Catatan Pojok Sepak Bola NTT.
Kampiunnews|Jakarta – Rivalitas klasik sepak bola Nusa Tenggara Timur kembali menemukan panggungnya. Perse Ende dan Persami Maumere akan berduel pada partai final Piala Gubernur NTT Liga Pelajar Soeratin Cup U-17 2026 di Stadion Gelora Samador, Maumere, Jumat (14/8/2026).
Final ini sejatinya menjadi momentum besar bagi sepak bola usia muda NTT. Dua tim yang memiliki sejarah panjang kembali bertemu dalam sebuah pertandingan yang seharusnya menjadi panggung pembuktian kualitas generasi muda.
Namun, di balik antusiasme menyambut laga puncak, penyelenggaraan Soeratin Cup U-17 2026 juga menyisakan catatan kelam yang tidak boleh diabaikan. Kontroversi keputusan wasit dalam salah satu pertandingan bahkan disebut menjadi pemicu keributan hingga aksi boikot dari Bintang Timur Atambua dan Biru Muda United (BMU) Alor.
Persoalan tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai kualitas kepemimpinan pertandingan, profesionalisme perangkat pertandingan, serta tanggung jawab Asprov PSSI NTT dalam memastikan kompetisi usia muda berlangsung secara adil, aman, dan bermartabat.
Pertemuan Perse Ende dan Persami Maumere bukan sekadar final biasa. Kedua tim kembali dipertemukan setelah 11 tahun sejak duel klasik mereka pada final El Tari Memorial Cup (ETMC) 2015 di stadion yang sama.
Kala itu, Persami Maumere berhasil menundukkan Perse Ende dengan skor 2-1 pada final 13 November 2015.
Kini, generasi baru kedua kesebelasan kembali berhadapan. Tidak ada lagi pemain dari final 2015 yang menjadi penentu di lapangan. Namun, rivalitas, gengsi, dan memori pertandingan masa lalu kembali menghidupkan atmosfer Gelora Samador.
Perse Ende datang dengan modal perjuangan keras. Laskar Kelimutu harus melewati drama adu penalti ketika menghadapi Citra Bakti Ngada di semifinal. Perse Ende akhirnya menang 6-5 melalui adu penalti dan memastikan tiket ke partai puncak.
Sementara Persami Maumere melangkah ke final dengan keuntungan bermain di hadapan publik sendiri. Dukungan suporter Maumere dipastikan menjadi energi tambahan bagi tuan rumah.
Catatan Kelam Jangan Sampai Terulang
Di tengah persiapan final, kontroversi pertandingan sebelumnya seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak, terutama penyelenggara dan Asprov PSSI NTT.
Sepak bola usia pelajar semestinya menjadi ruang pembinaan karakter, sportivitas dan pencarian talenta masa depan. Karena itu, kualitas pertandingan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain dan pelatih, tetapi juga oleh kualitas perangkat pertandingan serta profesionalisme penyelenggara.
Keputusan wasit yang kontroversial, apabila tidak ditangani secara terbuka dan profesional, berpotensi merusak kepercayaan terhadap kompetisi. Lebih jauh lagi, situasi tersebut dapat memicu emosi pemain, ofisial maupun suporter hingga berujung pada keributan.
Aksi boikot BMU Alor menjadi sinyal bahwa persoalan kepemimpinan pertandingan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Lalu, di mana tanggung jawab Asprov PSSI NTT?
Pertanyaan ini penting diajukan bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan sepak bola NTT.
Asprov PSSI NTT memiliki tanggung jawab untuk memastikan kompetisi yang berada dalam ekosistem sepak bola NTT berjalan sesuai regulasi, menjunjung prinsip fair play, serta memberikan perlindungan terhadap pemain-pemain muda yang sedang dibina.
Jika terjadi kontroversi serius yang berujung keributan, evaluasi terhadap perangkat pertandingan dan mekanisme pengawasan semestinya dilakukan secara terbuka. Jangan sampai kesalahan yang sama kembali terjadi dan justru merusak tujuan utama kompetisi pelajar.
Soeratin Cup bukan sekadar turnamen untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Kompetisi ini merupakan salah satu jalur penting dalam pembinaan sepak bola usia muda Indonesia.
Dari turnamen seperti inilah pemain-pemain muda NTT seharusnya mendapatkan pengalaman bertanding, belajar menerima keputusan, memahami sportivitas dan berkembang menjadi pesepak bola profesional.
Karena itu, final Perse Ende kontra Persami Maumere seharusnya menjadi kesempatan untuk mengembalikan marwah kompetisi.
Pertandingan boleh keras. Rivalitas boleh tinggi. Dukungan suporter boleh bergelora. Tetapi seluruhnya harus tetap berada dalam koridor fair play.
Persami memiliki keuntungan sebagai tuan rumah, sementara Perse Ende datang dengan semangat untuk menciptakan sejarah baru. Keduanya juga memiliki motivasi besar karena belum pernah merasakan gelar juara Soeratin Cup sejak turnamen tersebut mulai digelar pada 2015.
Sebelas tahun setelah pertemuan klasik mereka di ETMC 2015, dua kekuatan sepak bola Flores kembali berdiri di hadapan trofi yang sama-sama mereka dambakan.
Kali ini, bukan hanya trofi yang dipertaruhkan. Citra sepak bola pelajar NTT juga dipertaruhkan.
Masyarakat tentu berharap final berlangsung aman, sportif dan bebas dari kontroversi. Kepemimpinan wasit harus mampu menjadi penengah yang adil, sementara Asprov PSSI NTT dituntut memastikan seluruh perangkat pertandingan bekerja profesional dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, biarkan kualitas pemain yang menentukan pemenang.
Perse Ende atau Persami Maumere, siapa yang akan menjadi raja baru Soeratin Cup U-17 NTT 2026?
Yang pasti, siapa pun juaranya, sepak bola NTT membutuhkan lebih dari sekadar trofi. Sepak bola NTT membutuhkan kompetisi yang bersih, kepemimpinan pertandingan yang profesional dan sistem pembinaan yang mampu menjaga masa depan generasi mudanya.
Penulis: Jurnalis, mantan pemain Galatama dan pemain NTT, Koordinator NTT All Star, Pengurus APSUMSI (Asosiasi Pembina Sepak Bola Usia Muda Seluruh Indonesia)






