Kampiunnews | Jakarta – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kinerja PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang dinilainya serius dalam melakukan pembenahan terhadap kompetisi sepak bola nasional. Menurut Erick, sejumlah kebijakan dan terobosan yang diambil LIB dalam dua tahun terakhir sejalan dengan visi dan arah kebijakan induk organisasi PSSI.
“Apresiasi untuk LIB. Dalam dua tahun terakhir, banyak terobosan baru di Liga. PSSI sendiri fokus pada Timnas Indonesia, sebagaimana federasi di negara lain yang menjadikan Timnas sebagai prioritas utama,” ujar Erick saat menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT LIB di Jakarta, Senin (7/7).
Sebagai pengelola liga, LIB bersifat independen, sementara PSSI hanya memiliki satu persen saham. Meski demikian, Erick menilai koordinasi antara PSSI dan LIB telah berjalan harmonis dan produktif. Salah satu bentuk sinergi tersebut adalah kesepakatan kalender liga untuk tiga tahun ke depan yang disusun untuk mendukung agenda Timnas Indonesia.
Erick juga menyoroti berbagai langkah perbaikan yang terus didorong, termasuk penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) sejak musim lalu, yang kini diperluas ke Liga 2 — capaian yang bahkan belum dilakukan oleh beberapa liga di negara maju seperti Liga Championship Inggris.
“Saya mengapresiasi bahwa Liga telah banyak membuat perubahan, termasuk dalam pembangunan sistem perwasitan. Di PSSI, sudah ada Ogawa. Tahun depan kami akan menggunakan wasit asing, tetapi tidak lebih dari 30 persen, agar wasit lokal tetap mendapat ruang berkembang,” jelas Erick.
Lebih lanjut, Erick mengumumkan rekrutan terbaru LIB, yakni Takeyuki Oya asal Jepang yang ditunjuk sebagai General Manager (GM) Competition and Operation. Oya memiliki pengalaman selama 16 tahun mengelola J League, liga sepak bola profesional Jepang.
“Ini terobosan penting. Oya direkrut karena pengalamannya yang mumpuni. Kehadirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas kompetisi liga kita,” ujarnya.
Erick juga mengingatkan pentingnya memberi waktu bagi proses perubahan untuk berjalan secara bertahap namun konsisten.
“Saya percaya pada proses. Jangan buru-buru menuntut hasil dalam sebulan. Perubahan memerlukan waktu. Transformasi yang terjadi di Liga bukan karena tekanan, tapi karena kesadaran bahwa potensi kita besar,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keseriusan pemerintah, PSSI, dan LIB dalam membangun sepak bola nasional harus mendapat dukungan dari seluruh elemen — termasuk masyarakat dan suporter.
“Kalau bangsa kita tidak melihat potensi ini, ada yang salah. Oya memilih Indonesia di antara banyak tawaran karena melihat komitmen yang serius dari pemerintah. PSSI punya komitmen, Liga punya komitmen. Maka kami harap publik juga punya komitmen yang sama untuk memberi kesempatan sepak bola kita berkembang,” pungkas Erick.






