Kampiunnews | Jakarta – Jalan panjang Dr. Frits Herman Pangemanan, M.Sc menuju dunia akademik dan internasional bermula dari pengalaman sederhana yakni mengasong koran di kawasan Bendar, Manado, saat masih duduk di sekolah dasar.
Sepulang sekolah, Frits membantu ayahnya menjajakan koran. Kondisi ekonomi keluarga membuat aktivitas tersebut harus dijalani sejak kecil. Namun, dari sanalah ketertarikannya terhadap dunia pers mulai tumbuh.
Puluhan tahun kemudian, Frits bukan hanya menjadi wartawan, tetapi juga akademisi, peneliti, dan penulis yang telah lama berkiprah di Filipina.
Karier jurnalistiknya dimulai setelah mengikuti pendidikan jurnalistik Lembaga Pers Dr. Soetomo. Dari ribuan pendaftar, Frits termasuk 15 peserta yang lolos seleksi pada 1990.
Setahun kemudian, ia bergabung dengan The Jakarta Post. Selama 1991-1996, Frits menjadi wartawan dengan fokus liputan ekonomi, bisnis, manufaktur, dan perdagangan.
Pengalamannya sebagai jurnalis membawanya meliput berbagai perkembangan ekonomi dan pasar modal di sejumlah negara Asia dan Eropa Timur. Ia juga terlibat dalam penerbitan majalah pasar modal Uang & Efek serta sejumlah buku.
Namun, krisis ekonomi pada akhir 1990-an mengubah arah hidupnya.
Frits memilih meninggalkan dunia jurnalistik dan melanjutkan pendidikan ke Filipina. Ia meraih gelar master Ilmu Sosial di The Asian Social Institute (ASI), Manila.
Pendidikan kemudian dilanjutkan ke Ateneo de Manila University. Di perguruan tinggi tersebut, Frits mendalami Sosiologi dan Antropologi hingga meraih gelar doktor.
Selama lebih dari 20 tahun berada di Filipina, kiprahnya berkembang dari mahasiswa menjadi akademisi, peneliti, penulis, dan pengajar.
Frits juga aktif dalam kegiatan pendidikan dan literasi di lingkungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila. Sejumlah karya tentang Indonesia dan Filipina lahir dari aktivitas akademiknya.
Di antaranya Let’s Speak Indonesian: An Introduction to Indonesian Grammar, A Short History of Indonesia: Land, People, and Society, serta Melihat dari Dekat Sistem Pendidikan Filipina.
Sejak 2020, Frits dipercaya memimpin Pusat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Graduate Studies di Asian Social Institute.
Ia juga telah menghasilkan lebih dari 20 buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris serta berbagai artikel ilmiah.
Didorong Jadi Dubes RI
Rekam jejak panjang tersebut kini membuat nama Frits Pangemanan didorong sejumlah elemen masyarakat dan gereja untuk dipertimbangkan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina.
Salah satu dukungan datang dari Forum Inspirasi Rakyat Sulut (FIRAS).
Koordinator FIRAS Ramon Wowor menilai pengalaman Frits di bidang jurnalistik dan akademik menjadi modal penting untuk menjalankan tugas diplomatik, terutama karena ia telah lama hidup dan beraktivitas di Filipina.
“Ia pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post selama lima tahun dan kemudian menempuh pendidikan hingga meraih gelar magister serta dua gelar doktor di perguruan tinggi di Manila,” kata Ramon.
Dukungan juga disebut datang dari sejumlah keuskupan, antara lain Keuskupan Manado, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Merauke.
Para pendukung menilai pengalaman Frits selama lebih dari dua dekade di Manila membuatnya memiliki pemahaman mengenai masyarakat, budaya, pendidikan, serta dinamika sosial Filipina.
Jika dipercaya mengemban tugas diplomatik, pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat hubungan Indonesia-Filipina.
Perjalanan Frits pun menjadi kisah tentang perubahan arah hidup: dari seorang anak yang mengasong koran di jalanan Bendar, kemudian menjadi wartawan di Jakarta, menempuh pendidikan tinggi di Manila, hingga kini didorong untuk mewakili Indonesia di negara yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.







