Kampiunnews | Vatikan – Dunia kembali berselimut duka. Sosok besar yang selama ini menjadi simbol perdamaian dan toleransi lintas agama, Paus Fransiskus, telah berpulang. Kabar wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini menggema hingga ke seluruh penjuru dunia, meninggalkan jejak haru di hati banyak orang, termasuk Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.
Kabar wafatnya sosok yang menjadi simbol perdamaian dan toleransi lintas agama disampaikan oleh Kardinal Kevin Farrell pada Senin (21/4/2025) pukul 09.45 waktu setempat, yang mengonfirmasi bahwa Paus meninggal di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan.
Kardinal Farrell menyatakan bahwa hidup Paus Fransiskus didedikasikan untuk melayani Tuhan dan Gereja, serta mengajarkan nilai-nilai Injil dengan kasih universal.
Paus Fransiskus, yang lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio, telah menghadapi berbagai masalah kesehatan sepanjang hidupnya.
Pada tahun 1957, ia menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru akibat infeksi parah.
Beliau juga mengalami gangguan kesehatan seperti influenza dan pneumonia, yang menyebabkan pembatalan kunjungan ke Uni Emirat Arab pada November 2023.
Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan dekat dengan umat, serta tegas dalam memperjuangkan keadilan sosial dan perlindungan lingkungan.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik dan masyarakat global yang mengaguminya sebagai pemimpin spiritual yang penuh kasih dan welas asih.
Banyak tokoh dunia, termasuk pemimpin agama dari berbagai latar belakang, mengenang kontribusinya dalam mempromosikan perdamaian lintas agama.
Proses Pemilihan Paus Baru
Sidang konklaf untuk memilih paus baru setelah wafatnya Paus Fransiskus diharapkan akan berlangsung dalam waktu 15 hingga 20 hari setelah kepergiannya. Tanggal pasti akan ditentukan oleh College of Cardinals.
Setelah wafatnya Paus Fransiskus, periode berkabung selama sembilan hari akan dimulai, di mana berbagai upacara dan ritual akan dilaksanakan.
Pada sidang konklaf, hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang berhak memberikan suara. Saat ini, terdapat sekitar 135 kardinal yang memenuhi syarat untuk memilih.
Konklaf akan berlangsung di Kapel Sistina, di mana kardinal akan terisolasi dari dunia luar dan melakukan pemungutan suara secara rahasia.
Pemungutan suara dilakukan hingga seorang kandidat mendapatkan dua pertiga suara. Jika tidak ada kandidat yang terpilih, kertas suara akan dibakar dan menghasilkan asap hitam. Jika seorang paus terpilih, asap putih akan muncul sebagai penanda.
Setelah pemilihan, kardinal senior akan mengumumkan hasilnya dengan kata-kata: “Habemus Papam” dan memperkenalkan paus baru kepada publik.
Paus baru akan muncul di balkon St. Peter’s Square, di mana ia akan menyampaikan pesan pertamanya kepada umat.
Konklaf sebelumnya sering kali berlangsung selama beberapa hari, seperti pemilihan terakhir Paus Fransiskus yang hanya memakan waktu sedikit lebih dari 24 jam. Namun, dalam sejarah, pernah ada konklaf yang berlangsung selama berbulan–bulan, menunjukkan betapa kompleksnya proses pemilihan ini.






