
Kampiunnews | Menjadi top leader dalam perusahaan sekelas BUMN memang menjadi dambaan setiap profesional bertalenta, tak terkucuali Orias Petrus Moedak. Namun, putra NTT kelahiran Kupang, NTT, 26 Agustus 1967 tersebut mengakui bahwa pencapaian karir profesionalnya itu bukan sebuah kebetulan atau buah dari jerip payahnya sendiri, tetapi karena rencana Tuhan. Tuhan yang menuntunnya.
Rupanya Orias terinspirasi oleh adagium klasik beraroma biblis, ”Manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan” (Amsal 16: 9). Bagi Orias adagium klasik tersebut bukan hanya sekedar ekspresi kesadaran eksistensial manusia sebagai mikrokosmos yang tak berdaya menghadapi kekuatan makrokosmos, tetapi merupakan kristalisasi dari pengalaman iman dari setiap anak manusia yang percaya kepada Tuhan, termasuk pengalaman faktual perjalanan karirnya yang mengagumkan itu.
Profesi yang digeluti dan membesarkan namanya di lingkungan BUMN sama sekali jauh dari cita-cita awalnya. Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Kupang dan Garut jurusan IPA tersebut pada awalnya bercita-cita menjadi Insinyur. Dia berharap dengan latar belakangan jurusan yang dipilihnya, dia bisa melanjutkan studi di IPB Bogor atau ITB Bandung, dua perguruan tinggi teknik ternama di negeri ini.
Ternyata rencana dan cita-citanya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orias malah lulus test di Universitas Pajajaran, Bandung jurusan akutansi. Sejak itu, cita-cita dan impian karirnya berbelok haluan. Dia tetap enjoy dan semangat menggeluti ilmu baru bidang akutansi tersebut.
“Tuhan mengatur lain. Saya lulus test di Universitas Pajajaran Bandung, jurusan Akutansi. Padahal saya dari IPA, bukan IPS. Ternyata bidang keuangan sangat menarik untuk dipelajari. Saya enjoy mempelajarinya,” ujarnya penuh semangat.
Sebelum menduduki posisi top leader di sejumlah BUMN, diantaranya PT Pelindo, PT Bukit Asam, PT Freeport Indonesia dan PT Inalum, baik sebagai Direktur Keuangan maupun Direktur Utama, Orias menapaki karir berliku. Usai menyelesaikan pendidikan tingginya, Orias mulai menapaki dunia kerja di kantor akuntan publik Erns & Young International (1991). Tiga tahun kemudian Orias mulai berkiprah di perusahaan plat merah (BUMN) hingga 2021.
Karirnya di perusahaan-perusahaan plat merah diawali sebagai karyawan biasa di bagian keuangan Bahana dan Dana Reksa. Ketekunan dan kinerjanya yang baik mengantarnya ke perusahaan plat merah lain, Pelindo 2 dan Pelindo 3. Tidak berhenti di situ saja, perziarahan karirnya terus mengalir seiring dengan kepercayaan dari top management BUMN. PT Bukit Asam, PT Freeport Inalum (MIND ID) yang merupakan holding pertambangan pernah merasakan sentuhan tangan dinginnya. Etos kerja yang mumpuni dan integritasnya kokoh secara bertahap mengantar Orias ke tangga top management sejumlah BMUN. Dari karyawan biasa, jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Pajajaran itu mencapai puncak karir sebagai Wakil Direktur Utama PT Freeport hingga sebagai Direktur PT Inalum. Perjalan karir yang luar biasa.
Namun, sosok yang pernah mengenyam pendidikan dasar di SDK Don Bosco 3 ini tidak jumawah. Dia tetap rendah hati. Dia merefleksikan bahwa perjalanan hidup dan pencapaian karirnya adalah campur tangan Tuhan. Dia belajar dari filosofi kura-kura di atas pagar, yang bertengger gagah bukan karena perjuangannya sendiri memanjat pagar, tetapi ditempatkan orang.
“Saya itu melihat diri saya seperti kura-kura di atas pagar. Dia tidak mungkin mampu memanjat pagar. Pasti ada tangan yang mengangkat dan menempatkannya di atas pagar. Saya juga demikian. Pencapaian karir saya hingga top leader bukan karena saya, tetapi karena ditempatkan oleh invisible hand (tangan tersembunyi) dan invisible hand itu adalah Tuhan sendiri,” ujarnya merendah.
