Kampiunnews|Kupang โ Safari politik Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), kembali menyita perhatian publik. Setelah memulai rangkaian kunjungannya di Provinsi Lampung, Jokowi melanjutkan agenda ke Nusa Tenggara Timur (NTT), provinsi yang selama satu dekade masa kepemimpinannya menjadi salah satu daerah dengan intensitas kunjungan presiden terbanyak.
Bagi masyarakat NTT, khususnya Kota Kupang dan Pulau Timor, kehadiran Jokowi bukan sekadar kunjungan tokoh nasional. Banyak warga menyebut kedatangan mantan Presiden RI dua periode itu layaknya “pulang kampung”, mengingat kedekatan emosional yang telah terbangun selama sepuluh tahun kepemimpinannya. Tercatat, Jokowi telah mengunjungi NTT sekitar 20 kali ketika menjabat sebagai Presiden, membawa berbagai program pembangunan strategis yang dinilai memberikan dampak nyata bagi daerah.
Selama masa pemerintahannya, sejumlah Proyek Strategi Nasional (PSN) dibangun di NTT, mulai dari pembangunan bendungan, Pos Lintas Batas Negara (PLBN), pengembangan Bandara Komodo Labuan Bajo, Terminal Multipurpose Labuan Bajo, hingga peningkatan fasilitas bongkar muat di Pelabuhan Tenau Kupang. Berbagai proyek tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi, konektivitas, serta pengembangan sektor pariwisata di wilayah timur Indonesia.
Tak heran jika kedatangannya kali ini disambut dengan antusiasme luar biasa. Ribuan masyarakat dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), hingga Timor Tengah Utara (TTU) rela datang sejak pagi hanya untuk melihat secara langsung sosok yang mereka nilai berjasa dalam pembangunan NTT.
Sejak mendarat di Bandara El Tari Kupang, Jumat (31/7), suasana penyambutan sudah berlangsung meriah. Jokowi yang mengenakan kemeja putih dan topi putih disambut dengan pengalungan kain tenun khas NTT oleh Ketua DPW PSI NTT yang juga Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo. Kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian. Warga yang telah menunggu sejak sebelum pesawat mendarat berusaha mendekat untuk bersalaman, mengabadikan momen melalui swafoto, hingga meneriakkan namanya dengan penuh antusias.
Sepanjang perjalanan menuju kendaraan, Jokowi beberapa kali menghentikan langkah untuk melayani permintaan foto dan menyapa masyarakat. Sambutan hangat tersebut terus terlihat di setiap lokasi yang dikunjunginya.
Sebelum menghadiri sejumlah agenda di Kota Kupang, Jokowi melaksanakan Salat Jumat, kemudian melanjutkan kunjungan ke kawasan Pantai Oesina, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Di lokasi tersebut ia bertemu para petani rumput laut, meninjau aktivitas budidaya, sekaligus menyerahkan bantuan bibit rumput laut kepada kelompok pembudidaya sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi pesisir.
Antusiasme masyarakat semakin terlihat saat Jokowi mengikuti kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan El Tari, Kota Kupang. Ribuan warga memadati kawasan CFD sejak pagi. Banyak di antaranya rela berjalan mengikuti Jokowi dari satu titik ke titik lainnya hanya untuk berjabat tangan atau mendapatkan kesempatan berfoto.
Bahkan berdasarkan pantauan di lapangan, antusiasme warga tidak surut meski Jokowi berpindah lokasi. Masyarakat terus mengiringi langkahnya, termasuk saat menuju area fasilitas umum. Kehadiran Jokowi menjadi magnet yang menyatukan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, kaum muda, hingga orang tua.
“Senang sekali bisa bertemu langsung dengan Pak Jokowi. Selama ini kami hanya melihat beliau di televisi. Beliau banyak membangun NTT, jadi kami ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung,” ungkap salah seorang warga Kota Kupang yang ikut menyambut kedatangan Jokowi.
Warga lainnya mengaku rela datang lebih awal agar bisa mendapatkan posisi terbaik untuk melihat Jokowi dari dekat.
“Kami datang sejak pagi bersama keluarga. Meski harus berdesakan, rasanya terbayar karena bisa bersalaman dan berfoto dengan Pak Jokowi,” ujar seorang warga yang mengikuti kegiatan Car Free Day.
Puncak antusiasme masyarakat terlihat saat Jokowi menghadiri Festival dan Karnaval Gajah di kawasan Pantai LLBK, Sabtu (1/8/2026) sore. Ribuan warga telah memadati lokasi sejak siang hari. Saat Jokowi turun dari kendaraan, sorakan “Pak Jokowi… Pak Jokowi…” menggema dari berbagai penjuru lokasi acara.
Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga menerima penghormatan adat dari sejumlah kerajaan di Pulau Timor. Raja dan tokoh adat dari Kerajaan Amanatun, Malaka, Amanuban, Mollo, Biboki, Bikomi Nilulat, Amfoang, Kupang, dan Amarasi secara simbolis menerima Jokowi sebagai bagian dari keluarga besar mereka.
Para tokoh adat menilai Jokowi memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan NTT selama menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
“Kami menganggap beliau sebagai saudara keluarga karena selama memimpin, banyak pembangunan yang sudah kami rasakan di daerah ini,” ungkap salah satu tokoh adat.
Festival semakin semarak dengan penampilan tarian tradisional khas NTT seperti Tari Caci dari Manggarai, tarian dari Rote Ndao, serta berbagai pertunjukan budaya yang mendapat sambutan meriah dari masyarakat.
Tak hanya menyapa warga, Jokowi juga membagikan kaos kepada masyarakat yang telah menunggu sejak pukul 15.00 WITA. Momen tersebut disambut sorak gembira warga yang berebut menerima suvenir dari mantan Presiden RI itu.
Dalam kunjungan tersebut, Jokowi didampingi Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni, jajaran pengurus DPP PSI, serta Ketua DPW PSI NTT yang juga Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.
Besarnya antusiasme masyarakat selama kunjungan ini menunjukkan bahwa Jokowi masih memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat NTT. Bagi banyak warga, kehadirannya bukan sekadar agenda politik, melainkan momentum untuk kembali bertemu dengan sosok pemimpin yang mereka nilai telah memberikan perhatian besar terhadap pembangunan di provinsi kepulauan tersebut.
Di tengah padatnya agenda kunjungan, sambutan hangat dan antusiasme ribuan masyarakat Kota Kupang menjadi gambaran bahwa hubungan antara Jokowi dan masyarakat NTT masih terjalin erat. Bagi sebagian warga, kedatangannya terasa seperti menyambut seorang anggota keluarga yang kembali pulang, sebuah ikatan emosional yang terbentuk dari jejak pembangunan yang mereka rasakan selama bertahun-tahun.






