Kampiunnews|Kupang – Pemerintah Kota Kupang mulai menunjukkan keseriusannya membenahi persoalan sampah yang selama ini menjadi salah satu keluhan paling nyata warga.
Komitmen itu terlihat saat Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menerima audiensi Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Haruki Agustina, bersama jajaran, di ruang kerja Wali Kota Kupang, Rabu (8/4).
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah pusat mendorong Kota Kupang menjadi pilot project atau kota percontohan pengelolaan sampah di NTT. Menurut pemerintah pusat, sebagai ibu kota provinsi, Kupang seharusnya tampil sebagai contoh dalam pembenahan lingkungan dan tata kelola persampahan.
“Kami ingin ada satu daerah di NTT yang bisa menjadi role model, dan Kota Kupang punya potensi itu,” ujar Haruki.
Wali Kota Kupang menyambut dorongan itu dengan menegaskan bahwa pengelolaan sampah kini menjadi salah satu agenda prioritas Pemkot Kupang. Ia menyebut, pemerintah daerah tengah menyiapkan sistem pengelolaan dari hulu ke hilir, termasuk target pembangunan TPST di setiap kecamatan.
Saat ini, Kota Kupang menghasilkan sekitar 267 ton sampah per hari, angka yang menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan lagi isu kecil, melainkan tantangan serius yang menyentuh wajah kota, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
“Kami tidak mau lagi hanya memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain. Harus ada pengolahan,” tegas Christian Widodo.
Meski pemerintah pusat memberi apresiasi dan nilai pengelolaan sampah Kota Kupang naik dari 41,93 menjadi 50,8, realitas di lapangan masih menyisakan banyak catatan.
Di sejumlah titik, tumpukan sampah, keterlambatan pengangkutan, lemahnya budaya pilah sampah, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjadi persoalan yang kerap dikeluhkan warga.
Artinya, rencana besar menjadikan Kupang sebagai kota percontohan sampah harus dibuktikan lewat hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat, bukan hanya lewat dokumen, penilaian, atau seremoni rapat.
Jika ingin serius menjadi pilot project, maka Pemkot Kupang perlu memastikan bahwa: jadwal angkut sampah berjalan disiplin, TPST benar-benar dibangun dan berfungsi, edukasi warga tidak berhenti di slogan, dan pengawasan di lapangan dilakukan secara konsisten.
Tanpa itu, konsep zero waste berisiko hanya menjadi jargon yang bagus di atas kertas, tetapi lemah dalam pelaksanaan.
Meski begitu, langkah awal yang sedang dibangun tetap patut diapresiasi. Pemerintah pusat bahkan siap memberi pendampingan, termasuk mendorong kolaborasi dengan dunia usaha dan BUMN untuk mendukung pengolahan sampah menjadi sesuatu yang lebih produktif dan bernilai ekonomi.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar menyusun roadmap, tetapi mengeksekusi perubahan secara nyata di lapangan.
Kupang memang punya peluang besar untuk menjadi wajah baru pengelolaan sampah di NTT. Namun peluang itu hanya akan berarti jika pemerintah daerah mampu menjawab satu hal paling mendasar: warga harus benar-benar melihat kota ini lebih bersih, lebih tertib, dan lebih terkelola. (tono_wb)






