Kampiunnews I Atambua – Kepedulian yang tinggi pada bidang olahraga mendorong Serena Cosgrova Francis mendukung Belu Sport Foundation (BSF) Kabupaten Belu dalam mensukseskan turnamen Rugby Kursi Roda antara negara dari kelompok penyandang diasabilitas.
BSF Kabupaten Belu saat ini sedang giat melibatkan penyandang disabilitas yang berada di masyarakat dan penyandang disabilitas di Panti Asuhan Hidup Baru yang dalam bimbingan lembaga agama susteran katolik Atambua.
Sebagai langkah awal dalam persiapan ini Serena mengucurkan sedikit bantuan agar BSF Belu bisa mengirim tim dalam turnamen kursi roda diasbilitas antar negara Piala Timor Cup yang gakan berlangsung di Timor Leste. “Sebagai dukungan konkret kami sediakan sedikit kontribusi,” ujar Serena kepada media ini.
Bangga sekali bisa bertemu dengan tim Wheelchair Rugby Indonesia yang akan berangkat mengikuti kejuaraan Internasional di Timor Leste. Saya sebagai Manager Bintang Timur Atambua mengambil bagian dan mendukung penuh tim Wheelchair Rugby Indonesia sebagai aksi nyata kepedulian saya terhadap bidang olahraga terutama bagi para penyandang disabilitas. Satu hal yang saya pelajari hari ini yaitu tidak ada kata menyerah untuk melawan sebuah keterbatasan. Selamat berjuang tim Wheelchair Rugby Indonesia. Terus banggakan Indonesia, ujar Serena saat melepas keberangkatan tim BSF Belu menuju Republik Demokratik Timor-Leste.
Dengan latihan rutin, tim rugby kursi roda disabilitas Kabupaten Belu telah mewakili Indonesia dalam turnamen antar negara yang akan diselenggarakan di Dilli, Timor Leste pada bulan Mei tahun 2021 dan menjadi pemegang piala bergilir Timor Cup dan mempertahankan piala tersebut dalam “Turnamen Timor Cup II” di Atambua November 2022 di Atambua.
Untuk tahun 2023 akan dilaksanakan turnamen Rugby Kursi Roda yang melibatkan 6 (enam) tim dari 3 (tiga) negara yaitu Australia, Indonesia, dan Timor Leste.

Turnamen akan digelar tanggal 05-08 Oktober 2023 di gelanggang olah raga Sint. Don Bosco Comoro, Dilli-Timor Leste. Dikuti Indonesia, Australia dan Timor Leste.
Serena berharap dengan kegiatan di luar negeri, para penyandang disabilitas berkesempatan melihat “dunia luar” agar mendapat kesempatan yang sama dengan kelompok normal lainnya.
Sebab dengan kondisi serba terbatas (fisik tak lengkap dan ekonomi pas-pasan bahkan sulit), kesempatan untuk mewakili Indonesia di ajang internasional adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Kegiatan di Timor Leste sekaligus juga menjadi kesempatan langka nan berharga bagi penyandang disabilitas bertemu dengan kelompok yang sama dari berbagai belahan dunia.
Terkait tim yang sedang mempersiapkan diri adalah para pemain semuanya berasal dari kabupaten Belu terdiri dari laki-laki dan perempuan sebanyak 12 orang dengan kondisi disabilitas fisik kaki dengan kisaran usia dari 20 sampai 40 tahun.
Beberapa pemain yang dipersiapkan untuk turnamen ini antara lain Melfiana Oki, Filomeno Da C. Cortereal, Aloysius Berek, Bonaventura Bone, Ignasius Manek Berek, Lusianus Halek, Maria Lidyana Bere, Wati Yuliana Atte, Imanuel Rehen.
Dalam keseharian anggota tim saat ini sibuk dengan mata pencahariannya di bidang swasta dengan pendapatan harian yang tergolong kecil. “Mereka yang tergabung dalam olahraga ini semata-mata karena minat dan hobi karena itu perlu mendapatkan perhatian dan dukungan,” tegas Serena.
Serena dengan dikenal sebagai penggiat sepak bola asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Belum lama ini, Serena baru saja sukses membawa klub Bintang Timur Atambua ke partai final kualifikasi Liga 3 ETMC Rote.






