Kampiunnews|Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) membangun Laboratorium Sosial Sains Kepolisian di kompleks Akademi Kepolisian (Akpol), Lemdiklat Polri, Semarang, Jawa Tengah, sebagai pusat penelitian dan pengembangan model pemolisian yang adaptif, ilmiah, dan presisi.
Kehadiran laboratorium ini menjadi bagian dari langkah strategis Polri dalam memperkuat fondasi akademik, riset, serta pengembangan ilmu kepolisian guna menghasilkan kebijakan dan tindakan yang lebih tepat sasaran dalam menjawab tantangan keamanan dan ketertiban masyarakat yang terus berkembang.
Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo mengatakan, pembangunan Laboratorium Sosial Sains Kepolisian merupakan bentuk konkret transformasi Polri dalam merespons perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat, terutama akibat revolusi digital, dinamika geopolitik global, serta transformasi sosial yang semakin kompleks.
“Perubahan itu kini berlangsung dengan kecepatan dan kompleksitas yang tinggi. Oleh karena itu, Polri harus mampu mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga teruji melalui realitas sosial di lapangan,” ujar Wakapolri dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, Laboratorium Sosial Sains Kepolisian dirancang sebagai ruang integratif yang menjembatani kebutuhan antara teori akademik dan praktik kepolisian di lapangan. Melalui pendekatan berbasis data, analisis ilmiah, serta simulasi kondisi faktual, laboratorium ini akan menjadi pusat pengujian berbagai model pemolisian untuk menghasilkan kebijakan yang lebih presisi, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Keberadaan fasilitas ini juga diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) melalui pendekatan sosial yang lebih adaptif, prediktif, dan berbasis bukti atau evidence-based policing.
Dengan pendekatan tersebut, Polri tidak hanya menempatkan penegakan hukum sebagai instrumen utama, tetapi juga mendorong penguatan strategi pencegahan, pembacaan dinamika sosial, serta pemetaan persoalan masyarakat secara lebih komprehensif.
“Laboratorium ini tidak hanya menjadi ruang eksperimen, tetapi juga wahana pembelajaran untuk membentuk karakter personel Polri yang unggul, adaptif, serta berorientasi pada pelayanan masyarakat,” kata Dedi.
Lebih jauh, pembangunan laboratorium ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat profesionalitas institusi sekaligus mendorong pemuliaan profesi kepolisian melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan riset terapan.
Polri memandang bahwa tantangan tugas kepolisian ke depan tidak lagi cukup dijawab dengan pendekatan konvensional semata, melainkan membutuhkan dukungan kajian ilmiah, pemanfaatan data, serta model kebijakan yang dapat diuji secara akademik sebelum diterapkan di lapangan.
Karena itu, Laboratorium Sosial Sains Kepolisian diharapkan menjadi pusat inovasi strategis yang mampu melahirkan gagasan, metode, dan formulasi kebijakan baru yang relevan dengan perkembangan masyarakat modern.
Dengan memperkuat fondasi akademik dan budaya riset di lingkungan kepolisian, Polri menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan praktik kepolisian yang semakin ilmiah, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Kehadiran Laboratorium Sosial Sains Kepolisian ini sekaligus menandai langkah maju Polri dalam membangun model pemolisian masa depan yang tidak hanya responsif terhadap tantangan keamanan, tetapi juga mampu memahami perubahan sosial masyarakat secara lebih mendalam dan terukur.






