Kampiunnews|Jakarta – Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) melakukan langkah restrukturisasi organisasi dengan melantik tiga deputi baru sebagai bagian dari penguatan kelembagaan sekaligus transformasi peran lembaga tersebut dalam mendorong percepatan investasi di kawasan strategis nasional.
Restrukturisasi ini menandai babak baru bagi BP Batam dalam menjalankan mandat sebagai Operator Investasi Pemerintah (OIP), yang tidak hanya berperan sebagai pengelola kawasan, tetapi juga sebagai penggerak utama perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan investasi pemerintah di kawasan industri dan logistik Batam.
Tiga pejabat yang dilantik yakni Syarlin Joyo sebagai Deputi Bidang Pengelolaan Kawasan, Fary Djemy Francis sebagai Deputi Bidang Investasi, serta Denny Tondano sebagai Deputi Bidang Pengusahaan.
Pelantikan tersebut merupakan implementasi dari Peraturan Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Nomor 1 Tahun 2026 tentang perubahan organisasi dan tata kerja BP Batam, yang dirancang untuk memperkuat tata kelola serta meningkatkan efektivitas pengembangan kawasan.
Melalui restrukturisasi ini, BP Batam memperkuat tiga pilar utama pengembangan kawasan, yaitu kepastian pengelolaan kawasan, percepatan investasi, serta optimalisasi pengusahaan aset strategis.
Deputi Bidang Pengelolaan Kawasan akan berfokus pada integrasi tata kelola ruang, pertanahan, perairan pesisir, pengendalian kawasan, hingga pengelolaan lingkungan hidup. Kepastian tata ruang dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan investor yang ingin menanamkan modal di Batam.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengusahaan bertanggung jawab mengoptimalkan pengelolaan berbagai unit usaha strategis BP Batam seperti bandara, pelabuhan, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta aset kawasan lainnya guna meningkatkan nilai ekonomi dan profesionalisme pengelolaan.
Adapun Deputi Bidang Investasi kini memiliki mandat yang lebih luas, tidak hanya mencakup promosi investasi dan pelayanan penanaman modal, tetapi juga pengembangan proyek investasi, pengendalian realisasi investasi, hingga pengelolaan lalu lintas barang industri di kawasan Batam.
Dalam struktur baru ini, pengelolaan lalu lintas barang ditempatkan sebagai ujung tombak dalam mendukung kelancaran investasi, mengingat arus bahan baku, mesin, dan komponen industri merupakan faktor penting bagi daya saing Batam sebagai kawasan manufaktur dan logistik internasional.
Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menegaskan bahwa integrasi fungsi investasi dan pengelolaan lalu lintas barang menjadi langkah strategis untuk memastikan Batam mampu memberikan execution certainty bagi para investor.
“Investasi tidak berhenti pada promosi atau perizinan. Investor membutuhkan kepastian eksekusi. Karena itu, kelancaran lalu lintas barang harus menjadi prioritas agar bahan baku, mesin, dan komponen industri dapat bergerak cepat dan efisien di kawasan Batam,” ujar Fary.
Ia menambahkan, penguatan Bidang Investasi juga sejalan dengan peran baru BP Batam sebagai Operator Investasi Pemerintah yang memberikan kewenangan lebih luas dalam merencanakan, mengeksekusi, mengawasi, serta mengelola investasi pemerintah pada proyek-proyek strategis kawasan.
Dengan mandat tersebut, BP Batam tidak lagi sekadar pengelola aset negara atau pemberi konsesi, tetapi juga berperan sebagai orchestrator investasi kawasan yang memastikan proyek-proyek strategis berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah maupun nasional.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa penataan organisasi ini merupakan langkah penting untuk memperkuat daya saing Batam di tengah dinamika geopolitik global serta pergeseran rantai pasok internasional.
“Batam harus tampil sebagai kawasan yang unggul dalam kepastian regulasi, kualitas layanan, kelancaran arus barang, kesiapan proyek, serta kecepatan realisasi investasi,” ujarnya.
Dengan struktur organisasi yang lebih adaptif serta mandat kelembagaan yang semakin strategis, BP Batam diharapkan mampu mempercepat realisasi investasi sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai execution hub industri dan logistik di kawasan Asia Tenggara.






