Kampiunnews|Makasar – Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di kawasan Teluk dan Timur Tengah yang berpotensi memicu gangguan rantai pasok pangan dunia, Pemerintah memastikan stok pangan nasional tetap aman dan terkendali.
Kepastian tersebut disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, bersama Wakil Direktur Utama Perum Bulog Marga Taufiq, Minggu (5/4).
Menteri Pertanian menegaskan bahwa stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini telah mencapai sekitar 4,5 juta ton, angka yang disebut sebagai tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
“Stok beras pemerintah sekarang kurang lebih 4,5 juta ton. Ini tertinggi selama republik ini berdiri. Jadi, tidak usah diragukan,” tegas Mentan Amran.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa ketahanan pangan nasional tetap terjaga, bahkan di tengah tekanan eksternal akibat gejolak geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Teluk yang dikhawatirkan berdampak pada stabilitas perdagangan, distribusi, energi, dan harga pangan dunia.
Mentan Amran menjelaskan, lonjakan stok beras nasional ini merupakan hasil nyata dari berbagai kebijakan strategis pemerintah yang secara konsisten diarahkan untuk memperkuat produksi dan mempercepat pencapaian swasembada pangan, khususnya komoditas beras.
Kebijakan tersebut antara lain:
- kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram,
- penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen,
- transformasi pertanian modern, serta
- penguatan berbagai intervensi produksi dan distribusi di sektor pangan.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, program prioritas utama Presiden terbukti mampu menaikkan produksi beras dalam waktu singkat, hanya dalam satu tahun,” ujarnya.
Menurut Amran, hasil dari kebijakan tersebut kini terlihat nyata di lapangan, baik dari sisi peningkatan produksi, penyerapan hasil panen petani, maupun penguatan cadangan beras pemerintah sebagai instrumen stabilisasi nasional.
Melimpahnya stok beras nasional saat ini bahkan telah melampaui kapasitas penyimpanan gudang yang tersedia. Karena itu, pemerintah melalui Bulog terus menambah kapasitas ruang simpan melalui skema sewa gudang tambahan.
“Gudang kita sudah penuh. Kapasitas gudang hanya 3 juta ton, sekarang sudah sewa 2 juta ton gudang. Ini akan kita tambah lagi ke depan,” kata Amran.
Ia memperkirakan, dalam 10 hingga 20 hari ke depan, stok beras nasional berpotensi menembus 5 juta ton, dan bahkan tidak menutup kemungkinan mencapai 6 juta ton dalam dua bulan mendatang, seiring penyerapan panen yang terus berlangsung di berbagai daerah.
“Pernah tidak dengar Republik Indonesia punya stok beras 5 juta ton? Jadi, tidak usah khawatir, pangan aman,” tegasnya.
Di tingkat daerah, peningkatan stok juga terlihat sangat signifikan, khususnya di Sulawesi Selatan sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Stok beras di provinsi tersebut saat ini disebut telah mencapai sekitar 761 ribu ton, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
“Di Sulawesi Selatan saja, dulu sekitar 300 ribu ton, hari ini 761 ribu ton, dua kali lipat,” jelas Amran.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penguatan produksi tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga tercermin nyata di daerah-daerah sentra pertanian.
Pemerintah Pastikan Pangan Nasional Tetap Aman
Mentan Amran menegaskan bahwa kondisi stok yang melimpah tersebut telah diverifikasi langsung melalui pengecekan lapangan secara menyeluruh. Ia memastikan, pemerintah tidak bekerja berdasarkan asumsi, melainkan pada data dan kondisi riil di lapangan.
“Kita harus cek langsung. Kita tidak boleh pura-pura. Kami lihat langsung truk masuk, kami lihat gudang sampai ke belakang, semuanya penuh,” ujarnya.
Ia bahkan mempersilakan publik untuk melakukan pengecekan langsung ke gudang-gudang Bulog di berbagai daerah sebagai bentuk transparansi pemerintah dalam memastikan kondisi pangan nasional.
“Yang tidak percaya, silakan cek gudang seluruh Indonesia,” tambahnya.
Lebih jauh, Amran menegaskan bahwa jika memperhitungkan stok cadangan pemerintah, persediaan di sektor hotel, restoran, dan kafe, serta potensi panen yang masih berlangsung, maka ketersediaan pangan nasional dipastikan aman untuk jangka panjang.
“Artinya, 11 bulan ke depan ini aman. Stok untuk rakyat Indonesia 11 bulan ke depan aman,” tandasnya.
Di tengah ancaman ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, gangguan logistik internasional, fluktuasi energi, hingga potensi tekanan inflasi pangan, capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa ketahanan pangan nasional kini berada pada fondasi yang jauh lebih kokoh.
Stok beras yang tinggi tidak hanya menjadi jaminan ketersediaan pangan, tetapi juga menjadi instrumen strategis negara dalam menjaga stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan ketahanan nasional.
Dengan demikian, di tengah gejolak perang Teluk dan ketidakpastian dunia, pemerintah menegaskan satu pesan penting kepada publik: pangan Indonesia aman, stok nasional kuat, dan negara hadir menjaga kebutuhan dasar rakyat.






