Kampiunnews|Jakarta – Penanganan dampak gempa Flores magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan di tengah aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung. Hingga Rabu (9/9/2026), BMKG mencatat 13.863 gempa susulan, sementara BNPB telah memverifikasi 51.591 unit rumah dari total sasaran awal 102.384 rumah di tujuh kabupaten terdampak.
Berdasarkan pembaruan BMKG hingga 9 September 2026 pukul 05.00 WIB, gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2 dan terkecil 0,9. Sebanyak 38 gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan 183 gempa dirasakan masyarakat.
Meski aktivitas kegempaan mulai menunjukkan tren penurunan, BMKG memperkirakan gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu setelah gempa utama. Pada Selasa (8/9) malam tercatat gempa M5,0, disusul gempa M4,8 pada Rabu pagi.
Gempa utama M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 berkaitan dengan aktivitas Flores Back-arc Thrust atau Sesar Naik Flores. Rangkaian gempa tersebut berdampak pada tujuh kabupaten di Pulau Flores dan menyebabkan kerusakan pada rumah warga maupun sejumlah fasilitas publik.
51.591 Rumah Telah Diverifikasi
Seiring proses pemulihan berjalan, BNPB terus memperbarui data kerusakan hunian. Hingga 7 September 2026, sebanyak 51.591 rumah atau 50,39 persen dari sasaran awal 102.384 unit telah diverifikasi dan divalidasi.
Dari jumlah tersebut, tercatat 2.382 rumah rusak berat, 7.276 rusak sedang, 14.177 rusak ringan, sedangkan 27.756 rumah dinyatakan tidak mengalami kerusakan.
Pemutakhiran dilakukan melalui pencocokan data by name by address (BNBA), pembersihan data ganda, serta verifikasi lapangan. Langkah ini menjadi bagian penting agar bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi tepat sasaran.
Sejumlah kabupaten telah menyelesaikan pendataan dalam jumlah besar. Manggarai Barat mencatat 12.367 rumah terverifikasi dari 12.613 data awal, dengan 468 rumah rusak berat, 1.930 rusak sedang, dan 4.187 rusak ringan.
Di Nagekeo, sebanyak 15.929 rumah telah diverifikasi, termasuk 218 rusak berat, 1.523 rusak sedang, dan 3.475 rusak ringan.
Sementara Manggarai Timur telah memverifikasi 7.366 rumah, dengan 1.078 di antaranya masuk kategori rusak berat. Di Manggarai, sebanyak 7.089 rumah terverifikasi dengan 448 rumah rusak berat.
Kemudian Ngada mencatat 7.544 rumah terverifikasi dengan 126 rusak berat. Sikka mencapai 1.001 rumah terverifikasi dengan 43 rusak berat, sedangkan Ende baru 295 rumah terverifikasi dan satu di antaranya mengalami rusak berat.
Data tersebut menunjukkan proses penanganan bencana masih berlangsung bersamaan dengan aktivitas kegempaan yang belum sepenuhnya berhenti.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada, terutama warga yang berada di bangunan terdampak. Rumah yang mengalami kerusakan sebaiknya tidak ditempati kembali sebelum dinyatakan aman.
Pemerintah bersama BNPB dan pemerintah daerah terus melakukan pendataan serta penanganan dampak bencana. Akurasi data kerusakan menjadi dasar penting dalam menentukan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi bagi masyarakat terdampak.
Di tengah tren penurunan gempa susulan, perhatian kini beralih pada percepatan pemulihan warga Flores. Ribuan rumah masih membutuhkan penanganan, sementara masyarakat tetap harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan dalam beberapa pekan mendatang.







