Kampiunnews|Jakarta โ Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung optimistis perekonomian Indonesia mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026 meski dihadapkan pada tantangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Pemerintah juga memastikan pengelolaan fiskal tetap dijalankan secara kredibel, disiplin, dan prudent untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Juda Agung dalam wawancara pada program Top Economy Metro TV, yang membahas prospek ekonomi Indonesia, kondisi APBN, hingga arah kebijakan fiskal menjelang penyusunan RAPBN Tahun Anggaran 2027.
Menurut Juda, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diperkirakan masih berada di atas 5 persen. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan I, aktivitas ekonomi nasional tetap menunjukkan tren positif yang didukung oleh meningkatnya sektor produksi dan investasi.
“Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik. PMI sudah menunjukkan ekspansi, sementara impor barang modal dan bahan baku meningkat, yang menandakan aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh,” ujar Juda Agung.
Pemerintah pun tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 pada kisaran 5,6 hingga 6,0 persen dapat dicapai. Berbagai stimulus ekonomi yang digulirkan pada semester II, terutama untuk sektor manufaktur dan industri otomotif, diyakini mampu memperkuat kinerja perekonomian nasional.
Selain itu, daya beli masyarakat dinilai masih terjaga. Juda menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi pada Juli 2026 bukan disebabkan melemahnya permintaan masyarakat, melainkan dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti bawang merah dan emas.
“Kalau dilihat data kemarin, deflasi itu lebih banyak disebabkan oleh penurunan harga pangan, khususnya bawang merah, dan juga harga emas yang turun. Ini tidak mengindikasikan bahwa permintaan masyarakat melemah, apalagi PMI juga mengalami kenaikan,” jelasnya.
Di sisi fiskal, Juda menegaskan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester pertama 2026 tetap berada dalam kondisi yang sehat. Penerimaan negara tumbuh signifikan, diikuti peningkatan belanja negara yang tetap terukur sehingga mampu menjaga ruang fiskal pemerintah.
“Dari sisi penerimaan negara ada kenaikan sekitar 24 persen. Hal ini membuka ruang fiskal sehingga belanja negara juga dapat tumbuh sekitar 17 persen. Sementara defisit APBN hingga Juni 2026 masih berada di level 0,76 persen terhadap PDB, yang menunjukkan fiskal Indonesia tetap terjaga dan dikelola secara prudent,” ungkapnya.
Menurut Juda Agung, disiplin dalam pengelolaan fiskal menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat kepercayaan investor terhadap Indonesia. Hal tersebut tercermin dari tetap terjaganya peringkat kredit Indonesia di tingkat internasional serta tingginya minat investor terhadap surat berharga negara dan instrumen pembiayaan pemerintah.
“Artinya kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi tetap terkendali, fiskal sehat, dan ekonomi mampu tumbuh di atas 5 persen. Inilah yang menjadi fondasi kepercayaan investor terhadap Indonesia,” tambahnya.
Menjelang penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2027, Juda Agung menegaskan bahwa pemerintah akan tetap menjadikan APBN sebagai instrumen utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal nasional.
Ia menjelaskan, kebijakan fiskal pada 2027 akan tetap bersifat ekspansif guna memperkuat investasi, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga daya beli masyarakat, namun tetap dilakukan secara terukur dengan defisit yang semakin terkendali.
“Intinya, pada tahun 2027 kita tetap melakukan ekspansi fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi dengan pengelolaan yang terukur dan tetap menjaga kesehatan APBN,” pungkas Juda Agung.






