Kampiunnews|Jakarta – Langkah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, mendapat apresiasi dari Nawasena Indonesia Emas, salah satu relawan pemenangan Prabowo–Gibran.
Ketua Umum Nawasena Indonesia Emas, Giusepe Kapoyos, menilai kehadiran Prabowo sebagai tamu kehormatan utama dalam forum ekonomi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Presiden Prabowo bertolak menuju Vladivostok, Rusia, dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Kehadirannya di EEF ke-11 dinilai menunjukkan semakin eratnya hubungan Indonesia dan Rusia sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki peran strategis di kawasan Asia-Pasifik dan Global South.
Kapoyos mengatakan, Nawasena Indonesia Emas mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo untuk hadir langsung dalam forum tersebut. Menurutnya, kunjungan itu tidak sekadar agenda diplomatik, tetapi menjadi momentum memperluas kerja sama ekonomi dan memperjuangkan kepentingan nasional.
“Ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini adalah pesan kuat bahwa Indonesia di bawah Presiden Prabowo menjalankan kembali politik luar negeri bebas dan aktif yang sesungguhnya,” ujar Kapoyos.
Menurutnya, Indonesia harus mampu menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan dunia tanpa kehilangan kemandirian dalam menentukan kepentingan nasional.
“Di tengah dunia yang semakin terbelah, Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia berteman dengan semua negara, tetapi tidak menjadi anak buah siapa pun. Indonesia datang membawa kepentingannya sendiri,” katanya.
Tiga Makna Strategis Kunjungan Prabowo
Kapoyos menyebut sedikitnya terdapat tiga makna penting dari kehadiran Presiden Prabowo di Vladivostok.
Pertama, diplomasi ekonomi untuk kepentingan rakyat. Rusia dinilai memiliki potensi besar dalam sektor energi, pangan, teknologi, dan pertahanan. Karena itu, pertemuan di Vladivostok dapat membuka peluang investasi, kerja sama teknologi, serta penguatan ketahanan energi dan pangan Indonesia.
Menurut Kapoyos, peluang tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam mewujudkan swasembada, hilirisasi, dan penguatan ekonomi nasional.
Kedua, menegaskan Indonesia tidak dapat didikte oleh kekuatan mana pun. Kapoyos menilai hubungan Indonesia dengan Rusia merupakan bagian dari strategi diplomasi yang lebih luas dengan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, China, Jepang, dan negara-negara Timur Tengah.
“Indonesia harus menjadi negara yang berdaulat dalam menentukan arah kebijakannya. Kita bersahabat dengan semua, tetapi tetap berdiri di atas kepentingan nasional,” tegasnya.
Ketiga, memperkuat kepemimpinan Indonesia di tingkat global. Kehadiran Prabowo sebagai tamu kehormatan utama EEF ke-11 dinilai menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap posisi Indonesia dalam percaturan internasional.
Kapoyos menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan geopolitik dan ekonomi dunia. Sebaliknya, Indonesia harus mampu mengambil peran dalam membangun kerja sama dan menciptakan keseimbangan global.
Bagi Nawasena Indonesia Emas, kata Kapoyos, diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo merupakan bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan bangsa sekaligus membangun fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Bagi kami sebagai relawan Nawasena Indonesia Emas, inilah wujud nyata kepemimpinan yang bekerja untuk martabat bangsa. Membangun jembatan dengan berbagai negara dan memastikan Indonesia berdiri tegak, sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya,” ungkap Kapoyos.
Ia berharap diplomasi yang dilakukan pemerintah dapat menghasilkan kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam penguatan investasi, energi, pangan, teknologi, dan hilirisasi.
“Langkah Presiden Prabowo di Vladivostok bukan hanya langkah diplomasi, tetapi bagian dari perjalanan menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.







