Kampiunnews | Kupang – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, secara resmi membuka gelaran Liga 4 El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXIII tahun 2024/2025 di Stadion Oepoi Kupang, Senin (3/3/2025). Acara yang berlangsung meriah ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga momentum kolaborasi antara pemerintah, pelaku sepak bola nasional, dan masyarakat dalam membangun NTT yang berdaya saing.
Upacara pembukaan dihadiri oleh sejumlah pejabat strategis, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, Walikota dan Wakil Wali Kota Kupang Christian Widodo dan Serena Francis, Bupati Kupang Yosef Lede, Bupati malaka Stefanus Bria Seran, Bupati dan Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena – Bernadinus Dhey Ngebu termasuk Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI NTT, Ketua KONI NTT, Anggota DPR RI asal NTT, serta delegasi Komite II DPD RI yang tengah melakukan kunjungan kerja di Kupang. Turut hadir tokoh sepak bola nasional seperti Fary Djemi Francis (Ketua Umum Indonesia Football Forever), Albinus Lauren Langga (Direktur Kompetisi PSSI), Rully Nere (eks Timnas Indonesia era 90-an), Yopi Riwoe (asisten pelatih Timnas Garuda Pertiwi), Daniel Boro (mantan pemain BPD Jateng Galatama) dan sejumlah legenda NTT, Laurens Fernadez, Ako Maufa, Mathias Bisinglasi, Anton Kia.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menekankan bahwa ETMC bukan sekadar kompetisi sepak bola, melainkan wahana penggerak ekonomi lokal. “Liga 4 NTT ETMC XXXIII ini adalah bukti nyata sinergi olahraga dan ekonomi. Setiap pertandingan akan menjadi magnet yang menarik ribuan pengunjung, membuka peluang bagi UMKM untuk menjual produk, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Ini adalah kontribusi besar bagi kemajuan NTT,” tegas Gubernur yang akrab disapa “MLL” ini.
Tak lupa, Gubernur menyuntikkan semangat milenial dengan mengajak ribuan penonton berseru “NTT, Lu Pica!” sambil mengacungkan tangan. Sorakan gemuruh membahana di Stadion Oepoi, menegaskan kebanggaan generasi muda NTT terhadap identitas daerah.

ETMC XXXIII tahun ini mengusung konsep “Sepak Bola Membangun Ekonomi Kerakyatan”. Sejumlah stan UMKM disiapkan di sekitar stadion, menjual produk lokal seperti tenun ikat, kopi Flores, jagung bose, hingga kerajinan kayu cendana. Menurut data Dinas Koperasi NTT, gelaran serupa pada 2023 lalu berhasil meningkatkan omzet UMKM selama satu bulan kompetisi.
Ketua Asprov PSSI NTT, Chris Mboeik, menyatakan komitmen fair play. “Kami telah menyiapkan sistem monitoring integritas pertandingan. Kompetisi Liga 4 ini harus menjadi contoh bahwa sepak bola bisa bersih, adil, dan mendidik,” ujarnya. Sementara itu, Ketua KONI NTT, Josef Nai Soi, menyampaikan ambisi besar: “Melalui ETMC, kami ingin membuktikan NTT layak menjadi tuan rumah cabang sepak bola PON 2028. Kami sudah menyiapkan roadmap peningkatan infrastruktur dan SDM.”
Pertandingan Eksibisi: Gubernur vs Masyarakat Gila Bola
Acara puncak pembukaan diisi dengan pertandingan eksibisi antara Tim Ayo Bangun NTT yang diperkuat Gubernur, Wakil Gubernur, dan sejumlah kepala daerah, melawan Tim Masyarakat Gila Bola (Masgibol) NTT. Meski hanya berlangsung 2×15 menit, pertandingan ini sukses memukau penonton. Gol semata wayang dicetak Wakil Gubernur Johni Asadamo melalui solo run dari sudut kiri pertahanan Masgibol NTT. Gubernur Laka Lena tampil sebagai gelandang serang menggunakan nomor punggung idolanya Christian Ronado.
“Ini bukan sekadar hiburan, tapi simbol bahwa pemimpin harus turun langsung, baik dalam olahraga maupun membangun NTT,” ujar Daniel Boro usai pertandingan yang berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Tim Ayo Bangun NTT.
Sebelum menutup acara, Gubernur Laka Lena mengajak seluruh pihak menjaga semangat kebersamaan. “ETMC adalah bukti bahwa sepak bola bisa menjadi bahasa universal yang mempersatukan semua suku dan agama di NTT. Mari kita jadikan ini momentum untuk melangkah lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat!”
Dengan partisipasi 32 klub dari 22 kabupaten/kota, ETMC XXXIII diprediksi akan menyedot lebih dari 200.000 penonton selama kompetisi. Gelaran ini tidak hanya menjadi ajang pencarian bakat, tetapi juga festival kebudayaan dan ekonomi yang mengangkat martabat NTT di peta sepak bola nasional.






