Kampiunnews|Jakarta – Sebanyak 11 pemain sepak bola asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat motivasi dan wejangan langsung dari tokoh sepak bola nasional, Fary Djemi Francis, usai mengikuti seleksi Elite Pro Academy (EPA) Super League di Garudayaksa Training Ground, Bekasi.
Kesebelas pemain tersebut merupakan hasil seleksi dilakukan oleh Bintang Timur Atambua Academy (BeTA) yang digelar di Kota Kupang bulan lalu. Mereka berasal dari kelompok usia U-16, U-18, dan U-20, serta mengikuti proses seleksi selama tiga hari bersama para pemain muda terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Fary Djemi Francis bersama manajemen Bintang Timur Atambua itu menjadi momen penuh inspirasi. Selain mendengarkan pengalaman para pemain selama mengikuti seleksi, Fary memberikan motivasi agar mereka tidak berhenti bermimpi dan terus bekerja keras mengejar karier sebagai pesepak bola profesional.
Elite Pro Academy (EPA) Super League merupakan kompetisi pembinaan usia muda yang dikelola klub-klub Liga Super Indonesia sebagai bagian dari sistem pengembangan pemain profesional. Program ini menjadi jalur penting dalam membina talenta muda Indonesia agar mampu bersaing di level nasional hingga internasional.
Tidak hanya mengasah kemampuan teknis, EPA juga membentuk karakter, disiplin, serta mentalitas profesional sebagai bekal menuju level tertinggi, termasuk memperkuat Tim Nasional Indonesia.
Melalui kolaborasi Garudayaksa FC dan BeTA Academy, peluang bagi pemain muda asal NTT untuk tampil di kompetisi elite nasional kini semakin terbuka.
Fary Francis: Jangan Pernah Takut Bermimpi
Dalam pertemuan tersebut, Fary Djemi Francis menegaskan bahwa talenta sepak bola NTT tidak kalah dengan daerah lain. Menurutnya, yang paling dibutuhkan adalah akses, kesempatan, dan sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Saat ini yang dibutuhkan adalah akses, kesempatan, dan sistem pembinaan yang berkelanjutan bagi generasi muda NTT. Kolaborasi Garudayaksa FC dan BeTA Academy hadir untuk membuka jalan bagi anak-anak NTT agar berkembang menjadi pemain profesional dan suatu hari membela Timnas Indonesia,” ujar Komisaris Utama PT. TASPEN (Pesero) Fary Francis.
Mendengar pengalaman para pemain selama mengikuti seleksi EPA, Fary mengaku semakin optimistis bahwa dalam waktu dekat akan ada putra-putra terbaik NTT yang mampu menembus skuad Garudayaksa FC di kompetisi Elite Pro Academy musim 2026/2027.
Ia pun berpesan agar seluruh pemain tetap menjaga semangat, disiplin, dan kerja keras, meskipun hasil seleksi nantinya belum tentu langsung sesuai harapan.
“Jangan pernah kehilangan harapan hanya karena satu proses seleksi. Sepak bola adalah perjalanan panjang. Teruslah berlatih, jaga disiplin, dan jangan berhenti belajar. Kesempatan akan datang kepada mereka yang benar-benar mempersiapkan diri.”
Fary juga mengingatkan bahwa setiap pemain membawa harapan keluarga, pelatih, dan masyarakat NTT yang ingin melihat semakin banyak putra daerah tampil di level tertinggi sepak bola Indonesia.
“Kalian harus yakin bisa memenuhi harapan orang tua dan para pelatih yang telah membina sejak usia dini. Percayalah pada kemampuan sendiri. Tidak ada alasan anak-anak NTT tidak bisa bersaing dengan pemain dari daerah lain jika terus bekerja keras dan memiliki mental juara.”
Menurut Fary, keberhasilan menembus Elite Pro Academy bukanlah tujuan akhir, melainkan awal perjalanan menuju sepak bola profesional.
“EPA adalah pintu masuk. Setelah itu masih ada perjalanan yang lebih besar menuju Liga Super, bahkan Timnas Indonesia. Karena itu jangan cepat puas. Jadikan setiap latihan sebagai kesempatan untuk berkembang dan membuktikan kualitas kalian.”
Sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Garudayaksa FC, Fary menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dan memperluas akses bagi talenta muda NTT agar mendapatkan kesempatan yang sama dengan pemain dari daerah lain.
“Sebagai pembina, saya akan terus mendorong agar semakin banyak pemain BeTA Academy dan anak-anak NTT bisa tampil di Elite Pro Academy, berkembang menjadi pemain profesional, hingga suatu saat mengenakan seragam Merah Putih.”
Bagi Fary Francis, keberhasilan pemain muda NTT menembus Elite Pro Academy bukan hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Ia meyakini bahwa provinsi yang selama ini dikenal memiliki banyak talenta sepak bola akan terus melahirkan pemain-pemain berkualitas apabila mendapatkan pembinaan yang tepat, kompetisi yang berjenjang, dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.
Kolaborasi Garudayaksa FC dan BeTA Academy diharapkan menjadi model pembinaan sepak bola usia muda yang mampu membuka jalan lebih luas bagi talenta-talenta dari daerah, sehingga semakin banyak pemain NTT yang berkiprah di kompetisi nasional, bahkan memperkuat Timnas Indonesia di masa mendatang.
Dengan semangat, optimisme, dan pembinaan yang berkelanjutan, mimpi melihat putra-putra NTT berlaga di Elite Pro Academy hingga level profesional kini bukan lagi sekadar angan, melainkan target yang terus diperjuangkan bersama.
Legenda sepak bola NTT Muchlis Lapitonang mengapresiasi manajemen Bintang Timur Academy (BeTA) yang telah mendukung penuh para pemain selama mengikuti seleksi Elite Pro Academy (EPA) Super League di Jakarta.
“Selama mengikuti seleksi di Jakarta, biaya transportasi dan akomodasi ditanggung Bintang Timur Academy. Ini merupakan bentuk perhatian dan dukungan yang sangat membantu perjuangan anak-anak,” ujar Muchlis.
Muchlis berharap inisiatif yang dilakukan Bintang Timur Academy dapat menjadi inspirasi bagi klub, akademi, pemerintah daerah, maupun para penggiat sepak bola lainnya di NTT untuk bersama-sama membuka jalan bagi talenta muda daerah.
“Saya berharap apa yang dilakukan BeTA bisa diikuti oleh lebih banyak penggiat sepak bola di NTT. Anak-anak kita memiliki bakat dan semangat yang luar biasa. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pembinaan yang berkelanjutan, serta dukungan nyata agar bisa berkembang dan menembus kompetisi Elite Pro Academy hingga sepak bola profesional Indonesia,” tutup Muchlis.






