Kampiunnews|Jakarta – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi atas delapan dekade pengabdian TNI dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di usianya yang ke-80, TNI menegaskan eksistensinya sebagai garda terdepan bangsa yang tangguh menghadapi dinamika zaman, sekaligus pilar pertahanan yang adaptif terhadap tantangan global, termasuk di domain maritim yang menjadi urat nadi kehidupan dan pertahanan Indonesia.
Pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, menilai TNI Angkatan Laut (TNI AL) memegang peran strategis sebagai penjaga kedaulatan laut negara kepulauan terbesar di dunia.
“TNI AL bukan hanya benteng pertahanan, tetapi juga pelindung kesejahteraan rakyat yang hidup dari laut. Pendekatan maritim harus terintegrasi dengan pembangunan manusia dan ekonomi pesisir,” ujar Hakeng.
Hakeng menekankan, laut bagi Indonesia bukan semata bentang air asin yang memisahkan pulau, tetapi ruang hidup sekaligus ruang pertahanan. Dari laut, jutaan nelayan menggantungkan harapan. Di laut pula berlangsung perdagangan, diplomasi, dan dinamika geopolitik global yang menentukan masa depan bangsa.
Sejak masa lampau, laut telah menjadi jalan raya Nusantara, penghubung rempah, budaya, dan peradaban. Dari Sriwijaya hingga Majapahit, kejayaan maritim menjadi fondasi jati diri bangsa. Kini, di era modern, posisi Indonesia yang strategis di jalur perdagangan dunia menegaskan bahwa laut tetap menjadi denyut nadi ekonomi dan geopolitik nasional.
Namun, laut sebagai ruang hidup tidak selalu aman. Ancaman illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing, pencemaran, eksploitasi sumber daya, hingga perubahan iklim menuntut kehadiran negara yang kuat. Di titik inilah peran TNI AL menjadi vital tidak hanya menegakkan kedaulatan, tetapi juga melindungi keberlanjutan kehidupan rakyat.
TNI AL di Garda Terdepan Kedaulatan Maritim
Dalam konteks pertahanan, laut merupakan arena strategis yang menentukan posisi Indonesia dalam percaturan global. Sejarah mencatat, konflik di Laut Natuna menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap kedaulatan sering kali datang dari wilayah maritim.
“Siapa yang menguasai laut, akan menguasai sejarah. Karena itu, penguatan pertahanan maritim bukan pilihan, tetapi keharusan,” tegas Hakeng.
Momentum HUT ke-80 TNI menjadi panggilan untuk memperkuat kapasitas pertahanan maritim nasional, baik melalui modernisasi alutsista, pengembangan sistem radar dan satelit pengawasan, maupun penerapan teknologi unmanned systems dalam operasi laut.
Pertahanan maritim tidak hanya berbicara soal kekuatan kapal perang, tetapi juga koordinasi lintas lembaga antara TNI AL, Bakamla, KKP, dan Kepolisian Perairan. Sinergi operasional, sistem komunikasi yang terintegrasi, serta mekanisme komando bersama menjadi kunci untuk menjaga laut Indonesia dari segala bentuk ancaman.
Pendekatan maritim yang berkeadilan dan berkelanjutan harus menjadi prioritas. Menjaga laut berarti menjaga manusia yang hidup darinya memastikan nelayan kecil dapat melaut dengan aman, ekosistem laut terlindungi, dan hasil laut memberi manfaat bagi bangsa sendiri.
Modernisasi armada harus diiringi dengan pembangunan sumber daya manusia maritim yang unggul, prajurit yang tangguh, melek teknologi, memahami hukum laut internasional, dan piawai dalam diplomasi pertahanan.
Dengan demikian, pertahanan laut tidak hanya bersifat militeristik, tetapi juga berpijak pada nilai kemanusiaan dan kesejahteraan rakyat. Inilah makna sejati dari TNI yang “lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan kembali untuk rakyat.”
HUT ke-80 TNI menjadi penanda penting dalam perjalanan bangsa yang tidak pernah lepas dari laut. Dari gelombang samudera, prajurit TNI AL berlayar membawa panji kedaulatan simbol keberanian bangsa menjaga ruang hidup sekaligus ruang pertahanan.
“Dari laut, kita belajar tentang keluasan, kesabaran, dan keteguhan. Dari laut pula, kita diingatkan bahwa menjaga kedaulatan adalah menjaga kehidupan,” tutup Hakeng.






