Kampiunnews|Jakarta – Roda perekonomian domestik mengawali tahun dengan catatan impresif yang didorong oleh kuatnya aktivitas domestik masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) resmi melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 berhasil tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Laju pertumbuhan yang positif ini utamanya dipicu oleh lonjakan aktivitas konsumsi masyarakat, realisasi investasi yang terjaga, serta realisasi stimulus fiskal pemerintah di awal tahun.
Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa indikator fundamental ekonomi Indonesia sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 masih berada dalam kondisi yang sangat kokoh. Sinergi antara belanja rumah tangga dan percepatan penyerapan anggaran belanja pemerintah menjadi pilar utama pertumbuhan tersebut.
“Fundamental ekonomi Indonesia sepanjang triwulan I, yakni Januari sampai dengan Maret 2026, itu masih terlihat solid,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Amalia memaparkan lebih detail bahwa konsumsi rumah tangga masih memegang peranan krusial sebagai jangkar utama penggerak PDB. Sektor ini menyumbang lebih dari separuh total perekonomian nasional jika ditinjau dari sisi pengeluaran.
“Konsumsi rumah tangga memang menopang lebih dari setengah ekonomi Indonesia yang tumbuh di triwulan I 2026,” imbuhnya.
Berdasarkan data rilis BPS, sektor konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh sebesar 5,52 persen. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai angka dominan sebesar 54,38 persen, serta memberikan andil sebesar 2,94 persen poin terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketahanan daya beli masyarakat yang solid ini dinilai tidak lepas dari momentum musiman. Mobilitas masyarakat yang meningkat tajam selama periode perayaan Ramadan dan libur Idul Fitri terbukti menjadi motor penggerak utama pasar domestik.
Amalia menambahkan bahwa geliat konsumsi yang bergairah tersebut tercermin langsung pada indikator makro lainnya. Peningkatan aktivitas terlihat nyata pada sektor perdagangan, jasa transportasi, industri restoran, okupansi hotel, hingga lonjakan nilai transaksi ekonomi digital sepanjang periode libur panjang awal tahun ini.






