Kampiunnews | Jakarta – Perjalanan kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda akhirnya memperoleh legitimasi dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebuah pencapaian yang membanggakan bagi bangsa Indonesia.
Awal mula perjuangan ini dimulai dengan pembentukan Tim Nasional Kebaya pada tahun 2022 dengan surat rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi yang dipimpin oleh Lana T. Koentjoro, yang merupakan sosok aktif dalam gerakan Perempuan Indonesia Maju. Ketua Tim Nasional Kebaya Lana T. Koentjoro secara aktif menggandeng organisasi dan komunitas perempuan untuk melakukan audiensi dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kementrian teknis terkait.
Timnas Kebaya bergerak dengan cepat, menyelenggarakan berbagai kegiatan di berbagai daerah, mulai dari Parade Kebaya Nusantara diberbagai daerah di Indonesia dan komunitas diaspora di berbagai negara, Car Free Day berkebaya, Fashion Show Kebaya, hingga Talk Show yang membahas sejarah dan makna kebaya. Tak hanya itu, Timnas Kebaya juga memperjuangkan adanya Hari Kebaya Nasional, yang bertujuan untuk melestarikan Kebaya bagi generasi penerus dan mendapatkan pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Dalam langkah penting, Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 menetapkan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional. Untuk pertama kalinya, Timnas Kebaya Indonesia mengadaka Parade Kebaya Nusantara di Car Free Day Jakarta dan secara bersamaan dilakukan di 7 daerah di Indonesia dalam rangka menyambut Hari Kebaya Nasional. Puncaknya, perayaan Hari Kebaya Nasional di Istora Senayan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana, menandakan dukungan penuh pemerintah terhadap pengakuan kebaya sebagai warisan budaya.
Dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Tim Nasional Kebaya terus berupaya agar kebaya diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Perjuangan komunitas pecinta Kebaya akhirnya terjawab pada sidang ke-19 Session of the Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asuncion, Paraguay, pada Rabu tanggal 4 Desember 2024.
“Kita bersyukur perjuangan bangsa Indonesia akhirnya membuahkan hasil di 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran. Sidang UNESCO secara resmi telah menetapkan Kebaya sebagai warisan budaya dunia. Usulan dari Indonesia itu telah diterima UNESCO sebagai bagian dari daftar Representatif Warisan Budaya Tak Benda,” ujar Lana T. Koentjoro, Ketua Timnas Kebaya, di Jakarta.
Lana menjelaskan bahwa Kebaya diajukan secara bersama oleh beberapa negara, termasuk Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Kebanggaan terpancar dari wajah Ketua Timnas Kebaya setelah mengetahui bahwa Kebaya telah sah terdaftar di UNESCO, setelah melalui perjuangan panjang yang melibatkan banyak pihak. Dengan ditetapkannya kebaya di UNESCO, dua agenda besar Timnas Kebaya dan komunitas pecinta Kebaya telah berhasil diselesaikan. “Pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana kita menggerakkan generasi muda agar mereka mau mencintai dan melestarikan budaya leluhur kita,” pungkas Lana.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa upaya pengajuan bersama ini mencerminkan semangat kerja sama dan persatuan negara-negara Asia Tenggara dalam melestarikan warisan budaya bersama. Ia menegaskan bahwa kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan simbol identitas budaya Asia Tenggara. “Kita harus bangga dan mengenakan Kebaya dalam berbagai kesempatan sebagai wujud pelestarian budaya,” tambah Fadli.
Saat ini, Kebaya telah dipentaskan dalam desain kontemporer di berbagai ajang, termasuk pemilihan putri kecantikan. Status Kebaya sebagai warisan budaya dunia diharapkan dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk melestarikan Warisan Budaya Tak Benda. “Penetapan kebaya oleh UNESCO semoga dapat meningkatkan kesadaran global akan pentingnya pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, karena kebaya bukan hanya simbol budaya, tetapi juga elemen pemersatu yang melampaui batas etnis, agama, dan negara,” ungkap Fadli.
Fadli juga menambahkan bahwa Kebaya dapat memperkuat dialog antarbudaya, mempromosikan perdamaian, dan mendorong penghormatan terhadap keragaman budaya. Dalam proses nominasi ini, negara-negara pengusul menekankan peran Kebaya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Dia berharap penetapan ini dapat berkontribusi pada kesejahteraan rakyat, pengembangan ekonomi inklusif, dan pengurangan kemiskinan. Fadli juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam proses nominasi tersebut.
Dengan pengakuan ini, masa depan Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda semakin cerah, dan harapan untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang kita semakin dekat.






