Kampiunnews | Jakarta – Terpilihnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) periode 2023-2027 dalam Kongres Luar Biasa (KLB) pada Kamis (16/2) lalu merupakan angin segar bagi dunia olahraga tanah air.
Erick Thohir pun berjanji akan melakukan perombakan besar di tubuh asosiasi yang berdiri pada tahun 1930 itu.
Para pengamat sepak bola tanah air mengatakan tantangan besar harus dilakukan Erick Thohir untuk mengatasi carut marut sepak bola Indonesia.
Mulai dari skandal pengaturan skor, kericuhan penonton, serta buruknya infrastruktur menjadi permasalahan puluhan tahun di dunia sepak bola tanah air.
Teranyar, pada Oktober tahun lalu, 135 orang meninggal dunia di Malang, Jawa Timur, setelah polisi menembakkan gas air mata ke dalam stadion yang penuh sesak akibat merangseknya para suporter ke lapangan menyusul kekalahan tim tuan rumah Arema FC melawan Persebaya Surabaya.
Tak pelak lagi, jajaran pengurus PSSI disuruh mundur.
Menurut mantan pemain sepak bola nasional dan pensiunan pelatih, Djadjang Nurdjaman, dirinya yakin akan kemampuan Erick Thohir memimpin PSSI hingga tahun 2027.
“Erick Tohir sangat berpengalaman di dunia sepak bola, dan dia punya niat baik untuk melakukan pembenahan,” ujarnya kepada media.
Lalu menurut Justinus Lhaksana, seorang analis sepak bola yang berbasis di Jakarta, Menteri BUMN Erick Thohir merupakan pilihan terbaik di antara segelintir kandidat.
Menurut mantan pelatih tim nasional futsal juga komentator di berbagai acara olah raga tersebut, kiprah manajerial serta pengalaman Erick sebagai pemilik beberapa klub sepak bola akan mendukung sepak terjangnya sebagai ketua baru PSSI.
Pria yang kerap dipanggil Coach Justin, menambahkan dirinya optimis dengan ketua baru ini. Tapi soal mampu menyelesaikan semua masalah, kemungkinan besar tidak.
Lebih jauh dijelaskan Justinus, jika bicara tentang sepak bola Indonesia, ada banyak masalah yang harus segera dibereskan.
Erick Thohir dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama isu jadwal pertandingan, pembinaan pemain muda, serta pengembangan kualitas wasit.
“Kalau Erick Thohir bisa memperbaiki setengahnya saja, saya kira itu sudah bagus sekali, karena masalah sepak bola Indonesia itu sangat luas. Jadi hampir tidak mungkin bisa diselesaikan dalam empat tahun,” kata Justinus.
Ia menambahkan, yang sebaiknya menjadi prioritas adalah penataan jadwal liga, pembinaan pemain muda, serta peningkatan kualitas wasit.
“Kalau dia bisa melakukannya, itu akan sangat bagus untuk masa depan liga sepak bola Indonesia,” tambah lagi menjelaskan.
Sementara itu, Presiden klub sepak bola Bali United, Yabes Tanuri menyoroti penjadwalan pertandingan sepak bola membutuhkan perhatian ekstra.
“Jadwalnya bermasalah. Kalau jadwalnya tidak jelas, sulit buat tim-tim untuk mempersiapkan diri, berlatih, dan menyewa lapangan. Banyak sekali yang kena imbasnya,” ujar Yabes.
Ia mencontohkan, perubahan jadwal beberapa kali terjadi di Liga Utama Inggris, namun pihak-pihak terkait biasanya diberi tahu sebulan sebelumnya, tidak seperti di Indonesia.
Di tanah air, sebagian besar klub sepak bola tidak memiliki stadion dan harus menyewa tempat milik pemerintah daerah. Jadwal kompetisi pun harus disusun sedemikian rupa agar tidak bertabrakan dengan acara-acara lain di lokasi yang sama.
Sesuai peraturan PSSI, susunan jadwal pertandingan sudah harus ditentukan dua pekan sebelum pelaksanaan, namun perubahan dapat dilakukan sekurang-kurangnya tujuh hari sebelumnya. Ketika skenario terakhir ini terjadi, klub-klub jelas kelimpungan untuk menyewa tempat.
Hal senada juga disampaikan Komisaris dan Manajer Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (Persib), Umuh Muchtar. Ia lebih menyoroti masalah kualitas wasit.
