Anakku
Oleh Hendrika LW
Mengapa hatiku berdebar-debar sedari tadi? Pikiranku kalut. Sama sekali tak bisa memusatkan perhatian pada pekerjaan yang menumpuk di meja.
Secangkir teh panas yang kuseduh di pantri pun, belum mampu mengusir kegelisahanku. Hehh, ada firasat apa ini?
Kulayangkan pandangan ke langit-langit. Melafal doa.
“Halo, Ayah. Aku…”
Panggilan suara dari anakku sungguh membuatku terperanjat. Hingga handphone di tanganku hampir saja terjatuh.
Segera kularikan Alphard hitam yang kubeli tiga bulan lalu. Jalanan cukup lengang, sehingga membantu lajuku makin cepat.
Aku tergegas menuju ruang pemeriksaan. Sayup-sayup kudengar suara mereka, menginterogasi anakku.
“Silahkan menunggu di sini, Pak.” seorang petugas menyambutku.
Dari kaca jendela, kulihat anakku tertunduk memakai kaos oranye. Wajahnya kuyu. Seperti bukan anakku.
“Ya, Tuhan.” darahku serasa berhenti mengalir.
Tak pernah terbayang. Anak kesayangan yang selalu membuatku bangga, seketika menjatuhkanku dan menyeretku pula ke pengadilan.
Bak langit runtuh. Karir yang sudah kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun, hancur berkeping.
Ibarat nila setitik, rusak susu sebelanga. Kini, orang-orang tak lagi melihat sisi baik pada diriku. Kepercayaan mereka lenyap sudah, apalagi rasa hormat.
Bahkan semua mencibirku, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku telah kehilangan segalanya.
“Nak, Ayah sudah memberikan semuanya yang terbaik. Kenapa kamu seperti ini?”
“Maafkan aku, Ayah.”






