Kampiunnews|Jakarta – Piala Dunia FIFA 2026 kembali menghadirkan kisah inspiratif. Kali ini datang dari Cape Verde, negara kepulauan kecil di Afrika Barat yang hanya dihuni sekitar 525 ribu jiwa, namun sukses melaju ke babak 32 besar dan akan menghadapi juara dunia, Argentina, pada 3 Juli 2026 di Miami.
Keberhasilan Cape Verde menjadi bukti bahwa prestasi sepak bola tidak selalu ditentukan oleh besarnya jumlah penduduk ataupun kekuatan ekonomi. Dengan populasi yang jauh lebih kecil dibanding banyak negara peserta, mereka justru mampu mencatat sejarah sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk paling sedikit yang berhasil menembus fase gugur Piala Dunia.
Perjalanan mereka di fase grup pun impresif. Cape Verde menahan imbang Spanyol 0-0, bermain 2-2 melawan Uruguay, kemudian kembali meraih hasil 0-0 saat menghadapi Arab Saudi. Catatan itu mengantarkan mereka finis sebagai runner-up Grup H dan berhak menghadapi Argentina di babak berikutnya.
Kesuksesan Cape Verde tidak lahir dalam semalam. Salah satu fondasi utamanya adalah konsistensi federasi dalam membangun tim.
Pelatih Pedro “Bubista” Brito, mantan kapten tim nasional yang lahir di Pulau Boa Vista, dipercaya menangani tim sejak Februari 2020 dan tetap dipertahankan hingga kini. Selama enam tahun, federasi tidak tergoda melakukan pergantian pelatih setiap kali hasil kurang memuaskan.
Kepercayaan tersebut membuahkan hasil. Bubista membawa Cape Verde mencapai perempat final Piala Afrika (AFCON) 2023, kemudian mengantar negaranya lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Stabilitas inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama Cape Verde.
Diaspora Menjadi Kekuatan, Bukan Perdebatan
Keberhasilan Cape Verde juga ditopang oleh pemanfaatan pemain diaspora.
Dari 26 pemain yang dibawa ke Piala Dunia 2026, sebanyak 14 pemain lahir di luar negeri, mulai dari Belanda, Portugal, Prancis, Amerika Serikat hingga Irlandia. Namun seluruhnya memiliki garis keturunan Cape Verde sehingga tetap memiliki ikatan budaya, bahasa, dan identitas yang sama.
Pelatih Bubista bahkan aktif mencari pemain keturunan di berbagai negara Eropa. Mereka menyebut komunitas diaspora sebagai “Pulau ke-11”, sebuah simbol bahwa warga Cape Verde di luar negeri tetap menjadi bagian dari pembangunan sepak bola nasional.
Yang menarik, kehadiran pemain diaspora tidak memunculkan perdebatan berkepanjangan. Mereka diterima sebagai bagian dari identitas nasional dan datang untuk memperkuat tim, bukan menggantikan pembinaan pemain lokal. Berbeda dengan di Indonesia.
Di atas kertas, Cape Verde bukan unggulan. Namun di lapangan mereka menunjukkan organisasi permainan yang disiplin, pertahanan yang solid, dan keberanian menghadapi lawan-lawan besar.
Belum terkalahkan di fase grup menjadi bukti bahwa kerja kolektif, disiplin taktik, dan mental bertanding mampu menutup keterbatasan yang dimiliki negara kecil tersebut.
Kini mereka bersiap menghadapi tantangan terbesar, yakni Argentina, salah satu kandidat kuat juara dunia.
Pelajaran untuk Indonesia
Keberhasilan Cape Verde tidak seharusnya dipandang sebagai bahan untuk merendahkan negara lain, melainkan menjadi cermin bagi sepak bola Indonesia.
Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa, basis suporter yang sangat besar, kompetisi profesional yang terus berkembang, serta dukungan pemerintah yang semakin kuat. Potensi tersebut jauh lebih besar dibanding Cape Verde.
Namun, potensi hanya akan menjadi angka apabila tidak diiringi dengan pembangunan yang konsisten. Pergantian kebijakan yang terlalu sering, pembinaan usia muda yang belum merata, kualitas kompetisi yang masih perlu ditingkatkan, hingga kesinambungan program pembinaan menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dibenahi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang menunjukkan perkembangan positif, termasuk keberhasilan menembus putaran ke empat pra kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Akan tetapi, untuk mampu bersaing secara konsisten di level dunia, dibutuhkan fondasi yang lebih kuat, mulai dari pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, penguatan kompetisi, hingga sistem pencarian talenta diaspora yang terintegrasi dengan pembinaan pemain lokal.
Cape Verde menunjukkan bahwa ukuran negara bukan penentu prestasi. Yang lebih menentukan adalah arah pembangunan, konsistensi menjalankan program, serta kemampuan menyatukan seluruh potensi yang dimiliki. Bukan gonta ganti pelatih menurut selera pengamat dan pengurus PSSI.
Belajar dari Cape Verde dan pengalaman bersama Shin Tae-yong, PSSI perlu memberikan kepercayaan penuh kepada pelatih John Herdman untuk membangun fondasi sepak bola Indonesia secara berkelanjutan. Membangun tim nasional tidak bisa dinilai hanya dari hasil satu atau dua pertandingan. Karena itu, pergantian pelatih sebaiknya didasarkan pada evaluasi yang objektif dan target jangka panjang, bukan semata-mata mengikuti tekanan opini publik atau preferensi pengamat maupun pengurus. Yang tidak kalah penting, pelatih harus diberi independensi dalam menjalankan program dan menentukan pilihan teknis, tanpa intervensi kepentingan politik maupun kelompok tertentu. Hanya dengan konsistensi, profesionalisme, dan kepercayaan terhadap proses, Indonesia dapat membangun tim nasional yang mampu bersaing di level dunia.
Apa pun hasil pertandingan melawan Argentina nanti, Cape Verde telah membuktikan bahwa mimpi besar dapat diwujudkan oleh negara kecil yang memiliki visi, kesabaran, dan identitas sepak bola yang jelas.