Menurut Umuh, wasit harus lebih objektif.
“Mudah-mudahan Erick bisa menangani hal ini. Dan dia bisa mengambil keputusan-keputusan tegas dan akurat, dan kalau bisa sekalian beli VAR (video assistant referee). Kalau ada VAR wasit tidak bisa semaunya lagi.”
Djadjang Nurdjaman, mantan pelatih beberapa klub besar Indonesia seperti Persib dan Persebaya Surabaya, sepakat.
“Permasalahannya itu banyak sekali. Mulai dari jadwal kompetisi yang jauh dari bagus, terlalu mepet dan sering berubah-ubah, sampai ke kualitas wasit, dan masih banyak lagi.
“Tapi yang paling mendesak untuk dibenahi adalah kualitas kompetisi dan pembinaan pemain muda, sebab di Asia Tenggara saja kita tidak bisa menang lawan Thailand dan Vietnam,” ujar Djadjang.
Erick Thohir maupun Presiden Jokowi menyadari betul masalah-masalah ini.
Seiring wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan, yakni ke kawasan yang menurut rencana akan dinamai Nusantara, satu pusat pelatihan sepak bola pun akan dibangun di sana.
“Lapangan sepak bolanya PSSI ini akan segera dikerjakan dan diharapkan selesai tidak lebih dari satu tahun,” ujar Jokowi, didampingi Erick Thohir, ketika mengunjungi calon ibu kota baru di Kalimantan Timur tersebut pada 24 Februari lalu. Menurut Jokowi, pembangunan lapangan itu akan didanai oleh FIFA.
Presiden juga menyampaikan bahwa 22 stadion sepak bola telah diaudit menyusul tragedi bulan Oktober lalu di Malang.
Menurut Jokowi, dari 22 stadion tersebut, lima stadion dinyatakan rusak berat, empat stadion butuh rehabilitasi dan satu harus dibongkar.
Presiden menambahkan bahwa sisanya dinilai rusak taraf sedang maupun ringan, dan rangkaian renovasi perlu dilakukan.
Jokowi juga menyampaikan bahwa Stadion Kanjuruhan, lokasi tragedi di Malang, masih dalam proses desain ulang sebelum perombakan total dapat dimulai.
Jokowi juga menyampaikan bahwa Stadion Kanjuruhan, lokasi tragedi di Malang, masih dalam proses desain ulang sebelum perombakan total dapat dimulai.
Di tanah air, selain isu infrastruktur dan organisasional, kericuhan suporter serta kematian akibat kecelakaan terkait sepak bola terus membayangi olah raga ini.
Dalam 28 tahun terakhir, lebih dari 200 orang telah meninggal dunia dalam berbagai insiden terkait.
Dalam satu unggahan di Instagram setelah pengangkatannya, Erick Thohir menyatakan bahwa Indonesia perlu menyelenggarakan “pertandingan sepak bola yang aman dan menyenangkan.”
Menurut Justinus, isu keamanan suporter sepak bola di negara ini tergolong signifikan.
“Saya sudah nonton sepak bola lebih dari 40 tahun. Bukan cuma satu atau dua tahun.
“Tapi jujur saja, saya belum pernah nonton pertandingan di sini karena merasa tidak aman,” ujar Justinus.
Pun demikian, menurutnya, mengatasi masalah kegaduhan suporter bukan sama sekali tak mungkin.
“Sederhana kok. Ikuti saja standar FIFA: Perkuat panitia pelaksana dan keamanan — sesimpel itu.
“Tidak sulit, tapi mereka harus kucurkan lebih banyak uang. Mereka harus keluar lebih banyak uang supaya ada lebih banyak orang dan petugas polisi untuk mengamankan area di luar stadion… Ini semua akhirnya soal anggaran,” jelasnya.
Ia pun menambahkan bahwa klub-klub harus lebih aktif mengedukasi para suporter.
Yabes Tanuri dari Bali United mengklaim bahwa pertemuan dengan koordinator lapangan dilakukan secara teratur untuk membahas berbagai masalah. Para koordinator yang biasanya sukarelawan ini menjadi perantara informasi dari klub kepada suporter.
“Tapi walaupun kami ketemu dengan para pendukung, kami tidak mungkin menemui semuanya, jumlahnya puluhan juta orang.
“Dan banyak yang tidak tergabung di kelompok suporter, jadi upaya ini butuh waktu.” [Red]






