Di bawah terang cahaya romantik aku memandang rupamu dalam remang-remang malam yang ramah.
Wajahmu yang berbalut senyuman, memanah jiwa renta tak berdaya
Terhipnotis keanggunanmu bertaburan selaksa mimpi.
Gaun malam itu laksana pakaian pesta di pelaminan yang memaksa cahaya segera redup agar kita bisa bercengkrama semalam suntuk.
Ya aku hanyalah angin yang segera melumat cinta yang menempel pada ujung lidahmu meneguk anggur dalam piala yang sama hingga pagi memisahkan.
Juwita tembang desa hadir dalam khayangan. Kuncup yang kian merekah membuat laut menjadi cemburu.
Bayanganmu menyingkap jendela hati usai mimpi basahmu menyeruak pergi bersama embun.
Kepada camar aku mendesah sambil bertanya. Kepada siapa akan kusandarkan kerinduan. Ini bukan goresan kenangan karena aku dan dirimu satu dalam etalase cinta yang sama.
Ini juga bukan senja terakhir kita. Meski badai menerjang, waktu pun tak akan sanggup menghentikan cinta kita.
Kutulis puisi ini dari atas atap rumah tetangga.
Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur,
Kamis 10 Januari 2014.






