Kampiunnews|Alor – Suara seorang mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Adriano Padama, yang menyampaikan keluhan tentang mahalnya harga beras di daerah asalnya, akhirnya berujung pada aksi nyata pemerintah.
Adriano sebelumnya viral setelah secara spontan menyela sesi dialog bersama Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman. Dengan suara bergetar dan penuh haru, mahasiswa asal Alor tersebut menyampaikan kondisi sulit yang dihadapi masyarakat di daerah kepulauan akibat tingginya harga beras dan persoalan distribusi pangan.
Di hadapan Menteri Pertanian dan ribuan mahasiswa, Adriano mengungkapkan bahwa harga beras di wilayah perkotaan Alor berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Sementara di wilayah pedalaman, harganya dapat mencapai Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
Bahkan, kondisi cuaca buruk yang menghambat distribusi membuat harga beras dapat melonjak hingga Rp25.000 bahkan Rp30.000 per kilogram.
“Kalau di wilayah perkotaan harganya sekitar Rp13.000 sampai Rp15.000 per kilogram. Tapi, di pedalaman bisa Rp17.000 sampai Rp18.000. Saat terjadi hujan, jadi susah kirim beras. Harganya bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram,” ujar Adriano.
Persoalan tersebut disampaikan Adriano sebagai gambaran kondisi yang dirasakan masyarakat Alor yang berjumlah sekitar 300 ribu jiwa. Aspirasi tersebut mendapat respons langsung dari Amran.
Mendengar keluhan tersebut, Amran langsung mengambil langkah konkret. Di hadapan peserta dialog, ia menghubungi Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani untuk memastikan ketersediaan beras di Alor.
Amran meminta Bulog segera mengirimkan pasokan beras sekaligus menyiapkan langkah untuk memperkuat distribusi pangan di wilayah tersebut.
“Pak Dirut, itu Kabupaten Alor, ada gak gudang di sana? Bangun satu gudang sana ya. Kirim utusannya, kirim beras di sana dulu hari ini. Saudara kita 300 ribu jiwa ini butuh beras murah. Kita kirim hari ini,” kata Amran melalui sambungan telepon.
Tak hanya merespons persoalan pangan, Amran juga memberikan perhatian kepada Adriano yang diketahui merupakan mahasiswa perantau dan tinggal di rumah kos selama menempuh pendidikan di Undip.
Amran bahkan menyatakan akan menanggung biaya tempat tinggal Adriano selama dua tahun masa perkuliahan.
“Ini kos-kosanmu dua tahun ya, Nak. Kamu monitor saja harga beras, nanti lapor sama saya lagi,” ujar Amran kepada Adriano.
Respons tersebut kemudian diwujudkan melalui kunjungan langsung pemerintah ke Kabupaten Alor untuk memastikan bantuan pangan dan pasokan beras benar-benar diterima masyarakat.
Bulog Salurkan Bantuan Pangan untuk 37.338 Penerima
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan penyaluran bantuan pangan perdana di Kabupaten Alor merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin akses pangan bagi masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah kepulauan.
Rizal turut mendampingi Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam penyaluran bantuan pangan di Alor.
“Hari ini kami datang langsung ke Alor untuk memastikan bantuan pangan pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat. Ini bukan hanya soal menyalurkan beras, tetapi memastikan kehadiran negara dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Rizal.
Bantuan pangan yang disalurkan di Kabupaten Alor merupakan alokasi untuk tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September. Program tersebut mencakup 37.338 Penerima Bantuan Pangan (PBP).
Setiap keluarga penerima akan mendapatkan total 30 kilogram beras untuk alokasi tiga bulan.
“Bantuan yang disalurkan merupakan alokasi untuk tiga bulan, jadi nanti masing-masing keluarga akan mendapatkan 30 kilogram beras,” ujar Rizal.
Rizal mengakui kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam pendistribusian pangan. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bulog dan seluruh pemangku kepentingan agar bantuan pangan dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah pelosok.
Menurutnya, keterbatasan geografis tidak boleh menjadi alasan masyarakat kehilangan hak untuk memperoleh akses pangan.
“Bagi Bulog tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani. Alor adalah bagian dari Indonesia, dan masyarakatnya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian serta akses pangan. Kami akan terus memastikan pangan hadir sampai ke masyarakat,” tegas Rizal.
Penyaluran bantuan juga dilakukan hingga tingkat desa. Beberapa wilayah yang menerima bantuan antara lain Desa Fuisama dengan 66 PBP, Desa Probur sebanyak 513 PBP, dan Desa Lembur Barat sebanyak 222 PBP.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menyalurkan bantuan di pusat wilayah, tetapi juga berupaya memastikan bantuan pangan menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan, bantuan pangan merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Amran, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan Bulog menjadi kunci agar bantuan pangan dapat disalurkan secara efektif, tepat sasaran dan tepat waktu.
“Kita ingin memastikan negara hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui aksi nyata,” kata Amran.
Ia menegaskan pemerintah bersama Bulog akan terus memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, termasuk masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan seperti Alor.
Amran juga memastikan masyarakat tidak boleh merasa jauh dari perhatian pemerintah hanya karena tinggal di wilayah kepulauan atau pelosok.
“Hari ini kami datang langsung ke Alor untuk memastikan bantuan pangan benar-benar sampai dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dari keberanian seorang mahasiswa menyampaikan keluhan tentang mahalnya harga beras, pemerintah kemudian mengambil langkah cepat dengan menggerakkan Bulog dan turun langsung ke Alor. Penyaluran bantuan pangan untuk puluhan ribu penerima menjadi bukti bahwa aspirasi masyarakat dapat menjadi pemicu lahirnya kebijakan dan tindakan konkret di lapangan.
Kehadiran pemerintah dan Bulog di Alor diharapkan tidak hanya mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat sistem distribusi pangan di wilayah kepulauan agar persoalan harga dan pasokan dapat ditangani secara berkelanjutan.