Filosofi kura-kura di atas pagar yang merupakan ekspresi kesadaran eksistensialnya sebagai orang beriman tidak saja menjadi navigasi bagi Orias dalam bekerja, tetapi juga selalu menyuntikan energi baru dalam meningkatkan etos kerja dan berpegang teguh pada integritas. Karena itu dia tidak pernah mengeluh dalam menghadapi tantangan kerja dan teguh teguh dalam menghadapi godaan apapun.
Sudah menjadi rahasia umum, bagian keuangan merupakan tempat basah. Demikian juga posisi top leader, dianggap posisi basah. Namun sosok yang selalu tampil modis ini berusaha selalu tegas, keras dan jujur dengan diri sendiri. Baginya, kejujuran itu ibarat mata uang yang berlaku dimana-mana.
“You kalau jujur you dipakai dimana-mana. Tapi kalau you tidak dipakai karena you jujur, itu tidak apa-apa. Tidak ngotot mempertahankan jabatan atau posisi demi sebuah nilai yang dianggap baik. Ketika diganti, ya legowo. Tuhan yang mengatur hidup kita” tegasnya.
Belajar Dari Tukang Parkir
Menurut Orias, kejujuran merupakan rahim dari nilai-nilai kemanusiaan lainnya seperti dapat dipercaya, konsisten antara perkataan dan perbuatan, bertanggungjawab, berani menanggung resiko, tegas, mengedepankan pelayanan dan keteladanan serta mengutamakan kerja sama tim. Nilai-nilai itu terkristal dalam apa yang disebut integritas.
Namun harus diingat, kejujuran itu bukan faktor yang diberikan atau terjadi dalam waktu semalam. Kejujuaran adalah hasil internalisasi sejak dini melalui budaya dan kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan desain kehidupan (design for living) dari seorang anak manusia dari suku bangsa tertentu. Tidak ada orang yang lahir ke dunia dengan gen kejujuran dan integritas lainnya. Seorang anak belajar kejujuran dari lingkungannya dan selanjutnya berusaha keras dengan disiplin tinggi untuk membenah diri dari waktu ke waktu, sehingga menghasilkan kepribadian yang baik.
Orias menganalogikan etos kerja yang baik itu ibarat tukang parkir. Penampilan tukang parkir memang sangar. Dia tegas dan keras, tetapi jujur. Tukang parkir selalu berteriak keras dan tegas kepada siapapun, bahkan terhadap pimpinannya sendiri. Dia selalu berkata dan berbuat jujur demi keselamatan dan kenyamanan pengemudi.
“Kalau dia bilang kiri harus ke kiri. Dia bilang stop harus stop. Kalo tidak dia akan teriak keras dan tegas dengan memukul body mobil atau mengomel tanpa beban kepada pengemudi. Tetapi hasil akhir aman dan menyenangkan,” paparnya.
Karena itu, setiap orang yang ingin sukses dan dikenang banyak orang harus memiliki karakter tukang pakir atau belajar dari tukang parkir. Dia tegas, keras dan jujur atau kebaikan dan kepuasan bersama. Tegas, keras dan jujur ibarat tiga batu tungku yang menopang kehidupan seseorang. Saling menopang dan mendukung dalam meniti roda kehidupan dan jenjang karir. Sebab tiga batu tungku itu akan melahirkan sosok pemimpin yang tidak saja tegas, keras dan jujur, tetapi sosok pemimpin yang melayani (servant leadership). Seorang pemimpin yang melayani selalu menerapkan filosofi orang Latin, “Fortiter in re suaviter in modo(Tegas dalam prinsip namun lembut dalam cara).
Rasanya halaman media ini tidak cukup menampung dan memotret rekam jejak Orias Petrus Moedak dalam meniti roda kehidupan dan jenjang karirnya yang inspiratif. Mengisahkan kesuksesan dan pencapaian hidup seseorang, apalagi tokoh lokal sesungguhnya bukan sekedar basi-basi atau kultus individu. Orang-orang NTT yang sukses dalam berbagai bidang harus menjadi inspirasi bagi anak-anak NTT lainnya supaya tidak berkecil hati dengan label NTT sebagai Provinsi termiskin, tertinggal dan keterbelakang dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Sejauh ini anak-anak kita hanya mengelus, mengagumi dan meniru tokoh-tokoh sukses di seberang lautan yang secara budaya berbeda jauh dari budaya orang NTT. ***






