Kampiunnews|Jakarta – Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI resmi memegang hak siar Piala Dunia 2026. Nilai lisensi bergengsi tersebut mencapai Rp1,3 triliun yang dibayarkan oleh Kementerian Keuangan langsung kepada FIFA. Sementara itu, anggaran produksi siaran sepanjang turnamen yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 akan dibebankan sepenuhnya pada APBN TVRI.
Hak siar ini disebut-sebut sebagai “hadiah dari Presiden Prabowo Subianto” agar sekitar 285 juta penduduk Indonesia dapat menyaksikan 104 pertandingan dari 48 negara secara gratis. Paket siaran dari FIFA dilaporkan sudah sangat lengkap, mencakup English commentary, tayangan highlights, hingga film dokumenter sejarah Piala Dunia. TVRI hanya tidak mendapatkan akses untuk mengambil gambar dari ruang ganti tim.
Meskipun demikian, langkah ini memicu catatan dari parlemen. Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Putra Nababan, mengingatkan manajemen TVRI agar tidak membawa-bawa nama Presiden jika nantinya performa siaran berjalan tidak optimal. Berdasarkan catatan Kantor Berita Antara sebelumnya, jangkauan siaran TVRI saat ini baru menyentuh 75% wilayah Indonesia, padahal pemerintah menargetkan ketercakupan hingga 100% sampai ke pelosok 38 provinsi.
Dua PR Besar TVRI
Pengamat media sekaligus mantan produser RCTI era 90-an, Erwiantoro yang akrab disapa mBah Coco, menilai terdapat dua pekerjaan rumah (PR) utama yang harus segera diselesaikan TVRI tanpa perlu mengaitkannya dengan nama Kepala Negara.
Pertama, kualitas program. TVRI dituntut menyajikan tayangan menarik yang mampu membuat pemirsa betah begadang. Pembawa acara (host) dan komentator wajib memberikan analisis yang mudah dicerna serta menambah wawasan, bukan sekadar membacakan data di layar.
“FIFA sudah memberikan materi mentah. Tugas TVRI adalah mengembangkannya menjadi tayangan feature berdurasi 5-10 menit di setiap momen drama yang ada. Dulu saya membuat ‘No Gullit No Cry’ saat Ruud Gullit mundur 16 hari sebelum Piala Dunia 1994. Sekarang dengan alat digital, durasi 30 menit pun sudah bisa jadi,” ujar mBah Coco.
Ia mencontohkan potensi drama politik dan olahraga antara Iran vs Amerika Serikat. Timnas Iran diketahui terpaksa bermarkas di Tijuana, Meksiko, akibat adanya pembatasan masuk ke AS. Sejarah pertemuan kedua negara di Piala Dunia Lyon 1998 (2-1) dan Doha 2022 (1-0) dinilai sangat layak dikemas menjadi tayangan feature. Rekam jejak kelolosan 48 negara peserta juga menjadi bahan tayangan yang potensial. Namun, mBah Coco menyayangkan program “Magazine World Cup 2026” belum terlihat hilurnya hingga April 2026.
Kedua, jangkauan siaran. Jika benar daya jangkau TVRI saat ini masih tertahan di angka 75%, maka janji “hadiah gratis untuk seluruh rakyat Indonesia” dipastikan tidak akan terpenuhi sepenuhnya.
Dari segi komersial dan bisnis, mBah Coco juga mencatat adanya kekecewaan dari pihak sponsor. Sejumlah agensi periklanan dilaporkan telah menyiapkan dana sekitar Rp600–700 miliar untuk mengisi slot iklan pada periode Maret-Mei 2026. Namun, slot iklan di TVRI tersebut tidak kunjung muncul sesuai dengan paket kerja sama yang telah direncanakan. (red_tra)






