Kampiunnews | Jakarta – Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, meninggal dunia pada Senin, 21 April 2025 dalam usia 88 tahun. Paus ke-266 dalam sejarah Gereja Katolik ini sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat pneumonia yang dideritanya.
Vatikan telah mengumumkan bahwa prosesi pemakaman Paus Fransiskus akan dilaksanakan pada Sabtu, 26 April 2025, di alun-alun depan Basilika Santo Petrus, Vatikan. Prosesi ini diperkirakan akan dihadiri oleh para pemimpin dunia dan umat Katolik dari berbagai belahan dunia.
Persiapan Konklaf Pemilihan Paus Baru
Sejalan dengan tradisi Gereja Katolik, para kardinal berusia di bawah 80 tahun akan segera berkumpul di Vatikan untuk mengadakan konklaf, yakni proses pemilihan Paus baru. Mereka akan berkumpul di Kapel Sistina di Vatikan, seperti pada konklaf tahun 2013 yang melibatkan 115 kardinal pemilih dari seluruh dunia.
Para kardinal pemilih akan mengenakan jubah merah lengkap dengan perlengkapan seremonial sebagai simbol momen penting tersebut. Garda Swiss akan menjaga ketat wilayah Vatikan dan memastikan tidak ada kontak antara para kardinal dengan dunia luar selama proses konklaf berlangsung.
Sebuah kapel khusus telah disiapkan lengkap dengan cerobong asap, sistem pembakar kertas suara, serta pengamanan ekstra seperti pemutusan jaringan telepon dan internet. Bahkan sinyal ponsel akan dinonaktifkan untuk menjaga kerahasiaan penuh.
Meskipun para kardinal dapat saling berjabat tangan, pembicaraan mengenai calon Paus tidak diperbolehkan hingga proses pemungutan suara dimulai.
Setelah seluruh kardinal berkumpul, pintu kapel akan ditutup sebagai simbol pemisahan dari dunia luar, dan konklaf resmi dimulai. Tiga kardinal termuda akan ditunjuk sebagai petugas pelancar jalannya konklaf.
Proses Pemilihan Paus
Sebelum pemungutan suara dimulai, masing-masing kardinal akan menerima selembar kertas suara bertuliskan kalimat Latin “Eligo in Summum Pontificem Meum”, yang berarti “Saya memilih Pemimpin Tertinggi saya”, diikuti dengan ruang kosong untuk menuliskan nama kandidat pilihan.
Setelah semua suara dikumpulkan dalam wadah khusus, dilakukan penghitungan suara. Jika seorang kandidat mendapatkan dua pertiga dari total suara, ia secara resmi terpilih menjadi Paus baru.
Namun, jika tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas, konklaf berlanjut ke putaran berikutnya. Bila telah melewati 30 putaran tanpa hasil, dua kandidat dengan suara terbanyak akan menjadi satu-satunya pilihan dalam putaran final, keduanya tidak lagi memiliki hak untuk memilih.
Setelah pemungutan suara selesai, semua kertas suara akan dijahit dan dibakar. Jika tidak ada Paus yang terpilih, asap hitam akan terlihat dari cerobong sebagai tanda kegagalan pemilihan. Jika sudah terpilih, kertas suara dibakar dengan bahan kimia khusus yang menghasilkan asap putih tanda bahwa Gereja Katolik telah memiliki Paus baru.
Setelah terpilih, kardinal dekan akan menanyakan kesediaan kandidat untuk menerima jabatan tersebut. Jika disetujui, kandidat akan memilih nama kepausannya.
Kemudian, kardinal diakon akan tampil di balkon Basilika Santo Petrus dan mengumumkan kepada dunia: “Annuntio vobis gaudium magnum. Habemus Papam”, yang berarti “Saya mengumumkan kepada Anda semua sebuah kegembiraan besar. Kita mempunyai seorang Paus.”
Paus baru akan tampil dan menyapa umat Katolik dari seluruh dunia yang berkumpul di alun-alun. Ia akan memberikan wejangan pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik.






