Kampiunnews|Semarang – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan dan kesehatan mental Tanah Papua. Perempuan asli Papua Pegunungan, Faradiba Anugerah Kaay Tabuni, S.Psi, Psikolog, resmi mencatat sejarah sebagai psikolog pertama asal Papua Pegunungan yang lulus dari Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) Semarang, Kamis (29/1).
Capaian ini menjadi momentum strategis bagi Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) lokal, khususnya di bidang kesehatan jiwa, serta mendorong pemberdayaan perempuan asli Papua melalui pendidikan tinggi dan profesi strategis.
Faradiba meraih gelar psikolog setelah menempuh proses panjang yang ditopang pengalaman pengabdian di masyarakat. Sebelumnya, ia aktif bekerja di lembaga kemanusiaan, menjadi konselor, serta terlibat dalam pendampingan ODHA dan anak jalanan di Kabupaten Jayawijaya. Ia juga pernah menjadi asisten psikiater di RSUD Wamena, yang memperkuat sensitivitasnya terhadap kebutuhan layanan kesehatan mental di daerah.
Pada 2024, Faradiba melanjutkan pendidikan Program Profesi Psikolog di SCU dan tercatat sebagai bagian dari angkatan pertama yang diluluskan kampus tersebut. Ia disumpah bersama 46 lulusan lain sebagai psikolog profesional yang siap mengabdi dengan menjunjung tinggi etika, kompetensi, dan kepekaan sosial-budaya.
Dalam pernyataannya, Faradiba menegaskan bahwa kehadiran psikolog dari daerah menjadi penting agar layanan kesehatan jiwa dapat lebih kontekstual dan berpihak pada masyarakat. Menurutnya, Papua Pegunungan memiliki kekayaan budaya, namun masih menghadapi keterbatasan akses layanan psikologis, terutama bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan.
Keberhasilan Faradiba menjadi simbol keberhasilan investasi pendidikan perempuan Papua, sekaligus menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam membuka akses pendidikan profesi, memperluas beasiswa, serta memanfaatkan putra-putri daerah sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan mental di Papua Pegunungan.
Capaian ini diharapkan dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak perempuan Papua Pegunungan yang berdaya, berpendidikan tinggi, dan berperan aktif dalam pembangunan daerah berbasis manusia.






