Kampiunnews | Jakarta – Pemilu 2024 segera usai. Perhitungan telah memastikan calon DPR Dapil Dua NTT Partai Gerindra bernama lengkap Serena Cosgrova Francis belum berhasil melenggang ke Senayan. Namun, kehadiran Serena dalam pentas politik di NTT meninggalkan jejak yang patut dicermati. Menarik bahwa pada Pemilu kali ini bermunculan para pemain baru dalam arena politik. Mereka bukan hanya baru, tapi dengan usia yang masih sangat muda. Iya seperti Serena misalnya. Atau masih ada juga Gavriel P. Novanto, putera Setya Novanto.
Dari pencalonan DPD misalnya ada pendatang Stevi Harman yang langsung melejit dengan raiahan suara terbanyak. Ada juga El Asamau yang kendati belum berhasil, namun mendapat dukung fenomenal dari masyarakat.
Tampilnya beberap anak muda itu membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih posisi penting di pemerintahan. Kehadiran mereka semakin mengukuhkan kesuskesan pemimpin politik muda, di tingkat global maupun nasional, yang kian berperan dalam membawa perubahan sosial, menata kebijakan, dan mengelola pemerintahan.
Kita kembali ke figur Serena. Ia hadir dan mewarnai pesta demokrasi tahun 2024. Kehadirannya memberi sumbangan sangat signifikan bagi partai Gerindra NTT. Capaian suaranya sebesar 39.000 tak bisa dianggap sepele. Angka itu merupakan petunjuk betapa kuatnya harapan dan kepercayaan yang diberikan masyarakat NTT.
Ia adalah contoh seorang calon pemimpin muda lokal yang berani mengambil bagian dalam kontestasi politik yang ketat dalam pemilihan DPR RI.
Perspektif Baru dalam Politik
Sebagai Manejer Academy Sepakbola Bintang Timur Atambua, Serena membawa semangat, inovasi, dan perspektif yang baru dalam politik. Keterwakilan generasi muda tidak hanya dilihat secara eksistensial namun juga secara gagasan. Namun tentu saja bukan sebuah gagasan kosong, tapi gagasan yang sedang diperjuangkan dan dibuktikan manfaatnya bagi masyarakat.
Kekuatan Serena seperti pada generasi muda pada umumnya ada pada nilai-nilai seperti integritas, kesederhanaan, ketulusan, ide dan kreativitas dalam menyampaikan pesan politik kepada masyarakat, kedekatan dengan rakyat. Mereka mampu mencuri perhatian dalam kampanye dengan menawarkan ide-ide inovatif yang menarik berbagai lapisan masyarakat.
Sebagai seorang calon pemimpin muda di masa depan, Serena telah mencuri perhatian masyarakat NTT dan menjadi buah bibir dalam kontestasi politik di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Serena mewakili Gen Z dan Milenial, merupakan aset NTT dan menjadi contoh kelayakan orang muda untuk memimpin NTT di masa depan. Kerap kali dirinya berhadapan dengan tantangan oligarki politik, masyarakat yang membolehkan dan bahkan menjustifikasi politik uang, kabar bohong dan ujaran kebencian, serta pragmatisme politik.
Siapa menyangka sebagai pendatang baru, pada awal perhitungan suara, Serena mampu memimpin perolehan suara di internal Partai Gerindra yang mengusung dirinya. Bahkan politisi gaek sekelas Esthon L. Foenay, Eurico Guters tak mampu mengejar perolehan suara gadis kelahiran tahun 1999 ini. Sayangnya, di ujung perhitungan rekapitulasi suara, Esthon mampu menyodok ke peringkat pertama meninggalkan Serena dengan seliisih 4.000 suara.
Ini menegaskan Serena berada di hati para pendukungnya. Serena mampu menunjukkan besar dan kuatnya dukungan masyarakat terhadapnya. Dia telah membawa semangat baru dan pemikiran segar ke dalam dunia politik NTT dengan gaya orang muda.

Sekalipun, di tengah dominasi politik incumbent seperti Melki Laka Lena, Anita Gah dan Ansy Lema, perolehan suara Serena anak milenial itu tidak hanya dipotret dalam situasi kekinian, tapi patut dipertimbangkan kehadirannya di masa depan karena memiliki potensi yang besar sebagai seorang pemimpin politik muda masa depan di NTT.
Hadirnya Serena, memberi kesan bagi masyarakat NTT, bahwa anak muda punya modal kuat dalam percaturan politik saat ini. Pertama, integritasnya mampu membedakan dirinya dari yang lain, masyarakat terpesona dengan prinsip-prinsip politik yang dibawanya.
Kedua, kepeduliannya terhadap kebutuhan masyarakat. Serena selalu bersedia mendengarkan dan berdialog dengan masyarakat, tidak banyak bicara, dia berusaha mengatasi kesulitan masyarakat dengan jaringan yang dimilikya.
Ketiga, membangun kesadaran kelompok. Hal dibangun Serena lewat interaksi dan pertukaran pengalaman dengan masyarakat. Seorang politisi muda tidak sekadar mendatangi calon pemilih dan menyampaikan programnya. Mereka juga perlu menumbuhkan nuansa kebersamaan. Ini merupakan upaya untuk menyentuh hati calon pemilih.
Keempat, membaca potret berpolitik anak muda. Bagi Serena, kalangan anak muda menjadi poros penting dalam peningkatan kualitas berpolitik di NTT. Mewakili Gen Z dan Milenial, Serena paham bahwa generasi muda merupakan garda depan dalam menyongsong masa depan bangsa. Tidak heran jika diperkotaan Serena mampu mendulang suara anak muda mengalahkan tokoh senior dan incumbent.
Meski keikutsertaan generasi muda dalam pemilu bukan satu-satunya bentuk partisipasi politik, namun dengan banyaknya anak muda yang datang ke tempat pemungutan suara, menunjukkan bahwa demokrasi memiliki harapan untuk semakin berkembang di masa depan. Kedepan diyakini tak lama lagi para ketua partai, kepala daerah, menteri, bahkan presiden, sangat mungkin diisi anak-anak muda.
Oleh karenanya, partai politik sebagai wadah rekrutmen politik di Provinsi NTT, harus mempersiapkan kader-kader mudanya, dan memberi mereka kepercayaan untuk posisi-posisi kunci. Hanya dengan cara itu parpol akan relevan dengan perkembangan zaman. Bila tidak, maka parpol akan menjadi aterfak yang ditinggalkan anak-anak muda.






