Kampiunnews | Atambua – Sepakbola memegang peranan penting dalam kehidupan nyata, mampu mengubah nasib para pemain dengan cepat. Sebagai contoh, Antonius Reymond Halek, salah satu putra terbaik Belu asal klub Akademi Sepakbola Bintang Timur Atambua, baru-baru ini berhasil lolos seleksi beasiswa di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Rey begitu remaja hitam manis ini disapa, punya tekad kuat untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Pernah gagal trial di Dewa United, pemain yang dua kali tampil bersama BeTA di ajang Nusantara Open dan final Soeratin U-19 zona NTT di Bajawa, tidak pernah menyerah selama berlatih di Jakarta dan berhasil menonjol di antara ratusan pesaing dari luar kota.
Setelah berhasil masuk dalam skuad PS UMJ, Rey diberikan beasiswa penuh oleh universitas, yang menjaring bakat-bakat potensial untuk didukung selama kuliah. Prestasi Rey adalah bukti bahwa usaha dan dedikasi tidak pernah mengkhianati hasilnya.
Serena Francis Maneger Akademi Bintang Timur Atambua membenarkan bahwa salah satu pemainnya lolos seleksi di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
“Rey salah satu pemain berbakat yang disiplin. Keberhasilan Rey adalah hasil dari kerja keras dan disiplinnya selama berlatih di Bintang Timur Atambua. Tim PS UMJ, di mana Rey bermain, akan bermain di Liga 3 Zona Banten dan Liga Mahasiswa Jawa,” ujar Serena Francis.
Rey, bergabung dengan Akademi Bintang Timur sejak usia 12 tahun, dia disiplin, tekun, dan kerja keras, tanpa kenal lelah untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain sepak bola professional, lanjut Dwi Syam Alfarist (DSA) yang senantiasa mendamping pemain Bintang Timur Atambua selama trial di Jawa.
Perjalanan Rey adalah bukti bahwa dengan tekad yang kuat dan kerja keras, bahkan dari lingkungan yang terbatas, seseorang dapat mencapai impian mereka.
Kepada kampiunnews, Antonius Raymond Halek, pesepak bola berusia 17 tahun, berbagi cerita inspiratifnya. Dia mengungkapkan kegembiraannya karena pengalaman bermain dengan tim Bintang Timur Atambua telah membentuknya dan membantunya meraih beasiswa yang diinginkannya sambil bermain untuk tim PS UMJ.

Dalam momen percakapan singkatnya dengan media ini, Rey memberikan semangat kepada para remaja di Kabupaten Belu untuk terus berlatih. Baginya, hanya melalui latihan rutin dan disiplin yang konsisten seseorang dapat mencapai tujuannya.
Rey mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang selalu mendampingi perjuangannya. Dia juga merasa berterima kasih kepada kedua orang tuanya, Ferdy Halek dan almarhumah Romana B Klau, yang selalu memberikan dukungan dan doa untuk setiap langkahnya.
“Saya dibentuk di SSB/Akademi Bintang Timur Atambua (BeTA), terima kasih buat Pak Fary Francis dan Maneger BeTA Kakak Serena Francis, tim pelatih dan manejemen klub yang telah banyak melahirkan bakat-bakat sepakbola dari batas NKRI-Timor Leste ke kancah nasional,” ujar Rey.
Rey juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada kakak-kakaknya, Hugo Nahak dan Ifon Nahak, yang telah membantunya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi beasiswa melalui tim PS UMJ di Liga 3 zona Banten, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kesuksesannya adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, disiplin, dan dukungan yang tepat, impian apa pun bisa tercapai.
Frendly Match BeTA Atambua vs Timnas Timor Leste U-16
Euforia sepakbola melanda Belu pada Sabtu, 8 Juni 2024. Di tengah sorotan, terdapat dua pilihan menarik: pertandingan persahabatan antara Bintang Timur Atambua (BeTA) U-16 melawan Timnas Timor Leste U-16 di traning ground Bintang Timur Atambua. Sementara di stadion Gelora Haliven digelar pembukaan Askab Belu Cup 2024.
Kebangkitan sepakbola di Belu menjadi sorotan, terutama dengan kehadiran timnas U-16 Timor Leste yang akan bertandang, meskipun hanya untuk pertandingan persahabatan.
“Saya dan sejumlah pendukung setia BeTA merencanakan untuk menyaksikan pertandingan anak-anak di berbagai turnamen seperti ETMC di Lembata dan Rote Ndao, serta Soeratin U-17 di Ende. Namun, rencana tersebut harus dibatalkan. Tapi kali ini melawan timnas Timor Leste tidak akan kami lewatkan begitu saja. Ini menjadi tontonan menarik bagi kami pendukung setia BeTA,” ujar Simon Klau.
Tantangan terbesar adalah memilih di antara dua pilihan yang menarik hati: apakah akan menyaksikan pertandingan di Markas Bintang Timur atau meramaikan Stadion Gelora Haliwen.
“Sebagai pendukung setia BeTA Atambua, kami akan datang ke Markas BeTA, besok masih ada waktu menyaksikan laga di Stadion Haliwen,” timpal Maria.
Kehadiran tim olahraga dari luar negeri, tak peduli cabang olahraganya, bukanlah hal biasa. Meskipun Timor Leste adalah tetangga dekat kita, dan sejarah serta kekerabatan mengikat kita, masih ada pertanyaan yang menggantung, bagaimana koordinasi awal antara BeTA, Askab, KONI, dan Pemerintah Kabupaten Belu? Hal ini menjadi poin penting untuk memastikan dukungan yang optimal bagi perkembangan sepakbola di daerah ini.






