lebih baik selama di sekolah. Hal ini menjadi penting, terutama bagi anak-anak dari keluarga rentan yang selama ini lebih berisiko menghadapi hambatan tumbuh kembang akibat keterbatasan akses pangan bergizi.
Dengan temuan tersebut, program MBG dinilai menjadi bukti nyata bahwa intervensi pemerintah dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus: memperkuat kualitas gizi anak dan mengurangi tekanan ekonomi keluarga. Lebih dari itu, MBG juga berperan dalam membangun kebiasaan makan sehat sejak dini sebagai fondasi bagi generasi yang lebih kuat, sehat, dan siap belajar.






