Kampiunnews|Jakarta – Upaya pelestarian kebaya di tingkat nasional menunjukkan hasil signifikan setelah perjalanan panjang sejak pembentukan Tim Nasional Kebaya pada tahun 2022. Tim ini dibentuk berdasarkan rekomendasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan dipimpin oleh Ketua Tim Nasional Kebaya yang juga Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro. Sejak awal, Lana aktif menggandeng berbagai organisasi serta komunitas perempuan untuk melakukan audiensi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan kementerian terkait lainnya.
Berbagai kegiatan nasional dan internasional turut memperkuat gerakan pelestarian kebaya, mulai dari Parade Kebaya Nusantara di sejumlah daerah, kegiatan berkebaya saat Car Free Day, peragaan busana kebaya, hingga diskusi publik yang membahas sejarah dan filosofi kebaya.
Puncak perjuangan komunitas pecinta kebaya terjadi pada Sidang ke-19 Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO di Asunción, Paraguay, pada Rabu (4/12/2024). Pada forum tersebut, kebaya resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pemerintah Indonesia kemudian menerima salinan sertifikat resmi dari UNESCO.
Penyerahan salinan sertifikat kepada pemerintah dilakukan pada Selasa (2/12) di Museum Nasional Indonesia oleh Kementerian Luar Negeri kepada Kementerian Kebudayaan. Selanjutnya, melalui Direktur Diplomasi Kebudayaan, sertifikat tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah serta komunitas pengusul.
Ketua Tim Nasional Kebaya, Lana T. Koentjoro, menegaskan bahwa pengakuan UNESCO merupakan hasil kerja kolektif seluruh komunitas dan pemangku kepentingan yang konsisten memperjuangkan pelestarian kebaya.
“Semangat perjuangan komunitas pengusul membuahkan hasil yang baik. Kami berharap sinergi ini terus menguat di semua lini agar upaya pelestarian kebaya dapat berkelanjutan,” ujar Lana.
Ia menambahkan bahwa penetapan UNESCO bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan kebaya terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Lana menerima salinan sertifikat bersama Miranti Serad Ginanjar, chief editor buku “Kebaya: Keanggunan yang Diwariskan”. Buku tersebut dinilai sebagai sarana penting dalam memperkenalkan kebaya sebagai living heritage di tingkat global dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
“Akses pembaca global akan membuka peluang kolaborasi bagi desainer, perajin kebaya, dan pelaku UMKM,” tambahnya.
Tim Nasional Kebaya Indonesia juga didukung oleh para pembina seperti Putri Kus Wisnu Wardani, Lestari Moerdijat, dan Kartini Sjahrir. Tim ini beranggotakan berbagai komunitas, antara lain Perempuan Indonesia Maju, Pertiwi Indonesia, Pencinta Sanggul Nusantara, Citra Kartini Indonesia, Himpunan Ratna Busana Surakarta, Warisan Budaya Indonesia, Perempuan Berkebaya Indonesia, Kebaya Foundation, Sekar Ayu Jiwanta, Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya, Cinta Budaya Nusantara, dan Rampak Sarinah.
Pada kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan RI juga menerima sertifikat UNESCO untuk tiga elemen budaya Indonesia: Kebaya, Kolintang, dan Reog Ponorogo. Penetapan ini merupakan hasil Sidang ke-19 ICH UNESCO yang berlangsung pada 3–5 Desember 2024.
Kebaya tercatat dalam daftar Representative List melalui nominasi multinasional bersama Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, menyampaikan bahwa pengakuan UNESCO merupakan amanah besar bagi seluruh bangsa.
“Penetapan UNESCO ini adalah pengakuan dunia yang menggembirakan, membangkitkan semangat, dan menguatkan komitmen kita agar warisan budaya Indonesia terus hidup, tumbuh, dan memberi makna bagi masyarakat,” ujarnya.






