Kampiunnews|Timika – Rak buku kecil di sudut toko itu tiba-tiba terasa berbeda sore itu. Warna-warni krayon, tumpukan buku tulis, dan deretan pena bukan lagi sekadar barang dagangan, melainkan harapan yang bisa dibawa pulang.
Mikael Pedro Hernuta (14) berdiri sambil menggenggam buku tulis barunya. Matanya berbinar, sesekali melirik ke arah sosok yang sejak tadi berjalan di antara mereka Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia masih seperti tak percaya.
“Biasanya kami hanya lihat di TV,” katanya pelan. “Sekarang bisa ketemu langsung… dan dibelikan perlengkapan sekolah.”
Sore itu, di sebuah toko alat tulis sederhana di Timika, Papua Tengah, Mikael dan puluhan anak lainnya dari berbagai panti asuhan merasakan sesuatu yang jarang mereka dapatkan: perhatian, kedekatan, dan rasa dianggap penting.
Usai kunjungan kerja di Nabire, Wapres Gibran memang langsung melanjutkan agenda ke Timika. Namun di sela padatnya kegiatan, ia memilih berhenti sejenak bukan untuk rapat, melainkan untuk menemani sekitar 60 anak yatim berbelanja kebutuhan sekolah.
Anak-anak dari Panti Al Amin Hidayatullah, Laskar Pelangi, Rumah Yatim dan Dhuafa Baiturrasul, hingga Santa Susana Timika itu datang dengan langkah ragu. Namun suasana cepat berubah.
“Ayo, mau pilih apa lagi?” tanya Wapres dengan nada ringan.
Kalimat sederhana itu seperti membuka ruang. Anak-anak yang tadinya canggung mulai berani memilih, saling menunjukkan barang, bahkan tertawa lepas. Ada yang memeluk buku gambar, ada yang sibuk memilih warna krayon favoritnya.
Di sudut lain, seorang anak kecil menggenggam pensil erat-erat, seolah tak ingin dilepas.
Bagi mereka, ini bukan sekadar belanja. Ini adalah pengalaman yang menyentuh hati.
“Senang sekali,” kata Mikael, kali ini lebih mantap. “Kami jadi punya perlengkapan sekolah… bisa belajar lebih semangat.”
Di balik keceriaan itu, terselip cerita tentang keterbatasan. Banyak dari mereka yang harus berbagi alat tulis, atau menggunakan perlengkapan seadanya. Karena itu, momen sederhana ini terasa begitu besar.
Kepala Panti Asuhan Santa Susana Timika, Magdalena Ema Nunang, tak kuasa menyembunyikan haru. Ia menyaksikan sendiri bagaimana wajah anak-anak berubah dari ragu menjadi penuh kegembiraan.
“Ini bukan hanya soal barang,” ujarnya lirih. “Mereka merasa diperhatikan. Itu yang paling penting.”
Kunjungan ini juga menjadi wujud nyata dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kehadiran negara hingga ke kelompok paling rentan, terutama dalam memastikan akses pendidikan bagi setiap anak Indonesia.
Namun bagi Mikael dan teman-temannya, sore itu akan dikenang dengan cara yang lebih sederhana.
Bukan tentang jabatan, bukan tentang program besar.
Melainkan tentang seseorang yang datang, menyapa, dan bertanya dengan tulus: “Mau pilih apa lagi?”
Di antara rak-rak kecil toko itu, harapan terasa lebih dekat dan masa depan, untuk sesaat, tampak sedikit lebih terang.






