Kampiunnews|Kupang – Persaingan menuju kursi Ketua Asprov PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2026–2030 bukan sekadar pertarungan Fernando Soares melawan incumbent Petrus Christian Mboeik. Kongres 7 November mendatang juga menjadi momentum untuk menguji komitmen pembenahan organisasi yang selama ini disorot karena dominasi sekelompok orang dalam kepengurusan.
Dukungan terhadap Fernando mengemuka setelah timnya mengklaim telah mengantongi 21 dari total 35 hak suara. Sementara itu, peta dukungan terhadap Petrus Christian Mboeik belum terkonfirmasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Kamis (29/10/2026).
Tim Fernando yang dipimpin Ketua PSSI Kabupaten Ende, M. Sipriyadin Pua Rake, telah menyerahkan mandat 21 voter kepada panitia kongres. Jumlah tersebut setara 60 persen dari total hak suara apabila seluruh mandat dinyatakan sah. Namun, klaim dukungan itu belum memastikan hasil akhir pemilihan.
“Kami sudah mengantongi dukungan 21 voter dari total 35 hak suara. Kami berharap dukungan ini terus bertambah hingga pelaksanaan Kongres nanti tanggal 7 November 2026,” kata Sipriyadin.
Di tengah persaingan tersebut, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana mengakhiri pola kepemimpinan yang dinilai terlalu terpusat pada kelompok tertentu. Seorang pengurus Askab dari Flores bahkan melontarkan kritik tajam terhadap dominasi orang-orang yang sama dalam lingkaran organisasi.
“Kami catat jangan sampai pengurus ke depan mengkultuskan pada ‘tiga serangkai’ yang kita kenal selama ini. Lu lagi, lu lagi,” ujarnya.
Pernyataan itu merupakan kritik yang konstruktif, bukan kesimpulan bahwa seluruh kepengurusan telah dikuasai kelompok tertentu. Namun, kritik tersebut menegaskan tuntutan agar Asprov PSSI NTT membuka ruang partisipasi yang lebih luas, memperkuat transparansi, serta menghentikan kesan bahwa jabatan dan pengaruh organisasi hanya berputar di kalangan terbatas.
Sepak bola NTT tidak boleh menjadi milik segelintir orang. Asprov seharusnya menjadi rumah bersama bagi klub, Askab/Askot, pemain, pelatih, wasit, dan seluruh insan sepak bola. Kepemimpinan harus diukur dari kualitas kompetisi, pembinaan pemain, pemerataan kesempatan, dan akuntabilitas organisasi—bukan kedekatan dengan lingkaran kekuasaan.
Fernando menawarkan sejumlah agenda perubahan, mulai dari kompetisi berjenjang, dukungan pembiayaan bagi klub yang mewakili NTT di Liga 4 nasional, penguatan legalitas klub dan sekolah sepak bola (SSB), hingga peningkatan kualitas pelatih serta wasit. Ia juga mendorong transparansi kepengurusan, penyiaran pertandingan, dan pengembangan infrastruktur stadion.
Ia juga mendorong sistem pertandingan zonasi yang melibatkan perangkat pertandingan di kabupaten/Kota, mendorong pertandingan kandang dan tandang (home and away) agar klub memiliki peluang memperoleh pendapatan dari penjualan tiket, sepanjang didukung kesiapan stadion, pengelolaan pertandingan, dan jumlah penonton.
Gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi program kerja dengan target, anggaran, dan jadwal pelaksanaan yang jelas. Jika terpilih, Fernando harus membuktikan bahwa janji pemerataan dan profesionalisme bukan sekadar materi kampanye. Sebaliknya, incumbent Petrus Christian Mboeik juga perlu memberi ruang bagi publik untuk menilai rekam jejak, capaian, dan arah pembenahan yang ditawarkannya.
Persoalan lain yang perlu dijawab adalah transparansi penyelenggaraan kongres. Sorotan mengenai proses penunjukan Komite Pemilihan serta dugaan tekanan terhadap pemilik suara membutuhkan klarifikasi dan pemeriksaan berdasarkan bukti. Panitia harus menjamin verifikasi mandat yang terbuka, penanganan keberatan yang adil, dan kebebasan setiap voter menentukan pilihan tanpa intimidasi.
Kongres 7 November 2026 semestinya menjadi titik evaluasi, bukan sekadar pergantian atau perpanjangan kekuasaan. Siapa pun yang terpilih, publik berhak menuntut Asprov PSSI NTT yang profesional, demokratis, dan terbuka







