Kampiunnews I- Jakarta– Orias Petrus Moedak yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Freeport, kini berniat untuk mengikuti pemilihan gubernur (Pilgub) Nusa Tenggara Timur, pada Pilkada Gubernur 2024.
Keinginan Orias tidak sebatas wanacana. Alumnus Universitas Padjajaran Bandung Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi ini mulai rutin melakukan sosialisasi keliling wilayah NTT. Selain menyampaikan niatnya kepada masyarakat, Orias yang lebih banyak duduk di BUMN ini juga membantu masyarakat yang berkekurangan terutama di wilayah daratan Timor yang selama ini kesulitan air bersih. Untuk mengatasinya Orias membangun puluhan sumur di daratan Timor, Kupang, Sabu, dan Rote.
“Saya punya rencana untuk membantu sumur di wilayah NTT,” ungkap Orias Petrus Moedak yang pernah sempat mengenyam pendidikan di SMA Negeri Garut Jawa Barat.
Keinginan Orias sudah sulit dibendung untuk pulang dan membangun NTT. Empat puluh tahun waktu yang cukup untuk pulang membangun kampung halaman.
Kilas balik Orias Petrus Moedak
Orias merantau keluar NTT sejak Oktober 1984 saat menerima beasiswa dari pemerintah pusat melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) untuk melanjutkan SMA dari SMA
Negeri 1 Kupang ke SMA Negeri 1 Garut. Besaran beasiswa saat itu sebesar Rp. 50.000 sebulan.
Sebelumnya Orias bersekolah di SD Katolik Don Bosko 3 Kupang dan SMP Negeri 2 Kupang. Selesai SMA di Garut, Orias melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, di Bandung, jurusan Akuntansi. Sebagai Akuntan, Orias memulai karir pada bulan Januari 1991 di Kantor Akuntan Santoso Harsokusumo, member of Ernst and Young International.
Sebagai auditor, Orias berpengalaman
melakukan audit umum, audit khusus dan audit investigasi. Orias kemudian bergabung dengan Bahana Group, sebagai Investment Banker di PT Bahana Securities dan Direktur PT Bahana Artha Ventura. Selama di Bahana, Orias menjadi bagian dari beberapa transaksi signifikan seperti Intial Public Offering (IPO, Penawaran Saham Perdana) beberapa BUMN, antara lain, Indosat, Telkom, dan Aneka Tambang serta menjadi bagian dari tim advisor pada Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN) saat krisis ekonomi 1998.
Karir di bidang Keuangan berlanjut saat Orias bergabung dengan BUMN keuangan, Danareksa, sebagai Direktur PT Danareksa Sekuritas, kemudian sebagai Dirut PT Reliance Securities, Tbk.
Empat tahun di Singapura sebagai Managing Director Investment Banking, Head of Indonesia Coverage, Daiwa Capital Markets Singapore, Ltd. Dari Singapura, pada tahun 2014 Orias kembali bergabung dengan BUMN sebagai Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo 2) dan bertugas menyiapkan pendanaan untuk
pembangunan Pelabuhan New Priok.
Pada 2016, Orias diangkat sebagai Direktur Utama Pelindo 3 yang juga membawahi wilayah NTT. Usai menjabat Dirut Pelindo 3 Orias kemudian beralih ke BUMN Pertambangan sebagai Direktur Keuangan PT Bukit Asam, Tbk yang mengelola tambang batubara dengan wilayah tambang terbesar di Sumatera Selatan. Hampir setahun di PTBA Orias diminta bergabung sebagai Direktur Keuangan Inalum untuk mendapatkan
pendanaan akuisisi saham Freeport Indonesia.
Dalam waktu tujuh bulan Orias mendapatkan dana USD 4 Milyar yang diperlukan untuk akuisisi saham Freeport. Selesai akuisisi Freeport, Orias diangkat menjadi Wakil Direktur Utama PT Freeport Indonesia. Sekitar 11 bulan di Freeport Orias
diangkat menjadi Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum atau MIND ID Group, pemegang saham mayoritas perusahaan tambang BUMN, Aneka Tambang, Timah, Bukit Asam,
Inalum dan Freeport Indoensia serta 20% saham Vale Indonesia) sampai dengan akhir Oktober 2021. Saat sebagai Dirut Inalum, Orias juga merangkap sebagai Wakil Komisaris Utama PT Freeport Indonesia sampai tahun 2022. Pada tahun 2023 Orias diangkat sebagai Komisaris
Independen pada PT Rukun Raharja, Tbk perusahaan yang bergerak pada bidang minyak dan gas bumi.
Selain sebagai Direksi, Orias juga menjabat sebagai Komisaris di bebeberapa yang bergerak di berbagai bidang usaha seperti pembiyaan, dan rumah sakit.
Seperti kura-kura di atas pagar, Orias percaya posisi dalam karir adalah karena tangan Tuhan Yang menempatkannya di sana. Tidak ada kura-kura yang bisa naik sendiri ke atas pagar, pasti ada yang menempatkannya di sana.
Di luar hal formal terkait pendidikan dan pekerjaan, dalam masa sekolah Orias juga aktif sebagai Pramuka dan Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia, pernah ikut dalam Jambore Nasional tahun 1981 di Cibubur, Jakarta dan Lomba P3K KSR PMI di Malang pada tahun 1984. Saat kuliah,
Orias ikut cabang olah raga Kempo dan kegiatan Para Navigator. Dari buku saku Pramuka Orias ingat satu prinsip, Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Orias bersama Teman-teman Alumni SMP Negeri 2 Kupang tahun 1983 mendirikan Yayasan Sumur Delapan Tiga yang membantu menyalurkan berkat berupa sumur bor untuk masyarakat di NTT.
Orias tidak segan memperlengkapi diri dengan berbagai kursus terbaik yang diperlukan untuk menunjang pekerjaannya. Misalnya kursus mengenai pelabuhan di Galilea, Israel dan di Antwerp,
Belgia, kemudian kursus mengenai batubara di Oxford, Inggris. Orias juga mengambil kursus singkat terkait pandemi dan ketahanan nasional yang diselenggarakan oleh Galilee International Managemen Institute, Israel.
Dengan bekal pengalaman 40 tahun di rantau, Orias melihat kondisi Nusa Tenggara Timur dan menyatakan siap untuk menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur. Sesuai dengan prisipnya bahwa Tuhan yang menempatkannya di manapun, Orias percaya penuh bahwa bila Tuhan membuka
tidak ada yang bisa menutup dan bila Tuhan menutup tidak ada yang bisa membuka. Pilkada masih lama, saatnya sekarang bagi Orias saling mengenal lebih dekat lagi dengan NTT.
Prinsip bekerjanya tegas, apapun yang dikerjakan selalu dikerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan. Tuhan hanya menghendaki yang terbaik. Jangan bekerja demi keluarga dan
diri sendiri, selalu hati-hati, karena keinginan manusia tidak terbatas, anda bisa berakhir sebagai pencuri.
Mari kita bangun NTT dengan prinsip yang tegas, BERIKAN YANG TERBAIK, JANGAN MENCUR






