Kampiunnews|Jakarta – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan pentingnya manajemen risiko, adaptivitas, dan penguatan koordinasi dalam menghadapi dinamika global yang semakin penuh ketidakpastian.
Hal tersebut disampaikan Juda Agung saat menghadiri Townhall Meeting dan Halalbihalal Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) di Gedung Frans Seda, Jakarta, Selasa (31/3).
Dalam sambutannya, Juda mengapresiasi kinerja DJPPR sepanjang tahun 2025 yang dinilai berhasil menjaga kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap terpenuhi dengan biaya yang terukur dan efisien, meskipun tekanan global terus meningkat. Ia juga menyoroti capaian positif penerbitan berbagai instrumen pembiayaan, termasuk dim sum bond di Hong Kong serta obligasi euro, yang dinilai memperoleh hasil kompetitif di tengah kondisi pasar yang menantang.
Di sisi lain, Juda mengingatkan bahwa situasi global saat ini masih dibayangi oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi, termasuk akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berdampak langsung pada pasar keuangan global. Kondisi tersebut, menurutnya, tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Kita hidup di era yang penuh ketidakpastian dan risiko. Karena itu, kita tidak bisa diam. Kita harus memperkuat manajemen risiko dan menyiapkan pengambilan keputusan yang tepat di tengah situasi yang serba tidak pasti,” ujar Juda Agung.
Juda menjelaskan bahwa risiko dan ketidakpastian merupakan dua hal yang berbeda. Risiko masih dapat diukur dari sisi probabilitas, sedangkan ketidakpastian sering kali sulit diprediksi. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario kebijakan sebagai langkah antisipatif, termasuk terhadap potensi pergerakan harga minyak dunia dan implikasinya terhadap kondisi fiskal nasional.
Meski menghadapi tekanan eksternal, Juda menyampaikan bahwa defisit anggaran tetap diproyeksikan terjaga di bawah batas 3 persen. Namun demikian, ia menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menjaga ruang fiskal agar tetap sehat dan tidak melampaui batas aman.
Selain manajemen risiko, Juda juga menekankan pentingnya membangun organisasi yang adaptif dan lincah (agile). Menurutnya, baik individu maupun institusi harus mampu merespons perubahan secara cepat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar, terutama integritas.
“Fleksibilitas itu penting, selama tidak melanggar prinsip. Kita harus tetap adaptif terhadap perubahan kebijakan maupun dinamika lingkungan strategis,” katanya.
Dalam aspek kelembagaan, Juda mengingatkan pentingnya memperkuat koordinasi lintas unit agar tidak terjadi pola kerja yang terkotak-kotak (silo). Ia mendorong sinergi yang lebih kuat, baik di internal Kementerian Keuangan maupun dengan mitra eksternal seperti Bank Indonesia dan lembaga terkait lainnya.
Menurut Juda, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang selama ini telah terjalin dengan baik perlu terus diperkuat, terutama dalam mendukung pengelolaan pembiayaan negara dan penerbitan surat utang negara secara optimal.






