Kampiunnews|Jakarta – Perjuangan menjadikan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukan sekadar tentang sebuah pangan tradisional. Di baliknya ada perjuangan perempuan Indonesia untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi keluarga, sekaligus membawa identitas budaya Nusantara ke panggung dunia.
Semangat itulah yang ditunjukkan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) melalui Gerakan Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO. Gerakan ini menjadi ruang konsolidasi perempuan Indonesia untuk memastikan tempe tidak hanya dikenal sebagai makanan, tetapi diakui dunia sebagai warisan pengetahuan, tradisi dan kearifan lokal Indonesia.
Perjuangan tersebut terlihat dalam Fun Walk Gerakan Nasional Tempe Goes to UNESCO yang digelar di halaman Kantor KOWANI, Jalan Imam Bonjol No. 58, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026).
Ratusan perempuan dari berbagai organisasi anggota KOWANI turun bersama. Mengenakan kebaya dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, mereka berjalan mengitari Bundaran Hotel Indonesia. Langkah tersebut menjadi simbol bahwa perempuan Indonesia berada di garis depan dalam menjaga budaya sekaligus memperjuangkan masa depan pangan nasional.
Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, menegaskan bahwa gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO merupakan bagian dari empat gerakan besar KOWANI menuju usia 100 tahun pada 2028.
Menurut Nannie, tempe memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar pangan. Ekosistem tempe menghubungkan petani, penyedia bahan baku, perajin, UMKM, industri pengolahan hingga konsumen.
“Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujar Nannie.
Karena itu, perjuangan mengangkat tempe ke tingkat dunia juga harus dibarengi dengan pemberdayaan perempuan. Inovasi tempe berbasis kedelai, sorgum maupun aneka kacang-kacangan dapat menciptakan produk baru, memperluas pasar dan membuka peluang usaha bagi perempuan.
Bagi KOWANI, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan pangan. Perempuan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga berperan sebagai pengelola pangan keluarga, petani, pelaku UMKM, pengolah produk hingga penggerak ekonomi.
Data Kementerian Koordinator Bidang Pangan menunjukkan perempuan mencakup 41,7 persen tenaga kerja pertanian. Lebih dari 30 persen perempuan terlibat dalam pengelolaan lahan pertanian dan pekarangan, sementara lebih dari 60 persen berperan dalam penyediaan pangan keluarga.
“Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan pangan tersedia, ketahanan pangan adalah memastikan setiap keluarga memperoleh pangan yang sehat, bergizi, aman, terjangkau, dan berkelanjutan,” kata Nannie.
Pandangan tersebut mendapat dukungan organisasi-organisasi perempuan anggota KOWANI yang melihat gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO sebagai perjuangan bersama.
Bendahara Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM), Anna Naomi Silitonga, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menilai perempuan dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga tempe sebagai warisan budaya sekaligus mengembangkan potensinya sebagai produk ekonomi.
Menurut Anna, tempe memiliki nilai budaya, kesehatan dan ekonomi yang saling berkaitan. Karena itu, perjuangan menuju UNESCO harus dibarengi dengan upaya memastikan pengetahuan dan keterampilan membuat tempe tetap hidup di tengah masyarakat dan diwariskan kepada generasi muda.
“Tempe bukan hanya warisan masa lalu. Tempe juga bisa menjadi kekuatan ekonomi perempuan dan keluarga apabila terus dikembangkan dengan inovasi serta akses pasar yang lebih luas,” ujar Anna.
Ia menilai semakin dikenalnya tempe di berbagai negara menjadi momentum bagi Indonesia untuk bergerak lebih cepat dalam memperkuat identitas dan tradisi yang melekat pada pangan tersebut.
PIM: Jangan Biarkan Tempe Kehilangan Identitas Indonesia
Dukungan serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Perempuan Indnoesia Maju(PIM), Yusnida, yang menegaskan pentingnya gerakan bersama perempuan Indonesia agar tempe tidak kehilangan akar budayanya ketika semakin dikenal secara global.
Menurut Yusnidah, pengakuan UNESCO bukan sekadar simbol internasional, tetapi harus menjadi momentum untuk menjaga pengetahuan, keterampilan dan tradisi pembuatan tempe agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Kalau kita tidak bergerak cepat, sementara tempe semakin dikenal di berbagai negara, kita bisa tertinggal. Karena itu, tempe perlu terus kita dukung menuju UNESCO,” tegas Yusnidah.
Ia menambahkan, tempe juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan UMKM perempuan. Dengan inovasi, peningkatan kualitas dan perluasan akses pasar, tempe dapat berkembang menjadi berbagai produk bernilai tambah sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga.
“Tempe kita harapkan menjadi tempe yang diakui dunia sebagai kearifan lokal dan menjadi warisan budaya takbenda oleh UNESCO,” ujar Waketum PIM Bidang Ekonomi Yusnidah.
KOWANI tidak berhenti pada kampanye budaya. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Gerakan Pangan Murah turut dihadirkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keterjangkauan pangan dan stabilitas pasokan.
Pameran koperasi dan UMKM serta business matching juga membuka ruang bagi pelaku usaha, khususnya perempuan, untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring dan memperluas peluang kerja sama.
Sementara pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi gizi dan pencegahan stunting memperkuat pesan bahwa ketahanan keluarga harus dibangun secara menyeluruh melalui pangan yang cukup dan terjangkau, kesehatan, pendidikan serta kemandirian ekonomi.
Pembagian bibit pohon produktif juga membawa pesan bahwa gerakan ketahanan pangan harus berjalan bersama kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
Gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO merupakan salah satu dari empat agenda besar KOWANI menuju satu abad KOWANI.
Empat ocala tersebut meliputi Kick-Off Festival Panen Raya KOWANI untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, KOWANI Car Free Day melalui Fun Walk Gerakan Nasional Tempe Goes to UNESCO, Pengembangan Pamong Pramuka KOWANI sebagai ocala kaderisasi dan pembentukan karakter pada 14 Agustus 2026, serta transformasi digital melalui laman resmi dan portal Ruang Perempuan.
Keempat ocala itu memperlihatkan arah perjuangan KOWANI yang semakin luas: perempuan tidak hanya berbicara tentang pemberdayaan, tetapi hadir dan bergerak dalam isu pangan, budaya, ekonomi, ocalaan karakter dan transformasi digital.
Bagi KOWANI, Tempe Indonesia Goes to UNESCO adalah perjuangan perempuan Indonesia untuk menjaga identitas bangsa sekaligus menciptakan masa depan yang lebih kuat bagi keluarga dan masyarakat.
Dari tangan perempuan, tempe dijaga sebagai warisan. Dari ocala perempuan, tempe dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Dan melalui KOWANI ocala organisasi-organisasi perempuan Indonesia, tempe didorong melangkah dari dapur Nusantara menuju pengakuan dunia.
Dari pangan ocal, perempuan bergerak membangun ketahanan nasional. Dari tempe, Indonesia memperjuangkan identitas budayanya di panggung dunia.






