Kampiunnews I Jakarta- Presiden Jokowi tampaknya fokus dan antusias untuk menuntaskan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di akhir masa jabatan periode keduanya pada 2024. Salah satu karya monumental yang bakal dicatat sepanjang sejarah adalah pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara Kalimantan Timur.
Namun siapa sangka karya monumental tersebut ternyata dibackup oleh beberapa investor Indonesia yang rela mengucurkan Rp 20 triliun demi membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Berikut nama – nama taipan yang menginvestasikan dananya demi IKN.
Konsorsium nusantara pimpinan Bos Agung Sedayu Group Sugianto Kusuma alias Aguan.
“Terima kasih Pak Aguan dan kawan-kawan. (Investasi) ini memberikan kepercayaan diri kepada investor ke Nusantara,” kata Jokowi dalam sambutannya di IKN, Kamis pekan lalu.
“Tidak mungkin beliau mau mulai dengan Rp 20 triliun kalau tidak ada cuan, dipikir beliau-beliau ini lembaga sosial? Bukan. Mereka datang menanamkan modalnya pasti mencari keuntungan sebesar-besarnya. Itu wajar,” sambungnya.
Berikut profil singkat pengusaha lokal yang investasi di IKN seperti dikutip dari berbagai sumber:
1. Sugianto Kusuma alias Aguan (Agung Sedayu Group) didapuk sebagai pimpinan konsorsium nusantara.
Ia adalah pendiri Agung Sedayu Group yang berkecimpung di industri properti Indonesia, mulai dari apartemen, mal, hotel, hingga industrial estate.
Aguan juga pernah menjadi wakil komisaris utama PT Bank Artha Graha 1990-1999. Usai penggabungan PT Bank Inter-Pacific Tbk dan PT Bank Artha Graha Tbk, Aguan kembali dipercaya sebagai wakomut PT Bank Artha Graha Internasional Tbk.
Ia dan keluarganya juga menguasai 50 persen saham PT Cahaya Kusuma Abadi Sejahtera (CKAS).
2. Anthony Salim (Bos Indofood dan Salim Group) Anthony Salim pemilik perusahaan mie instan di Indonesia yang produknya dibawah bendera Indofood terkenal hingga mancanegara, mulai dari Nigeria hingga Amerika Serikat.
Cuan Salim juga datang dari kelapa sawit via Indofood Agri Resources Ltd. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini bergerak di bidang agribisnis, seperti pembibitan, pembudidayaan dan penggilingan kelapa sawit, pemasaran minyak goreng dan margarin, hingga produk turunan minyak sawit lainnya..
3. Franky Wijaya (Sinar Mas)
Franky Wijaya atau Franky Oesman Widjaja merupakan salah satu putra konglomerat sekaligus pendiri Sinar Mas, yakni Eka Tjipta Widjaja. Franky meneruskan bisnis keluarganya, terlebih karena sang ayah meninggal pada 2019 lalu.
Berdasarkan situs Sinar Mas, Franky merupakan CEO Golden Agri-Resources Ltd, yang merupakan anak usaha grup tersebut. Ia bersama dua saudaranya, Indra dan Muktar Widjaja saling mengisi posisi tertinggi di Sinar Mas Group.
4. Pui Sudarto (Pulauintan)
Pui Sudarto merupakan salah satu raja konstruksi di Indonesia. Ia adalah pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Pulauintan Bajaperkasa Konstruksi yang berdiri sejak 1990 lalu.
Mengutip detikcom, Pui sempat sulit orderan di masa krisis moneter 1998. Namun, perusahaannya kala itu masih sanggup menerima proyek pembangunan gedung parkir di Pasaraya Blok M.
Ia lantas mendiversifikasi bisnisnya sejak 2004. Pui mengantongi saham di berbagai proyeknya, mulai dari pusat perbelanjaan, gedung kantor, jasa pembersih gedung, apartemen, hotel hingga rumah sakit.
5. Prajogo Pangestu (Barito Pacific)
Prajogo Pangestu adalah orang terkaya keempat di Indonesia saat ini versi Forbes. Hartanya menyentuh US$10,5 miliar yang bersumber dari bisnisnya di Barito Pacific Tbk, yakni perusahaan di sektor petrokimia dan energi.
6. Garibaldi alias Boy Thohir (Adaro)
Garibaldi alias Boy Thohir adalah kakak dari Menteri BUMN Erick Thohir. Boy dikenal sebagai raja batu bara hingga tuan tanah.
Ia merupakan Direktur Utama Adaro Group, yakni salah satu eksportir batu bara top di dunia. Dari situlah pundi-pundi uang masuk ke kantong Boy.
Pada akhir 2021 lalu, Presiden Jokowi dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dibuat kaget dengan pemilik tanah untuk kawasan industri hijau di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Ternyata, Boy Thohir pemilik lahan tersebut.
“Jujur, kami juga tadinya tidak mengerti siapa yang punya tanah di sini. Setelah kami meninjau ke daerah ini, mengirimkan tim, kami baru menemukan bahwa yang memiliki adalah Boy Thohir,” kata Luhut pada akhir Desember 2021 lalu.
7. Soeryadjaya (Astra) International yang didirikan oleh taipan bernama William Soeryadjaya alias Oom Willem pada 1957 lalu.
8. Eka Tjandranegara (Mulia Group)
Direktur Utama Mulia Group Eka Tjandranegara merupakan bagian dari konsorsium yang membantu Jokowi menggarap IKN. Eka adalah orang di balik sejumlah gedung pencakar langit dan bangunan mewah di Indonesia, seperti Wisma Mulia berlantai 57, Mal Taman Anggrek, hingga Mulia Resort di Bali.
Mulia Group didirikan pada 1970 lalu oleh Eka bersama sang ayah Tjandra Kusuma, adiknya Gunawan Tjandra, dan sang kakak Djoko S Tjandra.
9. Djoko Susanto (Alfamart Group)
Sama seperti Prajogo, Djoko Susanto adalah 10 orang terkaya di Indonesia yang ikut membangun IKN. Bos Alfamart Group itu menduduki urutan 8 dengan koleksi harta US$4,3 miliar.
Anak keenam dari sepuluh bersaudara ini disebut hanya mengenyam pendidikan dasar sebelum akhirnya putus sekolah. Sejak kecil, ia sudah diminta mengelola sejumlah warung makan, menjajakan rokok, hingga membuka beberapa toko kelontong.
Mengutip detikcom, Djoko sukses membuka 560 gerai warung kelontong yang tersebar di berbagai pasar tradisional. Keberhasilannya membuat Putera Sampoerna meliriknya untuk bekerja sama pada 1989 dan membuka 15 kios rokok di Jakarta.
Kerja sama berlanjut hingga berdirilah Alfa Toko Gudang Rabat yang merupakan toko grosir yang berlokasi di gudang milik Sampoerna di Jalan Lodan, Jakarta Pusat. Dari sinilah cikal-bakal Alfamart.
Namun, Putera Sampoerna menjual bisnis rokoknya ke Philip Morris pada 2005 sehingga kerja sama dengan Djoko berakhir. Djoko tetap melanjutkan perjalanan bisnisnya di bawah naungan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yang sudah punya 19 ribu gerai Alfamart di seluruh Indonesia dan 1.200 lainya di Filipina.
Alfamart Group dijalankan oleh kedua anak Djoko, yakni Presiden Komisaris Feny Djoko Susanto dan Komisaris Budiyanto Djoko Susanto.






