Kampiunnews | Kupang – Laga 8 besar (perempat final) Piala Pelajar Suratin U-17 NTT antara PSN Ngada dan Bintang Timur Atambua (BeTA) di Stadion Oepoi Kupang pada Senin (18/11) berakhir dalam suasana yang mengecewakan. Meskipun pertandingan berlangsung ketat dengan skor akhir 1-1 di waktu normal dan dilanjutkan dengan adu penalti, peristiwa yang terjadi setelahnya menjadi sorotan utama.
Drama adu penalti dimulai dengan aksi gemilang dari penjaga gawang BeTA, Alif, yang berhasil menggagalkan dua tendangan dari pemain PSN Ngada. Sementara itu, BeTA menunjukkan ketenangan dan ketepatan, dengan tiga penendang mereka berhasil mencetak gol. Ketegangan semakin meningkat ketika Marco Tilman, penendang keempat BeTA, berhasil mengeksekusi tendangan penalti yang menentukan, membawa timnya unggul 4-1 dan memastikan tempat mereka di semifinal.
Namun, suasana gembira tim BeTA seketika berubah menjadi kekacauan setelah peluit akhir dibunyikan. Oknum official dari PSN Ngada melakukan serangan yang brutal terhadap wasit dan pemain BeTA. Kejadian ini sangat disayangkan, mengingat semangat olahraga seharusnya mendominasi dalam pertandingan seperti ini.

Manajer Bintang Timur Atambua, Fhito Francis, mengecam keras tindakan kekerasan tersebut. Ia menegaskan bahwa insiden ini bukan yang pertama kali terjadi, dan mengungkapkan bahwa timnya telah mengalami perlakuan serupa sebelumnya. Dalam pernyataannya, Fhito mengingatkan bahwa pelatih dan official seharusnya memberikan contoh yang baik bagi pemain muda, bukan malah terlibat dalam tindakan kekerasan. “Pemukulan dan penyerangan seperti ini mencoreng citra sepak bola di NTT dan merugikan perkembangan anak-anak kita,” katanya.
Fhito juga menyoroti bahwa bukan hanya pemain yang menjadi korban, tetapi wasit pun harus mengalami kekerasan yang memaksanya untuk melindungi dirinya di tengah kerumunan. Ia berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan meminta kepada Komisi Disiplin (Komdis) PSSI NTT untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan di lapangan.
Dengan insiden ini, harapan akan semangat sportifitas di kalangan pemain muda perlu ditegakkan. Piala Pelajar Suratin U-17 seharusnya menjadi ajang untuk mengembangkan bakat dan karakter, bukan menjadi tempat kekerasan dan ketidakadilan. Semoga pihak berwenang segera mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah insiden serupa agar dunia sepak bola di NTT bisa terus berkembang dengan positif.






