Kampiunnews | Jakarta – Fokus global kini mengarah pada transisi menuju pembangunan hijau yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alamnya, memiliki peran strategis dalam menggerakkan inisiatif ini.
Dalam forum Mandiri Institute Insight 2024, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Eka Fitra, menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk menyelaraskan implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance) global dengan kesiapan sektor keuangan dan bisnis domestik.
“Acara ini merupakan hasil kajian Mandiri Institute bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait adopsi ESG di sektor swasta Indonesia,” ujar Eka. Kerja sama ini, yang telah berlangsung selama tiga tahun, telah menghasilkan tiga kajian utama tentang keberlanjutan di Indonesia.
Direktur Pengembangan Bisnis BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menyebutkan bahwa BEI terus mendukung pengembangan aspek ESG di pasar modal Indonesia bersama OJK dan pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia, sejalan dengan tren keberlanjutan global. Sebagai bagian dari komitmen global menuju ekonomi hijau, Indonesia terus mempersiapkan diri menghadapi COP29 di Baku, Azerbaijan.
Target utamanya adalah mengurangi emisi karbon hingga nol pada tahun 2060 atau lebih cepat. Dalam upaya ini, sektor perbankan, termasuk Bank Mandiri, memainkan peran penting.
Bank Mandiri sendiri telah menyalurkan kredit sebesar Rp 285 triliun ke sektor berkelanjutan hingga kuartal III 2024, di mana Rp 142 triliun dialokasikan khusus untuk sektor hijau.
“ESG bukan hanya isu strategis, tetapi juga fondasi utama bagi keberlanjutan ekonomi,” jelas Eka. Diskusi ini juga menjadi momen peluncuran ESG Implementation Report 2024 hasil kerja sama Mandiri Institute dan BEI.
Laporan ini memberikan gambaran adopsi ESG di perusahaan tercatat maupun tidak tercatat, serta menyajikan temuan menarik seperti peningkatan adopsi ESG pada perusahaan Indonesia, di mana 64% perusahaan tercatat telah melakukan pengukuran emisi gas rumah kaca.
Hasil laporan juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga di ASEAN dalam penerbitan sustainable bonds. Namun, tantangan utama masih berkisar pada keterbatasan proyek hijau dan pemahaman terhadap instrumen pembiayaan keberlanjutan.
“Mayoritas perusahaan tercatat mengadopsi ESG untuk meningkatkan nilai perusahaan, sejalan dengan kebijakan pemerintah,” ujar Head of Mandiri Institute, Andre Simangunsong.
Strategi pasar karbon Indonesia dirancang bertahap, mencakup pasar karbon wajib, pasar karbon sukarela, dan penerapan pajak karbon mulai 2025. Langkah ini diharapkan mendukung integrasi sistem perdagangan emisi dan meningkatkan efektivitas pasar karbon.
Andre menekankan, “Laporan ini menjadi referensi penting bagi pemangku kepentingan untuk mempercepat implementasi ESG di Indonesia. Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan daya saingnya di pasar global dan mencapai target keberlanjutan yang telah ditetapkan.”
Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan implementasi ESG di Indonesia, perlu dilakukan kerja sama yang lebih luas antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai target keberlanjutan yang telah ditetapkan dan menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia.






