Kampiunnews|Jakarta – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang triwulan III-2026. Ketahanan ekonomi nasional dinilai masih solid di tengah meningkatnya tekanan global, didukung koordinasi kebijakan pemerintah dan otoritas sektor keuangan.
Hasil asesmen tersebut disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Meski kondisi global kembali diwarnai ketidakpastian pada Oktober 2026, perekonomian domestik dinilai mampu mempertahankan momentum pertumbuhan. Eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi dunia, serta kebijakan moneter negara-negara maju yang cenderung ketat menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan internasional.
Tekanan juga datang dari dalam negeri, menyusul pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham Indonesia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang turut mendorong peningkatan arus modal keluar dari pasar saham.
“KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK OJK, dan Ketua DK LPS akan terus mencermati dan melakukan asesmen yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan. Kami juga akan terus memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global,” ujar Suahasil.
Di tengah tantangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat dengan dukungan konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, dan kinerja ekspor. Pemerintah juga terus mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen peredam gejolak ekonomi melalui subsidi, kompensasi, bantuan sosial, stabilisasi harga pangan, serta program penciptaan lapangan kerja.
Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perkembangan positif. Penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan penjualan sepeda motor meningkat 15,4 persen. Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur naik dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.
Berdasarkan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kisaran 5,4–5,5 persen.
Untuk mempertahankan momentum tersebut, pemerintah memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia, serta kolaborasi pemerintah dengan Danantara melalui pendekatan two arms of the state guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi bernilai tambah tinggi.
Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan negara hingga akhir triwulan III-2026 mencapai Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp2.660,5 triliun, meningkat 19 persen secara tahunan.
Adapun realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp462 triliun atau tumbuh 0,4 persen secara tahunan. Pemerintah memastikan pengelolaan pembiayaan dilakukan secara prudent, terukur, dan tetap memperhatikan kecukupan likuiditas negara.
Pembiayaan investasi juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama pada sektor ketahanan pangan, pertanian, perumahan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.
KSSK menegaskan koordinasi antarlembaga akan terus diperkuat untuk mengantisipasi risiko eksternal, menjaga kepercayaan pasar, serta memastikan APBN tetap berfungsi sebagai instrumen stabilisasi dan pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan demikian, tantangan global tetap menjadi perhatian pemerintah, sementara penguatan permintaan domestik, investasi, dan belanja pembangunan diharapkan menjadi penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026.







