Kampiunnews|Jakarta – Semangat kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 diwujudkan Perempuan Indonesia Maju (PIM) melalui Festival Kebaya Merah Putih yang digelar bersama Perkumpulan Perempuan Minang Indonesia (PPMI), Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Bakesbangpol Provinsi DKI Jakarta, dan Hotel Borobudur Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Mengangkat tema ekonomi kreatif dan budaya, kegiatan tersebut diisi Talk Show “Ekonomi Kreatif & Budaya”, Parade Kebaya Merah Putih, pertunjukan seni, fashion show, serta kegiatan yang melibatkan anak-anak dan generasi muda.
Ketua Umum PIM Lana T. Koentjoro menegaskan, Festival Kebaya Merah Putih bukan sekadar perayaan budaya, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi, pemberdayaan perempuan, dan pengembangan ekonomi kreatif.
“Ketika perempuan dari berbagai latar belakang dan organisasi dapat duduk bersama, bekerja bersama, dan menghadirkan kegiatan yang positif, tentu akan memberikan energi besar bagi kemajuan perempuan dan bangsa Indonesia,” ujar Lana.
Menurutnya, perempuan harus menjadi kekuatan penggerak pembangunan, baik melalui kemandirian ekonomi, kreativitas, pendidikan, maupun pelestarian budaya. Karena itu, kolaborasi antarorganisasi perempuan perlu diarahkan pada program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Tujuan kita sama, yaitu membangun persatuan, memperkuat peran perempuan, dan bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia yang kita cintai,” tegasnya.
Lana juga menilai keterlibatan anak-anak dan generasi muda sangat penting untuk memastikan nilai budaya Indonesia tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Melalui kegiatan seperti ini kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap budaya, persatuan, dan Indonesia sejak dini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PPMI Bundo Suherni Syam mengapresiasi kolaborasi berbagai organisasi perempuan dalam Festival Kebaya Merah Putih. Ia menilai persatuan perempuan menjadi modal penting untuk memperkuat gerakan sosial, budaya, dan ekonomi.
“Perempuan Indonesia memiliki kekuatan besar ketika mampu bersatu, membangun jejaring, dan saling mendukung dalam berbagai bidang. Kalau bersatu, kita akan kuat,” ujarnya.
Ketua Umum KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kebaya tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan pemberdayaan perempuan, UMKM, pendidikan, kesehatan, industri kreatif, dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Kebaya bukan sekadar busana. Kebaya adalah identitas, budaya, sejarah, sekaligus peluang ekonomi bagi perempuan Indonesia,” ujar Nannie.
Nannie mendorong agar gerakan berkebaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dikembangkan secara berkelanjutan di berbagai daerah. Ia juga menekankan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi bagi UMKM perempuan agar mampu meningkatkan daya saing.
Menurutnya, pengenalan kebaya kepada generasi muda juga perlu diperkuat sejak lingkungan pendidikan sehingga tumbuh rasa bangga terhadap budaya Indonesia.
Festival Kebaya Merah Putih sekaligus menjadi momentum mempertemukan budaya dengan ekonomi kreatif. Parade dan fashion show memberikan ruang bagi desainer serta pelaku UMKM untuk memperkenalkan karya sekaligus membuka peluang pasar.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh organisasi perempuan, antara lain Pembina DPP PIM Tantri Relatami, Rektor UNIPI sekaligus Dewan Pembina DPP PIM Prof. Dr. Francisca Sestri, Dewan Pengawas DPP PIM Soraya Togas, serta Ketua Umum BPP HIPMI Womenpreneur Aisyah Melissa Hamid.
Sejumlah desainer dan pelaku industri kreatif juga turut mendukung kegiatan, di antaranya Bhyandha by Halida Noor, MIWA Pattern by Mira Hoeng, Enny Collection by Enny, Edith House by Edita, Imogen by Sasa, Rizz Ashar by Fariz Ashar, Meemaa Style, Rakuna by Ratna Kurnia, Opie Ovie, dan Lenny Agustin.







