Kampiunnews|Kupang – Sukacita Hari Raya Idul Adha 1447 H dirayakan dengan penuh berkah dan semangat berbagi oleh seluruh jemaah Masjid Al-Multazam, Kampung Meleset, Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Pada perayaan tahun ini, Panitia Qurban Masjid Al-Multazam sukses menyembelih hewan kurban sebanyak 8 ekor sapi dan 7 ekor kambing.
Seluruh daging sembelihan tersebut disalurkan secara langsung kepada 200 Kepala Keluarga (KK) kaum dhuafa yang berhak menerimanya. Menariknya, pembagian paket kurban ini mengedepankan nilai kerukunan yang tinggi, di mana penerima manfaat mencakup keluarga muslim maupun non-muslim di wilayah sekitar.
Ketua Panitia Kurban Idul Adha 1447 H, Bapak Kaharudin Akbar, didampingi Imam Masjid serta tokoh pemuda, Lukman Hakim, memberikan penjelasan mengenai tren kurban di masjid tersebut. Jika dibandingkan dengan dua tahun terakhir, jumlah hewan kurban tahun ini mengalami dinamika yang positif.
Sebagai catatan, pada tahun 1446 H lalu, pihak masjid menyembelih 7 ekor sapi dan 11 ekor kambing. Sementara itu, pada perayaan Idul Adha tahun 1445 H, jumlah hewan yang disembelih tercatat sebanyak 5 ekor sapi dan 10 ekor kambing.
Saat diwawancarai di halaman Masjid Al-Multazam, RT 18 RW 06, Kampung Meleset pada Rabu (27/5), Kaharudin Akbar memaparkan asal-usul perolehan hewan kurban tersebut. Beberapa di antaranya bersumber dari hasil patungan (urunan) para pekurban lokal, yakni Usman Asafah, Kaharudin, dan Alih Wahid.
Selain partisipasi mandiri warga, panitia juga menerima bantuan dan sumbangan hewan kurban dari sejumlah pihak eksternal dan instansi. Di antaranya sumbangan dari Telkomsel, Haji Bakri, H. Firman, pihak PLTU, serta kontribusi dari kerukunan keluarga Bugis.
Di sisi lain, tokoh pemuda Lukman Hakim turut menceritakan sejarah singkat dan latar belakang demografi masyarakat setempat. Mayoritas warga yang berdomisili di RT 18 RW 06 Kampung Meleset beragama Islam.
Secara silsilah, sebagian besar warga di kampung ini merupakan perantau asal Solor Watunlema, Flores Timur, yang meliputi rumpun Lamakera, Lamahala, dan Lahayong. Di perantauan Kota Kupang, mereka mengikatkan diri dalam satu ikatan kekeluargaan besar yang dikenal dengan semboyan “Kita Bersama”. (red_fen)






