Kampiunnews|Bone – Kelangkaan gas LPG 3 kilogram yang terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dalam sepekan terakhir memicu lonjakan harga di tingkat pengecer. Di sejumlah kios dan pangkalan, harga tabung gas bersubsidi tersebut dilaporkan telah mencapai Rp30.000 per tabung, jauh di atas harga yang biasa dibayar masyarakat.
Kondisi ini membuat warga di berbagai wilayah Kabupaten Bone mengeluhkan sulitnya memperoleh LPG 3 kg. Selain pasokan yang terbatas, kenaikan harga dinilai semakin membebani pengeluaran rumah tangga maupun pelaku usaha kecil yang bergantung pada gas bersubsidi.
Salah seorang warga, Ibu Suri, mengaku selama ini membeli LPG 3 kg dengan harga berkisar Rp21.000 hingga Rp23.000. Namun dalam beberapa hari terakhir, harga melonjak hingga Rp30.000 per tabung.
“Biasanya saya beli Rp21.000 sampai Rp23.000, sekarang sudah Rp30.000. Lumayan berat buat kami, apalagi kebutuhan rumah tangga sedang banyak,” ujarnya, Jumat (31/7).
Keluhan serupa disampaikan seorang pedagang nasi kuning yang berjualan di jalur poros Bone–Makassar. Ia mengaku kenaikan harga LPG berdampak langsung pada biaya operasional usahanya dan berharap distribusi gas segera kembali normal.
Sementara itu, Asri, warga Kelurahan Macege, menduga sebagian pengecer memanfaatkan kondisi kelangkaan dengan menaikkan harga jual. Namun dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dari pihak terkait.
“Sepertinya ada penjual yang memanfaatkan situasi kelangkaan ini dengan menaikkan harga gas,” katanya.
Di sisi lain, beberapa pedagang LPG yang enggan disebutkan identitas maupun lokasi usahanya mengaku kenaikan harga bukan semata-mata karena faktor keuntungan, tetapi akibat pasokan yang semakin terbatas sementara permintaan masyarakat terus meningkat.
Menurut mereka, jika sebelumnya stok LPG dapat bertahan hingga tiga sampai lima hari, kini pasokan yang datang sering kali habis hanya dalam hitungan jam.
“Kami juga kesulitan. Biasanya stok bertahan beberapa hari, sekarang baru datang sudah langsung habis karena permintaan sangat tinggi,” ujar salah seorang pedagang.
Sejumlah warga menyebut meningkatnya permintaan LPG 3 kg diduga menjadi salah satu penyebab kelangkaan. Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, tabung gas bersubsidi tersebut mulai banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk mengoperasikan mesin pompa air di lahan persawahan sebagai pengganti bensin atau Pertalite.
Apabila informasi tersebut benar, peningkatan konsumsi di sektor pertanian diperkirakan turut memengaruhi ketersediaan LPG bagi kebutuhan rumah tangga. Namun, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai penyebab utama kelangkaan maupun lonjakan harga LPG 3 kg di Kabupaten Bone.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama PT Pertamina dan instansi terkait segera melakukan evaluasi terhadap distribusi LPG bersubsidi, memastikan pasokan kembali normal, serta mengawasi harga di tingkat pangkalan maupun pengecer agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan energi rumah tangga dan pelaku usaha mikro tetap terpenuhi tanpa harus menanggung beban biaya yang lebih tinggi. (red_subaer)






