Kampiunnews|Kupang – Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa, organisasi kepemudaan dan komunitas untuk ikut menentukan arah pembangunan Kota Kupang. Tidak hanya mengkritik pemerintah, generasi muda ditantang menghadirkan solusi konkret yang dapat diadopsi menjadi kebijakan melalui gagasan “Wali Kota Challenge”.
Gagasan tersebut disampaikan Christian saat menjadi pembicara utama dalam Public Discussion bertajuk “Quo Vadis Pembangunan Kota Kupang” yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Regan’s Caffe, Sabtu (3/10/2026) malam.
Christian menilai mahasiswa dan generasi muda memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah. Karena itu, mereka tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi harus diberikan ruang untuk ikut merumuskan solusi atas berbagai persoalan kota.
“Anak-anak muda mana yang bisa paling bagus memberikan solusi kepada kami, kami pakai itu sebagai kebijakan,” ujar Christian.
Menurutnya, pemerintah tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber solusi. Ide terbaik justru dapat lahir dari masyarakat, mahasiswa maupun komunitas yang bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan di lapangan.
“Pemerintah tidak harus selalu menjadi sumber solusi. Bisa saja solusi terbaik datang dari masyarakat, dari mahasiswa, dari komunitas, dari anak-anak muda,” katanya.
Melalui konsep Wali Kota Challenge, Christian ingin membangun ruang adu gagasan yang sehat. Setiap persoalan kota tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai solusi yang dapat diterapkan.
“Kalau ada persoalan di kota, jangan hanya bilang pemerintah tidak bisa. Mari kita pikirkan bersama, apa solusinya. Kalau solusinya bagus dan bisa diterapkan, pemerintah akan pakai,” tegasnya.
Christian juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kepemudaan yang memungkinkan generasi muda berkembang sesuai potensi masing-masing.
Ekosistem tersebut mencakup ruang kreativitas, akses jejaring dan informasi, pendidikan yang relevan dengan kebutuhan daerah dan dunia kerja, hingga pemetaan talenta anak muda di berbagai bidang.
Menurutnya, potensi generasi muda tidak hanya berada di bidang akademik. Pemerintah perlu membuka ruang bagi talenta teknologi informasi, desain grafis, musik, olahraga dan berbagai sektor kreatif lainnya.
Pembangunan sumber daya manusia, kata Christian, tidak cukup hanya dengan menyediakan pendidikan formal. Anak muda juga perlu dibantu menemukan potensi, membangun jejaring dan memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan.
Anak Muda Jangan Apatis terhadap Politik
Dalam konteks politik, Christian mengingatkan mahasiswa agar tidak bersikap apatis. Menurutnya, keterlibatan politik tidak selalu berarti harus menjadi calon legislatif atau menduduki jabatan politik.
Keterlibatan dapat dimulai dari keberanian berdiskusi, memahami kebijakan publik, mencermati rekam jejak calon pemimpin hingga menggunakan hak politik secara bertanggung jawab.
“Jangan apatis. Kalian harus mulai terlibat. Terlibat itu bukan berarti harus menjadi caleg. Terlibat itu artinya berani berdiskusi,” tegasnya.
Christian juga menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang bersifat sementara. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan sekadar popularitas atau nama yang dikenang, tetapi sistem yang mampu terus bekerja setelah masa kepemimpinannya berakhir.
“Saya ingin meninggalkan legasi sistem pemerintahan yang baik, saya ingin meninggalkan sistem tata kelola manajemen ASN yang baik,” ungkapnya.
Dalam diskusi tersebut, Christian turut menjelaskan tantangan pembangunan di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Menurutnya, pemerintah harus mampu menentukan prioritas dan menggunakan anggaran secara bijak. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar biaya murah, tetapi harus mempertimbangkan kualitas, manfaat dan keberlanjutan.
“Caranya adalah berhemat dan menggunakan anggaran dengan bijak,” jelasnya.
Ia juga menyinggung respons Pemkot Kupang terhadap bencana gempa di Flores. Menurut Christian, kehadiran pemerintah dalam situasi kemanusiaan tidak sekadar berbicara mengenai bantuan, tetapi merupakan bentuk solidaritas sebagai sesama warga NTT.
Pemkot Kupang juga memberikan perhatian kepada mahasiswa asal Flores yang berada di Kota Kupang dan keluarganya terdampak bencana.
“Wilayah itu memiliki batas, lokasi bencana juga punya batas. Tetapi kemanusiaan tidak memiliki batas,” tegas Christian.
Di hadapan mahasiswa IMM, Christian mengajak generasi muda membangun karakter yang fokus, adaptif, tangguh dan konsisten.
Ia menegaskan pembangunan Kota Kupang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dunia usaha hingga masyarakat.
“Kolaborasi itu tidak mengenal hierarki,” ujarnya.
Ketua IMM NTT, Cakti Flobamorrinci A. Kirie, mengapresiasi kehadiran dan keterbukaan Christian dalam forum tersebut. Menurutnya, komunikasi langsung antara pemerintah dan organisasi kepemudaan penting agar pembangunan tetap terbuka terhadap kritik sekaligus gagasan masyarakat.
Cakti juga mengapresiasi respons Pemkot Kupang terhadap berbagai persoalan masyarakat, termasuk penanganan sampah dan perhatian terhadap masyarakat terdampak bencana di Flores.
Menurutnya, berbagai capaian Pemkot Kupang, termasuk penghargaan di bidang digitalisasi daerah, toleransi dan tata kelola keuangan, menunjukkan upaya memperkuat pemerintahan yang inklusif.
IMM NTT, kata Cakti, siap memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan Pemkot Kupang dalam mengawal pembangunan.
“IMM tidak ingin hanya hadir sebagai kelompok yang memberikan kritik, tetapi juga menjadi bagian dari ruang dialog yang kritis, konstruktif dan solutif,” ujarnya.







